
Tebuireng.online- Pesantren Tebuireng secara resmi menutup seluruh rangkaian agenda Masa Orientasi Santri Baru (MOSBA) 2026. Penutupan ini ditandai dengan prosesi pengukuhan yang berlangsung khidmat di Serambi Masjid Utama Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Selasa (07/07/2026). Momentum ini menjadi simbol dimulainya perjalanan spiritual dan akademik para santri di tanah jembatan ilmu Tebuireng.
Acara sakral ini dihadiri langsung oleh Mudir III Bidang Pondok dan Diniyah, H. Lukman Hakim, beserta jajaran kepala pondok, wakil kepala pondok, para koordinator unit, panitia pelaksana, serta 650 santri baru yang telah dinyatakan lulus mengikuti orientasi sejak hari pertama.
Mengawali jalannya penutupan, Kepala Pondok Pesantren Tebuireng, Ustadz Syifaul Fu’ad, menitipkan pesan mendalam mengenai urgensi menata niat dalam mencari ilmu. Menurutnya, niat yang bersih tidak boleh hanya berhenti di lisan, melainkan harus dibuktikan lewat kesungguhan, ketahanan mental, serta kedisiplinan dalam mengikuti rutinitas asrama.
“Perbaruilah niat setiap hari. Niat yang kuat akan menjadi penguat semangat dalam menuntut ilmu serta mengantarkan kita memperoleh ilmu yang bermanfaat dan penuh keberkahan,” tutur Ustadz Syifaul Fu’ad, Selasa.
Biar para santri baru tidak merasa asing di lingkungan barunya, Wakil Kepala Pondok, Ustadz Umar Abdul Aziz, memperkenalkan satu per satu jajaran pengurus dan struktur kepengasuhan. Langkah ini dilakukan agar para santri tahu ke mana harus berkomunikasi dan siapa pembimbing yang bakal menemani serta menjaga mereka selama 24 jam di pondok.
Sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras peserta, panitia juga membagikan penghargaan untuk kategori kelompok teraktif, kelompok terkompak, serta peserta terbaik selama MOSBA bergulir. Apresiasi ini disodorkan untuk melecut semangat kompetisi yang sehat sejak dini.
Memasuki puncak acara, Mudir III Bidang Pondok dan Diniyah, H. Lukman Hakim, memimpin langsung prosesi pengukuhan ratusan santri baru menjadi bagian dari keluarga besar Pesantren Tebuireng. Dalam arahannya, ia menggarisbawahi bahwa kunci utama terserapnya ilmu pesantren terletak pada kekuatan adab kepada guru dan seluruh pengajar.
H. Lukman Hakim mengingatkan bahwa para ustadz, kiai, dan pembina di pondok adalah pengganti sah orang tua kandung para santri selama merantau di Jombang. Oleh karena itu, sikap ta’dzim (hormat) mutlak wajib dijaga sebagai jembatan spiritual demi meraih ilmu yang berkah. Selain itu, ia juga mengajak santri menjaga reputasi besar Tebuireng dengan patuh pada hukum yang berlaku.
Rangkaian upacara penutupan MOSBA 2026 ini akhirnya dipungkasi dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Slamet Habib. Melalui pengukuhan ini, generasi baru Tebuireng diharapkan bisa langsung beradaptasi secara mandiri, memiliki ketahanan moral yang kuat, serta siap mengabdi untuk agama dan masyarakat di masa depan.
Pewarta: Fatih
Editor: Sutan


















