
Masalah sampah terus menghantui dan tak pernah mendapatkan tindakan tegas. Keresahan mengenai sampah sudah mulai dirasakan oleh banyak pihak. Generasi Z menjadi yang paling merasakan dampaknya, banyak yang sudah menyuarakan dan membuat gerakan zero waste atau bebas sampah. Masyarakat yang terdampak masalah sampah tidak banyak yang melek cara pencegahannya, terkadang mereka pula yang seringkali buang sampah sembarangan. Namun, negara juga turut serta dalam masalah sampah, berbagai sampah kiriman luar negeri masuk ke Indonesia, dan belum ada tindak tegas dari negara.
Baca Juga: Memadukan Perspektif Qur’ani dan Sains Modern untuk Krisis Lingkungan
Apa itu zero waste?
Mengutip dari website Gramedia, menurut Zero Waste International Alliance, zero waste adalah konservasi semua sumber daya dengan cara produksi, konsumsi, penggunaan kembali dan pemulihan produk, pengemasan tanpa pembakaran dan tanpa pembuangan ke tanah, air atau udara yang dapat mengancam lingkungan maupun kesehatan manusia itu sendiri. Artinya, meminimalisir terjadinya kerusakan alam dengan bebas sampah. Sebisa mungkin kita mengurangi konsumsi yang berlebihan dan tidak berguna.
Prinsip zero waste meliputi 5R: Refuse (Menolak), Reduce (Mengurangi), Reuse (Menggunakan kembali), Recycle (Mendaur Ulang), dan Rot (Mengompos) dengan menerapkan prinsip tersebut bisa membantu meminimalisir sampah, mengurangi risiko krisis iklim dan bencana alam.
Bagaimana cara menerapkan 5R?
Ditengah arus percepatan teknologi, manusia bisa mendapatkan segalanya hanya dengan rebahan dan sentuhan di layar gadget. Memmbeli barang apapun tanpa harus mengantre di toko tapi barang sudah sampai rumah dengan selamat. Dengan begitu gaya konsumtif menjadi meningkat drastis, belum lagi dengan iming-iming diskon dan flash sale. Dari sini diperlukan kebijakan pengguna gadget untuk mengurangi hal-hal yang tidak berguna. Karena, tidak hanya merugikan diri sendiri, akan tetapi bisa berdampak besar pada lingkungan. Ini menjadi langkah awal kita mengurangi sampah, Reduce (mengurangi).
Baca Juga: Banjir Sumatera, Fenomena Kayu Bernomor dan Amanah Lingkungan dalam Islam
Jika memang membeli barang itu sebuah kebutuhan, maka sebisa mungkin, menolak (Refuse) kemasan sekali pakai. Entah itu kantong plastik, styrofoam, spunbond. Karena seringkali hanya terbuang menjadi sampah dan sangat sulit terurai. Ketika makanan terpapar langsung dengan plastik atau styrofoam makanan akan tercemar dengan plastik dan bahan kimia beracun. Jika terus menerus digunakan akan mengganggu kesehatan manusia.
Ketika barang-barang tersebut tidak dapat ditolak, maka kita perlu memanfaatkan sebaik mungkin. Menyimpan kantong plastik dan spunbond yang nantinya akan digunakan kembali (Reuse) untuk belanja dan mebawa barang, sehingga tidak perlu membeli tas belanja. Cukup menggunakan barang-barang yang masih layak pakai.
Beberapa barang yang sudah rusak dan tidak dapat digunakan kembali, seringkali menumpuk dan berujung ke tempat sampah. Alangkah baiknya jika barang tersebut didaur ulang (Recycle) menjadi barang baru agar barang dapat berumur panjang. Pakaian yang rusak kita jahit lagi atau bisa dibuat menjadi tas belanja, bantal, kain lap atau keset. Botol-botol plastik bisa digunakan menjadi tempat pensil, hiasan dinding atau kreatifitas yang lain.
Untuk sisa makanan atau sampah organik, bisa buat pakan hewan ternak, maggot, dan pupuk kompos (Rot) atau eco-enzyme. Cara membuat pupuk kompos bisa dilakukan dengan mudah. Cukup membuat lubang biopori sedalam satu meter, kemudian buang sampah makanan atau dedaunan ke dalam lubang, dalam waktu satu sampai tiga bulan pupuk sudah siap panen. Begitupun membuat eco-enzyme, hanya peru botol bekas, air, dan gula merah. Masukkan kulit buah atau sayur ke dalam botol kemudian beri air dan gula, rasio bahan 3:9:30 (gula:limbah:air) kemudian tutup botol. Buka-tutup botol setiap hari, tunggu satu bulan, eco-enzyme siap digunakan untuk pengganti sabun cuci piring, pembersih lantai, pembersih kaca bahkan bisa untuk membersihkan kamar mandi.
Baca Juga: Perjalanan Alumni Trensains Tebuireng ke ECOTON Indonesia
Peran Masyarakan dan Negara
Apabila seluruh masyarakat menerapkan prinsip zero wate, sepertinya masalah sampah akan mudah teratasi. Banyaknya warga yang belum teredukasi menjadi tantangan, namun masalah ini tidak cukup sampai disini. Peran negara dalam menertibkan sampah sudah seharusnya menjadi program utama. Karena Indonesia sudah menjadi salah satu penghasil sampah tertinggi di dunia.
Peraturan masalah pengolahan sampah, pilah sampah dan menolak kiriman sampah dari luar negeri perlu ditindak tegas. Dengan begitu masalah sampah scera signifikan akan teratasi dengan mudah. Sambil menunggu gerakan progresif dari pemerintah, alangkah lebih baiknya melek isu sampah dimulai dari diri sendiri. Karena sampah yang kita hasilkan adalah tanggung jawab individu. Seminimal mungkin, dengan membuang sampah pada tempatnya membuat lingkungan tidak kumuh dan kotor.
Penulis: Aulia Racmatul Ummah
Editor: Rara Zarary


















