Oleh: Devi Yuliana*

Akhir Mei hingga awal Juni 2021 ini kita dikagetkan dengan menambahnya angka positif covid-19 di berbagai daerah. Ditambah lagi dengan munculnya varian baru dari virus covid ini yang mana lebih ganas dari virus sebelumnya, tentu membuat masyarakat merasa panik. Rumah sakit mulai penuh, ambulan ada di mana- mana, angka kematian pun makin bertambah. Akibat dari meningkatnya kasus covid ini pun, akhirnya diberlakukanlah sistem PPKM darurat. Sektor ekonomi masyarakat pun semakin menyempit, namun di sisi lain kesehatan tetap menjadi yang utama, mengingat bahwa virus ini tak terlihat dan mudah sekali penyebarannya.

Situasi serta kondisi yang seperti ini tentu menjadikan masyarakat resah dan panik. Kesehatan mental pun terganggu hingga berdampak pada kesehatan fisik. Pikiran yang tidak tenang serta merasa kacau dapat menyebabkan imun pada tubuh melemah. Ibnu Sina, atau di dunia barat sering dikenal dengan nama Avicenna, seorang filsuf serta ahli dalam ilmu kedokteran berkata:

الوهم نصف الداء والاطمئنان نصف الدواء والصبر اول خطوات الشفاء

Ketakutan adalah separuh dari penyakit, ketenangan adalah separuh dari obat, dan kesabaran adalah awal dari kesembuhan

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dari kalimat di atas disimpulkan bahwa ketakutan serta kepanikan juga bisa menyebabkan sakit. Hati yang tenang membuat kita lebih waras dalam menjalani hidup. Kita tidak mudah parno ketika mendengar atau melihat berbagai berita di tv ataupun media lainnya. Namun ketika kita tenang bukan berarti kita abai terhadap kesehatan diri kita dan lingkungan sekitar. Kita tetap harus menjaga protokol kesehatan yang sudah diberlakukan. Tetap memakai masker, menghindari kerumunan, serta selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Namun bagaimana jika kita terlanjur sakit? Kuncinya adalah sabar sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Sina di atas. Sabar dengan tetap berkeinginan serta berusaha untuk sembuh. Menjaga pola makan serta pola tidur, rajin berolah raga, berjemur di bawah sinar matahari. Di sisi lain, sakit juga merupakan salah satu perantara untuk melebur dosa. Di dalam sebuah hadis:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى، مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ، إِلَّا حَطَّ اللَّهُ لَهُ سَيِّئَاتِهِ، كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

Rasulullah SAW bersabda : “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”. (HR. Bukhari no. 5660).

Penyakit ada kalanya merupakan perantara untuk melebur dosa-dosa kita. Untuk itu, hendaknya kita tetap sabar ketika sakit karena pada hakikatnya saat itulah dosa kita sedang diampuni oleh Allah.

Kembali lagi pada berusaha bersikap tenang namun tetap waspada. Dengan hati serta pikiran yang tenang, kita bisa menjalani hari-hari dengan lancar. Meski fisik terkena suatu penyakit namun jika diiringi dengan hati yang tenang, kesembuhan pun akan mudah digapai.

Berikut beberapa rekomendasi psikolog yang disampaikan oleh KH. Afifuddin Muhajir untuk membuat hidup kita menjadi lebih tenang:

1. Pisahkan diri kita dari berita tentang virus, tidak usah mencari lagi karena semua sudah kita tahu.

Kurangi intensitas dalam melihat berita di tv. Jika hanya untuk mengetahui berbagai informasi tak mengapa. Namun jika hal tersebut membuat kita semakin panik, maka sebaiknya dikurangi.

2. Jangan mencari informasi tambahan di internet, itu akan melemahkan mental kita.

Begitupun informasi yang tersebar di internet. Jika hal tersebut justru memperburuk kesehatan mental kita dan menjadikan kita semakin cemas, maka lebih baik dihindari

3. Hindari mengirim pesan fatalistik lewat Whatsapp, Facebook, Mesengger, Instagram dan lain-lain. Karena kondisi mental teman dan keluarga kita tidak sama dengan kita dan itu bisa membuat mereka depresi.

Ini yang masih sering terjadi di sekitar kita. Pesan berantai yang bahkan belum bisa diketahui kejelasan sumbernya mudah sekali menyebar di grub medsos. Hal ini tentu mengakibatkan banyak orang semakin panik

4. Dengarkan musik dengan volume yang menyenangkan.

Musik terbukti ampuh untuk membuat pikiran menjadi tenang. Pilihlah musik bernuansa lembut untuk menenangkan pikiran kita.

5. Suasana hati positif menambah kekebalan tubuh.

Pikiran yang tenang, serta hati yang tenteram menjadikan tubuh semakin kebal akan berbagai penyakit. Dengan tetap mematuhi atauran kesehatan yang berlaku serta pikiran yang tenang, menjadikan tubuh kita tidak mudah untuk terserang penyakit.

6. Dan yang paling penting, kita harus percaya bahwa semua ini akan ada kesudahannya. Karena Allah Maha Pengasih dan Penyayang

Terakhir, ialah percaya dan yakin bahwa Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan hamba-Nya. Semua ini pasti akan berakhir.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaKrisis Pemahaman, Masalah Besar Umat Islam
BerikutnyaPahit Manis Pengalaman Lulusan Perguruan Tinggi