Isra Mi’raj di Pesantren Walisongo, KH. Sami’an Ungkap Lima Tanda Hati Waras

73
KH Sami’an dari Tambakberas Jombang memberikan mauidloh hasanah di hadapan santri Walisongo Cukir Jombang (dok. walisongo)

Tebuireng.online— Santri Pondok Pesantren Putri Walisongo menggelar peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada Rabu (21/1/2026) di halaman pondok pesantren. Kegiatan ini diikuti oleh pengasuh, pembimbing, pengurus, serta seluruh santri.

Peringatan Isra Mi’raj tersebut menghadirkan penceramah KH. Mohammad Sami’an, dari Tambakberas Jombang. Kehadiran beliau disambut antusias oleh para santri yang tampak bersemangat mengikuti rangkaian pengajian hingga akhir acara.

Dalam tausiyahnya, KH. Sami’an menyampaikan materi tentang lima tanda hati yang waras. Sebelum masuk ke inti ceramah, beliau terlebih dahulu menyapa santri dengan guyonan khasnya agar suasana pengajian lebih hidup dan para santri tetap fokus.

Baca Juga: Santri Pesantren Putri Walisongo Cukir Unjuk Bakat dalam Muhadhoroh Kubro Cabang Ghina’ Aroby

“Hati yang waras itu ada lima tandanya: perempuan yang shalihah, anak yang taat kepada orang tua, wafat di tanah suci, cinta kepada Allah dan Rasulullah, serta orang yang menjaga adzan dan shalat berjamaah lima waktu,” dawuh KH. Sami’an.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Beliau kemudian menjelaskan makna dari kelima tanda tersebut. Perempuan shalihah, menurutnya, adalah sosok yang berakhlak baik, taat kepada Allah dan Rasulullah, patuh kepada suami, serta mampu menjaga kehormatan diri. Selain itu, beliau juga berpesan agar para santri menjadi anak yang taat dan berbakti kepada orang tua.

“Muliakan orang tua, maka Allah akan memuliakanmu. Muliakan gurumu, maka Allah akan memuliakanmu. Keberkahan ilmu itu terletak pada bagaimana kita memperlakukan orang tua. Tirakat, ngaji, puasa, shalat, dan ibadah lainnya akan diterima Allah jika kita memperlakukan orang tua dengan baik,” tutur beliau.

Baca Juga: Ngaji Rutinan dan Pemilihan Ketua Lengkapi Kebersamaan Alumni Walisongo Jatim 5

Kiai Sami’an menegaskan bahwa yang dimaksud orang tua tidak hanya orang tua kandung, tetapi juga mertua dan guru. Pada kesempatan tersebut, beliau juga memberikan ijazah doa agar dapat dimudahkan menuju tanah suci.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa cinta kepada Allah diwujudkan dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an, sedangkan cinta kepada Rasulullah diwujudkan dengan meneladani akhlaknya dan memperbanyak shalawat. Salah satu akhlak Rasulullah yang paling menonjol, menurutnya, adalah sifat loman atau dermawan kepada sesama manusia.

Dengan gaya ceramah yang komunikatif, KH. Sami’an juga menyampaikan pantun, “Tuku kacang keliru merico, tiwas sayang dianggap konco,” yang disambut tawa para santri.

Baca Juga: Pesantren Walisongo Sukses Gelar Akhirussanah dan Pelantikan Pengurus Baru Periode 2025-2027

Menutup ceramahnya, KH. Sami’an berpesan agar seluruh santri senantiasa menjaga shalat lima waktu dan membiasakan shalat berjamaah.

“Siapa yang menjaga shalat berjamaah, maka ia tidak akan melarat di dunia maupun akhirat,” pungkasnya.



Pewarta: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary