Judul                     : Beyond Authentic Happiness: Menciptakan Kebahagiaan Sempurna dengan Psikologi Positif  

Penulis                    : Martin Seligman

No. ISBN                 : 9786027870307

Penerbit                  : Kaifa

Tanggal Terbit       : Desember-2013

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tebal                       : 432 halaman

Resensor                : Riefky Rachman*

Dewasa ini begitu banyak orang yang mudah sekali mengalami depresi. Baik karena persoalan belum mampu mewujudkan karier, prestasi, pangkat, dll. Bahkan, tak sedikit orang yang mengorbankan dirinya dalam seutas tali di tiang gantungan. Sesungguhnya, perbuatan yang demikian merupakan salah satu akibat dari pergeseran nilai kebahagiaan. Bagaiamanapun juga manusia harus mampu mengendalikan dirinya supaya tegar dalam mensikapi segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupannya.

Martin Seligman, dalam buku “Beyond Authentic Happiness” ini, menjelaskan tentang berbagai tips dan trik untuk meraih kebahagiaan. Dimulai dengan arti kesejahteraan dan unsur-unsur yang memenuhi nilai kesejahteraan. Pada awalnya, topik utama psikologi positif terkait dengan masalah nilai kesejahteraan untuk kemakmuran. Martin membagi informasi tentang keberadaaan kebahagiaan autentik untuk menaikan kepuasan dalam hidup.

Penulis mencontohkan, ketika seorang istri yang selalu merasa tidak puas akan ekonomi keluarganya, sehingga acapkali menyalahkan suaminya. Semestinya seorang istri tidak menuntut berlebihan manakala suami sudah berjuang keras mencarikan nafkah suami. Hal inilah yang jarang disadari oleh kebanyakan orang, utamanya kaum perempuan dalam institusi keluarga. Kemudian berimbas pada keharmonisan keluarga. Ironisnya, anak-anak yang lantas harus menjadi korban. Pendidikan anak menjadi terbengkalai, dan mentalnya menjadi rusak melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Bahkan, bisa menyebabkan luka traumatik yang membekas bisa hingga ia dewasa.

Martin Seligman dalam buku ini juga memperkenalkan teori baru, yakni teori pertumbuhan. Sebuah teori untuk mengubah trauma menjadi pertumbuhan. Trauma cenderung memiliki kesan buruk dan meningkatkan nilai ketakutan diri. Misalnya, kejadian tidak mengenakkan sejak kecil, penyiksaan, melihat sanak saudara meninggal, kecelakaan, perang, hingga perpisahan dengan partner hidup, merupakan hal yang mampu memicu trauma.

Sangat sulit untuk melupakan trauma. Trauma memberikan gejala kesedihan, depresi, kehilangan semangat hidup, bahkan sampai histeris dan berujung adanya kehilangan kewarasan. Namun, Seligman mempelajari trauma untuk meningkatkan sebuah arti kesejahteraan. Pengembangan  positif pasca trauma yang diperkenalkan tidak hanya fokus pada gangguan jiwa.

Menurut Eligman, perlu menceritakan trauma untuk diarahkan supaya trauma terlihat seperti jalan bercabang di mana dua hal yang berlawanan memiliki arti yang sama pentingnya. Kehilangan dan memperoleh sama-sama terjadi. Kerentanan dan kekuatan sama-sama terjadi. Perasaan sedih dan bersyukur sama-sama terjadi. Dari cerita itu bisa dilihat secara detail kekuatan personal apa yang bisa dimunculkan, bagaimana hubungan bisa diperbaiki dengan lebih baik, bagaimana kehidupan spiritual menguatkan hidup itu sendiri disertai dengan penghargaan pada hidup yang lebih baik, dan pintu-pintu baru akan terbuka (hal. 221).

Kesehatan fisik juga merupakan faktor penting dalam menumbuhkan kekuatan psikologi positif. Dalam fisik yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Pernyataan ini terbukti, Seligman pun membuktikan hasil penelitiannya dalam analisa kesehatan positif yang dipengaruhi oleh nilai keoptimisan. Orang optimis mengambil tindakan lebih matang dan memiliki gaya hidup yang lebih sehat.

 Menurut penulis, kesejahteraan dan kebahagiaan dapat mempermainkan kondisi psikologis seorang manusia. Serta berpengaruh kepada sikap dan tindakannya kepada manusia bahkan makhluk lain. Sudah sifat dasar manusia untuk ingin selalu bahagia, dan menghindarkan diri dari stres dan depresi. Oleh karena itu, sebisa mungkin kita banyak berfikir positif dan mampu merubah pengalaman pahit menjadi sebuah pembelajaran yang berharga untuk hidup ke depannya dengan lebih baik lagi.

Kesejahteraan tidak hanya melibatkan perasaan atau nilai kemakmuran. Kesejahteraan itu sendiri dapat diubah salah satunya dengan melakukan hal-hal baik dan adanya psikoterapi positif. Keseimbangan tubuh, baik jasmani maupun rohani sangat mempengaruhi penguatan untuk pengendalian psikologi positif. “Orang-orang yang bekerja dalam psikologi positif adalah orang-orang yang paling bahagia yang pernah saya temui” (hal.16).

Menurut penelitian beliau, hal-hal pokok tersebut memungkinkan adanya kesesuaian individu klien yang depresi. Kesejahteraan juga harus dipupuk sejak dini, kepada kaum muda. Hal ini dapat dilakukan melalui sekolah, dengan bantuan teknologi. Belajar menghargai dan mencapai kemakmuran harus dimulai pada tahun-tahun sekolah, dan kemakmuran baru inilah yang dikembangkan oleh pendidikan positif yang bisa dipilih dunia sekarang. Salah satunya adalah dengan prestasi dengan orientasi positif.

Inti dari buku ini adalah kesejahteraan dan kebahagiaan itu memang dapat mempermainkan kondisi psikologis seorang manusia. Hal ini dapat berpengaruh kepada sikap dan tindakannya kepada sesama manusia bahkan kepada makhluk lain. Sudah sifat dasar manusia untuk ingin selalu bahagia, dan menghindar dari stres dan depresi. Oleh karena itu, sebisa mungkin kita banyak berfikir positif dan mampu merubah pengalaman pahit menjadi sebuah pembelajaran yang berharga untuk hidup ke depannya dengan lebih baik lagi.

 

*Resensor adalah Bendahara Unit Penerbitan PesantrenTebuireng (UPPT)

SebelumnyaResolusi Jihad Kedua
BerikutnyaKegiatan Santri di Bulan Ramadhan