Hal lain yang menarik dari sosok Kartini adalah perjalanan teologinya dalam memahami dan mendalami agamanya, Islam. Dalam buku berjudul “Kartini Nyantri” yang ditulis oleh Amirul Ulum mengulas tentang kisah Kartini dalam usahanya memahami ajaran agamanya. Buku ini menjelaskan awal ibu Kartini yang hanya mengerti Islam sebatas pada zahirnya saja, tanpa diberi tau maksud dan tujuan amalan yang ada di dalam Islam. Hal tersebut disebabkan oleh faktor eksistensi Islam pada waktu itu masih rendah, ajaran Islam yang ada di lingkungan ibu Kartini sangat terbatas dan gerak-geriknya dibatasi oleh Belanda. Namun dari awal keresahan ibu Kartini terhadap agamanya karena hanya memahaminya secara gamblang, seiring perjalanan waktu ia dapat merasakan nikmatnya keimanan.

Dalam buku ini, diceritakan kisah perjumpaaan ibu Kartini dengan Kiai Sholeh Darat hingga ia diberikan hadiah berupa sebuah kitab tafsir Arab pegon. Atas izin Allah SWT Kartini dipertemukan dengan Kiai Sholeh Darat pada sebuah acara pengajian yang diselenggarakan di kediaman paman Kartini Pangeran Ario Hadiningrat. Menurut catatan Cucu Kiai Sholeh Darat, Ibu Nyai Fadhila Sholeh, waktu itu Kartini dan pamannya ikut serta mengikuti pengajian tersebut dan mendengarkan wejangan ilmu agama yang disampaikan oleh Kiai Sholeh Darat, yaitu tentang tafsir surat Al-Fatihah.

Hingga Kartini kagum dengan apa yang disampaikan oleh Kiai Sholeh, sebab selama ini ia tak mengerti tentang makna Al-Fatihah, namun sejak hari itu ia menjadi terang dan memahami bahkan sampai makna tersiratnya, karena Kiai Sholeh telah menjelaskannya menggunakan bahasa Jawa yang ia pahami hingga ia meminta pada pamannya untuk dipertemukan dengan Kiai Sholeh Darat, dalam dialognya dengan Kiai Sholeh yang kemudian kebanyakan penulis mencatat bahwa pertemuan tersebut menjadi alasan Kiai Sholeh Darat untuk menulis sebuah Tafsir dengan judul Faidh al-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad Dayyan. Karya tersebut diberikan kepada ibu Kartini pada tahun 1902. Ibu Kartini sangat bahagia, lantaran kitab tersebut ia lebih semangat untuk kembali mempelajari bahasa Arab.

Hal lain yang menarik dari buku “Kartini Nyantri” ini adalah di dalamnya mengungkap sebuah kemusykilan bahwasanya dalam surat-surat Kartini tidak menyebutkan bahwa yang berjasa dalam menemukan tuhannya (Allah) adalah seorang ulama’ atau kiai, melainkan Nyonya Nellie van Kol dan Nyonya R.M Abendanon. Dengan rinci buku ini menyebutkan banyak surat Kartini, salah satunya surat Kartini kepada Tuan E.C Abendanon, 17 Agustus 1902.

“Karena merasa senangnya, seorang tua telah menyerahkan kepada kami naskah-naskah lama Jawa yang kebanyakan menggunakan huruf Arab. Karena itu kini kami ingin belajar lagi membaca dan menulis huruf Arab. Sampai saat ini buku-buku Jawa itu semakin sulit sekali diperoleh lantaran ditulis dengan tangan. Hanya beberapa buah saja yanh dicetak. Kami sekarang sedang membaca puisi yang bagus, pelajaran yang arif dalam bahasa yang bagus. Saya ingin sekali kamu mengerti bahasa kami. Aduhai, ingin benar saya membawa kamu untuk menikmati semua keindahan itu dalam bahasa aslinya. Maukah kamu belajar bahasa jawa ? Sulit, itu sudah tentu, tetapi bagusnya bukan main! Bahasa Jawa itu bahasa perasaan, penuh puisi dan kecerdikan. Kami sendiri sebagai anak negeri kerap kali tercengang tentang ketajaman bangsa kami.“

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam surat Kartini di atas, memang tidak menjelaskan bahwasanya seorang tua itu adalah Kiai Sholeh Darat. Namun penulis buku ini mempunyai indikasi kuat bahwasanya orang tersebut adalah Kiai Sholeh Darat, berdasarkan keterangan cucu Kiai Sholeh Darat, Ibu Nyai Fadhila Sholeh yang menjelaskan kisah kegalauan Kartini tentang makna Al-Quran dan teks Arab Jawa Pegon yang dibawa oleh orang tua tersebut, sebab Kiai Sholeh Darat mempunyai banyak karya tulis dengan literatur Arab Pegon.

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa dalam surat Kartini tidak menyantumkan nama Kiai Sholeh Darat jika memang yang memberikan naskah jawa tersebut adalah Kiai Sholeh Darat?

Dalam buku ini penulis memaparkan beberapa kemungkinan, pertama mungkin Kartini lupa dengan nama Kiai Sholeh Darat yang dikenal sejak ia berumur 12 tahun dan sudah sekitar 10 tahun ia tak bertemu dengan Kiai Sholeh sejak pertemuannya di rumah pamannya. Namun kemungkinan pertama ini dianggap musykil oleh penulis, sebab antara Kakek Kartini dengan Ayah Kiai Sholeh mempunyai hubungan akrab, selain itu Kiai Sholeh berasal dari Jepara, tentunya masih mempunyai kerabat di sana untuk disilaturrahimi. Sehingga tidak menutup kemungkinan Kiai Sholeh mampir ke kadipaten jepara untuk menemui ayah Kartini, karena keduanya saling mengenal. Berikutnya yang terpenting adalah Kartini mempunyai daya ingat yang tinggi, mustahil jika ia pernah mengenal Kiai Sholeh Darat yang berjasa dalam menghilangkan kerisauan dalam memahami makna yang terkandung dalam Al-Quran, kemudian ia lupa akan namanya.

Kemungkinan kedua, nama Kiai Sholeh disamarkan oleh Mr. J.H Abendanon untuk kepentingan tertentu. Terlebih hal ini ada kaitannya dengan Islam yang menjadi salah satu incaran penjajah selain mengambil kekayaan ibu Pertiwi. Mr. J.H. Abendanon dikenal sebagai orang yang telah melakukan perubahan ataupun pemotongan terhadap surat-surat Kartini kepada sahabat penanya di Eropa.

Mr. J.H Abendanon merupakan satu-satunya orang yang pertama menghimpun dan menerbitkan surat-surat Kartini pada tahun 1911. Maka dia lah yang paling tahu isi dari surat-surat Kartini. Jika dia dicurigai melakukan kecurangan terhadap isi surat Kartini, maka akan berdampak pada isi surat-surat yang diterbitkan itu.

Penulis buku ini menegaskan, setelah mencermati apa yang terjadi pada surat-surat Kartini yang dikumpulkan oleh Mr. J.H Abendanon, jika tidak ingin adanya dugaan-dugaan, maka harus diadakan penelitian terhadap bahan-bahan mentah surat-surat Kartini yang ada di Nederland. Jika tidak mungkin hal tersebut dilakukan, maka bahan apa adanya akan menjadi bahan pengkajian, walaupun akhir dari kesimpulan adalah hanya sebuah “kemungkinan”.


Judul : Kartini Nyantri
Penulis : Amirul Ulum
Penerbit : GlobalPress
Tahun : 2019
Tebal : 265 halaman
ISBN : 978-602-60177-2-7
Peresensi : Anisa Khoiril Fadhilah*


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaIbu Nyai Lily Wahid Sosok Pemaaf dan Rendah Hati
BerikutnyaCita-cita Terakhir Bu Nyai Lily Wahid