Perjalanan Alumni Trensains Tebuireng ke ECOTON Indonesia

6552
Alumni SMA Trensains Tebuireng, Rafika Aprilianti saat di ruang praktiknya (doc. istimewa)

Rafika Aprilianti perempuan muda yang setiap hari menelusuri butiran halus tak kasatmata mikroplastik. Perempuan ini adalah alumnus SMA Trensains Tebuireng, angkatan pertama yang kini menjabat sebagai Kepala Laboratorium Ekologi dan Peneliti Mikroplastik di Yayasan ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation). Di balik gelar ilmiahnya, tersimpan perjalanan panjang yang berawal dari ruang kelas dan Pesantren Sains di Tebuireng, Jombang.

Dari Pesantren Sains Menuju Dunia Riset Lingkungan

Rafika lahir di Lumajang, 19 April 1999. Ia menempuh pendidikan di SMA Trensains Tebuireng sejak tahun 2014 hingga 2017. Di tempat inilah, semangat keilmuannya tumbuh, bukan hanya dari pelajaran sains modern, tetapi juga dari nilai-nilai spiritual dan tanggung jawab terhadap alam.

“Di Trensains, saya belajar bahwa Sains tidak pernah terpisah dari nilai keislaman. Para guru sering mengaitkan konsep Sains dengan ayat-ayat Al-Qur’an, dan itu membuka mata saya bahwa mempelajari alam adalah bagian dari memahami kebesaran Allah,” kenangnya.

Salah satu guru Biologi menjadi sosok yang paling berpengaruh bagi Rafika. Dari beliau, ia belajar melihat ekosistem bukan sekadar struktur biologis, tetapi juga cerminan keseimbangan yang dijaga oleh Sang Pencipta. Filsafat belajar para ilmuwan Muslim klasik seperti Ibnu Sina, Al-Biruni, dan Ibnu Haytham juga memperkaya cara berpikirnya: ilmiah, kritis, namun tetap berlandaskan nilai spiritual.

Baca Juga: Siswa SMA Trensains Tembus Lima Besar Nasional Biologi UNESA

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Lingkungan pesantren yang disiplin membentuknya menjadi pribadi mandiri dan tekun. “Hidup di pesantren melatih saya untuk konsisten dan fokus. Nilai-nilai itu sangat berguna ketika saya terjun ke dunia riset, di mana kesabaran dan ketelitian menjadi kunci,” ujarnya.

Menemukan Panggilan di Dunia Mikroplastik

Setelah lulus dari Trensains, Rafika melanjutkan studi di Jurusan Biologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang pada tahun 2017. Sejak awal kuliah, ia aktif di berbagai organisasi lingkungan seperti Lindungi Hutan Malang, Sobat Bumi, dan Earth Hour. Tak berhenti di situ, ia bahkan mendirikan komunitas kampus bernama Environmental Green Society, yang fokus pada konservasi sungai.

Ketertarikannya pada isu mikroplastik bermula ketika ia magang di Yayasan ECOTON, sebuah lembaga yang aktif meneliti dan mengadvokasi isu pencemaran plastik di Indonesia. “Saat itu saya meneliti mikroplastik di Sungai Brantas dan melihat langsung bagaimana potongan plastik kecil tersebar di air dan berpotensi masuk ke rantai makanan manusia. Dari situ saya sadar bahwa polusi plastik bukan sekadar masalah lingkungan, tapi juga ancaman kesehatan,” jelasnya.

Penelitian tersebut membuatnya semakin yakin untuk berkarier di bidang ini. Setelah lulus pada Desember 2021, Rafika resmi bergabung dengan ECOTON pada Maret 2022. Kini, ia memimpin laboratorium dan menjadi salah satu peneliti muda yang berperan besar dalam menginisiasi usulan baku mutu mikroplastik nasional, sebuah langkah penting yang belum dimiliki Indonesia hingga saat ini.

Dalam kesehariannya, Rafika memimpin tim riset multidisipliner yang terdiri dari peneliti muda, mahasiswa, dan relawan citizen science. Kegiatan mereka mencakup pengambilan sampel dari air sungai, sedimen, ikan, hingga air minum dalam kemasan. Di laboratorium, timnya melakukan filtrasi, destruksi bahan organik, identifikasi partikel plastik, hingga pengujian polimer menggunakan FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy).

Baca Juga: Siswi SMA Trensains Raih Juara 1 Lomba Debat Bahasa Inggris

Namun, hasil riset mereka sering kali mengejutkan. Salah satu yang paling mengguncang adalah temuan mikroplastik pada urin dan cairan amnion ibu hamil di Indonesia. “Temuan ini membuktikan bahwa partikel plastik sudah masuk ke tubuh manusia bahkan ke sistem reproduksi. Itu sangat mengkhawatirkan,” ungkapnya.

Penelitian lainnya menunjukkan bahwa udara di 18 kota di Indonesia telah terkontaminasi mikroplastik, terutama akibat pembakaran sampah terbuka dan aktivitas industri daur ulang plastik. Jenis yang paling banyak ditemukan adalah polietilena (PE), polipropilena (PP), dan polistirena (PS) bahan utama dari plastik sekali pakai dan tekstil sintetis.

Bagi Rafika, sains bukan untuk disimpan di laboratorium, tapi untuk dibagikan kepada masyarakat. Karena itu, ia menggagas berbagai program edukatif seperti Kelas Belajar Mikroplastik, di mana pelajar dan masyarakat umum bisa belajar mengenali mikroplastik dengan alat sederhana. ECOTON juga aktif mengadakan pameran edukasi keliling BRANTAS XOXO dan Sekolah Alam Detektif Sungai, yang mengajarkan isu lingkungan dengan cara visual dan interaktif.

“Tujuan saya sederhana: agar masyarakat tahu bahwa mikroplastik bukan ancaman jauh. Ia ada di air minum, udara, bahkan dalam tubuh kita,” kata Rafika. Ia percaya bahwa ilmu harus menjembatani masyarakat dan pembuat kebijakan, agar riset bisa berujung pada perubahan nyata.

Mengelola laboratorium lingkungan di Indonesia bukan perkara mudah. “Kami sering terkendala fasilitas dan belum adanya standar baku mutu mikroplastik nasional. Tapi tantangan itu justru mendorong kami untuk terus berinovasi dan berkolaborasi,” tuturnya.

Salah satu momen sulit yang ia kenang adalah ketika usulannya agar BPOM memprioritaskan mikroplastik dan senyawa EDC dalam audit kosmetik sempat ditolak. “Saya sempat kecewa, tapi tidak berhenti di situ. Saya kumpulkan lebih banyak data, kirim ulang ke BPOM pusat, dan akhirnya diterima. Dari situ saya belajar bahwa advokasi butuh kesabaran dan bukti ilmiah yang kuat,” katanya tegas.

Baca Juga: Inovatif! SMA Trensains Pamerkan 31 Karya Luar Biasa

Rafika percaya bahwa masa depan bumi bergantung pada generasi muda. “Mereka punya energi dan kreativitas untuk mengubah gaya hidup dan membangun kesadaran publik,” ujarnya.

Pada tahun 2022, Rafika terpilih sebagai delegasi Indonesia di YSEALI Regional Workshop: Marine Warriors di Vietnam, dan pada 2025 ia kembali mewakili Indonesia di YSEALI Summit di Penang, Malaysia, bersama pemuda-pemuda Asia Tenggara yang berjuang untuk isu lingkungan. “Saya belajar bahwa anak muda di negara lain tidak diam. Mereka aktif meneliti dan berinovasi. Kita juga bisa seperti itu.”

Kepada adik-adiknya di Trensains, Rafika berpesan, “jangan takut bermimpi besar, tapi mulailah dari langkah kecil yang konsisten. Ilmu yang kamu pelajari di Trensains bukan hanya untuk nilai, tapi untuk memberi manfaat bagi alam dan manusia. Jadikan sains sebagai ibadah dan wujud rasa syukur kepada Allah.”

Jika bisa kembali ke masa SMA, Rafika ingin menasihati dirinya sendiri untuk lebih percaya pada proses. “Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Semua yang saya pelajari di Trensains disiplin, rasa ingin tahu, dan tanggung jawab terhadap alam menjadi fondasi perjalanan saya sampai hari ini,” ujarnya menutup kisahnya.



Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary