Perjalanan Hidup Anak Adam

1025
(Sumber ilustrasi: www.mimbar-rakyat.com)

Oleh: Yayan Musthofa*

Manusia dilahirkan dari perut ibunya tanpa mengerti apapun, satu halpun, sedikit pun. Namun, Allah membekalinya dengan tiga piranti penting dalam hidup, yakni al-sam’u (pendengaran), al-abshār (pengelihatan), dan afidah (hati). (QS. al-Nahl: 78) Ketiga piranti inilah yang akan membimbing manusia untuk melakukan muhāsabah (refleksi) terhadap pola pikir, pertimbangan, dan tatsabbut (pemantapan) langkah dalam menjalani hidup di “kehidupan kedua” ini.

“Kehidupan kedua” –meminjam istilah al Allamah as Sayyid Abdullah al Haddad dalam karyanya, Sabīl al-Iddikār wa al-I’tibār bimā Yamurru bi al Insān wa Yanqadli lahu min al A’mār adalah kehidupan anak Adam di dunia ini. Sedangkan “kehidupan pertama” adalah fase kehidupan mereka di alam ruh, alam kandungan.

Mungkin kita sebagai anak-cucu Nabi Adam as. sudah lupa atau bahkan tidak tahu apa pun tentang fase “kehidupan pertama.” Jangankan dalam “kehidupan pertama,” bahkan masa bayi dari “kehidupan kedua” ini sudah tidak tahu, waktu itu bagaimana kita menjalaninya, lā ta’lamūna syaian.

Akan tetapi “ketidaktahuan” ini tidak bisa dijadikan alasan di hadapan Allah kelak pada “kehidupan keempat,” yakni pada hari pembalasan ketika manusia dikumpulkan di padang mahsyar. Setting “kehidupan keempat” tidak seperti “kehidupan kedua” yang mempunyai takhyīr (pilihan) untuk bersenang-senang dan acuh akan fase kehidupan berikutnya, atau menyiapkan bekal sebanyak mungkin untuk fase berikutnya. “Kehidupan keempat” hanya punya dua konsekuensi logis dari “kehidupan kedua,” merasa tersiksa dan berharap agar lekas menuju “kehidupan kelima” (neraka atau surga), atau merasa ridha dengan kehendakNya sampai datang pada “kehidupan kelima.”

Tamanni (harapan semu) kita sebagai anak-cucu Adam adalah lupa atau dilupakan dengan “kehidupan kedua” ketika kita memasuki fase “kehidupan ketiga” (alam barzakh), “keempat” (di padang mahsyar, shirāth al-mustaqīm, dan mīzān), dan “kelima” (surga atau neraka). Seperti halnya kita sekarang hidup pada “fase kedua” telah lupa atau dilupakan tentang fase “kehidupan pertama” dulu.

Perlu untuk digarisbawahi, bahwa alasan “ketidaktahuan” manusia tentang fase “kehidupan pertama” telah disinggung Allah melalai Al Quran dengan perantara Nabi-Nya Muhammad SAW. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah manusia sudah menggunakan fuad (hatinya), sam’ (pendengarannya), dan bashar (pengelihatannya)? Kehidupan kita pada “fase kedua” ini adalah konsekuensi logis dari pernyataan kita dalam “fase pertama”, qālū balā syahidnā an taqūlū yaum al-qiyāmah.

Untuk menghapus keraguan tentang alur perjalanan hidup anak-cucu Adam dari “pertama” sampai “kelima”, dalam “fase kedua” kita sudah disindir Allah melalui firman-Nya:

  Sulūk

“Wahai sekalian manusia! Jika kamu masih ragu-ragu tentang Hari Kebangkitan, maka ingatlah bahwa Kami telah menciptakan kamu dari sari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang telah sempurna dan yang masih belum berbentuk, agar Kami jelaskan hal itu kepadamu, dan Kami menetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang ditetapkan…” (Q.S. 22:5)

FirmanNya lagi:

“… Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian kamu menjadi dewasa, sebagian kamu ada yang diwafatkan (dalam usia wajar) dan sebagian ada yang dibiarkan sampai ke usia yang amat lanjut, sehingga tiada lagi mengetahui apa-apa yang dahulu diketahuinya…” (Q.S. 22:5)

Dari ayat di atas, manusia diberikan informasi sekelumit tentang kehidupan pertama, kedua, dan seterusnya. Bahwa yang hidup di fase kedua akan masuk pada fase berikutnya, fase ketiga atau alam barzakh. Tinggal fuad manusia itu mau menerima kebenaran yang disampaikan Al Quran atau mengingkarinya.

Manusia yang beriman, dengan semua piranti kemanusiaan yang dianugerahkan oleh Allah (al-sam’u, al-abshār, dan fuad), akan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan fase berikutnya yang tidak lagi mempunyai takhyīr (pilihan) seperti dalam fase kedua ini. Fase berikutnya hanya dua konsekuensi logis, siksa dan nikmat. Semoga kita dikumpulkan dengan golongan mereka yang diberi nikmat oleh Allah SWT. Amin ya rabbal ‘alamin!


*Alumnus Pesantren al Amin Mojokerto dan Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng. Kini aktif di Unit Penerbitan Pesantren Tebuireng.

*Artikel ini disarikan dari buku terjemahan “Renungan tentang Umur Manusia”