Tebuireng dan Warisan Keikhlasan

82
Gus Faiz Syukron Makmun saat menyampaikan ceramah dalam acara Wisuda tingkat SD dan SLTP Yayasan KH Hasyim Asy’ari Tebuireng (foto: bakhit)

Oleh: KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun*

Para kiai terdahulu tidak hanya mendidik santri agar pandai membaca kitab, tetapi juga agar mampu membaca kehidupan. Sebab mereka memahami bahwa pesantren bukan sekadar tempat mencetak ahli agama, melainkan tempat menempa manusia agar memiliki hati yang hidup, akhlak yang kuat, dan keberanian untuk mengabdi kepada masyarakat.

Tadi pagi saya menghadiri acara Wisuda Santri dari beberapa unit pendidikan yang ada di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Ini merupakan kali ketiga saya mendapat kehormatan untuk memberikan ceramah di sana.

Baca Juga: Fitrah Manusia dan Tantangan Menjaga Persatuan

Setiap kali hadir di Tebuireng, pesantren yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama, selalu tampak kokoh seperti pohon tua yang akarnya menghunjam dalam ke bumi, sementara dahannya terus menaungi banyak generasi. Saya meyakini bahwa keberadaan pesantren yang telah berusia lebih dari satu abad ini bukan semata karena bangunannya, bukan pula karena besarnya nama, melainkan karena keberkahan ilmu, keikhlasan, dan akhlak para pendirinya yang terus hidup hingga hari ini.

Para ulama dahulu membangun pesantren bukan dengan ambisi kemasyhuran, melainkan dengan air mata munajat dan pengorbanan hidup. Mereka mengajar dalam kesederhanaan, mendidik dengan kasih sayang, serta menanamkan ilmu bukan sekadar ke kepala santri, tetapi juga ke dalam hati mereka.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Para kiai terdahulu tidak hanya mendidik santri agar pandai membaca kitab, tetapi juga agar mampu membaca kehidupan. Sebab mereka memahami bahwa pesantren bukan sekadar tempat mencetak ahli agama, melainkan tempat menempa manusia agar memiliki hati yang hidup, akhlak yang kuat, dan keberanian untuk mengabdi kepada masyarakat.

Di setiap kesempatan, para guru mengajarkan kepada santri bahwa ilmu agama yang sejati tidak boleh membuat seseorang jauh dari persoalan umat. Santri tidak cukup hanya fasih berbicara tentang halal dan haram, tetapi juga harus peka terhadap penderitaan manusia, menghormati perbedaan, mencintai tanah air, dan mampu menghadirkan manfaat di tengah masyarakat. Karena itulah pesantren sejati bukan hanya melahirkan ahli ibadah, tetapi juga pendidik, pejuang, pemikir, petani, pemimpin, dan pelayan umat.

Baca Juga: Menjaga Warisan Sanad

Dalam pandangan para sufi, tempat yang dibangun dengan keikhlasan akan dijaga oleh keberkahan. Sebab sesuatu yang lahir karena Allah memiliki cahaya yang tidak mudah dipadamkan oleh waktu. Barangkali itulah sebabnya banyak orang merasakan keteduhan ketika memasuki lingkungan pesantren tua. Ada jejak doa orang-orang saleh yang masih tinggal di sana. Ada ruh pengabdian yang terus mengalir dari generasi ke generasi.

Mungkin inilah rahasia mengapa Tebuireng tetap kokoh hingga hari ini. Karena yang menjaganya bukan hanya manusia, tetapi juga keberkahan dari ilmu yang diamalkan, doa-doa para guru yang tulus, serta akhlak mulia para pendiri yang mewariskan cinta kepada Allah dan kasih sayang kepada umat. Sebuah warisan ruhani yang tidak lapuk dimakan zaman.

Baca Juga: Santri, Ulama, dan Kemerdekaan



*Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta