Santri dan Dakwah

Judul                : Goresan Tinta Sang Da’i

Penulis             : Ali Mushtofa, dkk

Penerbit           : Pustaka Tebuireng

Tahun               : 2019

Tebal                : 94 halaman

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

ISBN                : 978-602-8805-53-7

Harga               : Rp. 25.000

Peresensi         : Moh. Minahul Asna*

Santri di masyarakat hadir sebagai sebuah harapan baru di lingkungan masyarakat tersebut. Sebagai seorang penerus semangat para ulama pendahulu. Tentu harapan masyarakat sangatlah besar. Mayoritas dari mereka menganggap bahwa santri adalah seorang yang serba bisa, termasuk berpidato layaknya seorang orator ulung.

Agus Fahmi Amrullah, pembina Kudaireng, yang juga menjadi Kepala Pondok Putri Pesantren Tebuireng mengatakan, “Jangan heran ketika santri pulang ke masyarakatnya, masing-masing akan dianggap serba bisa dalam hal apapun, termasuk pidato”.

Tentu dalam ilmu perdakwahan, sebuah kemampuan berpidato saja tidak cukup. Penyampaian dakwah di tempat, waktu, dan kondisi apapun pasti ada aturan dan tata cara yang baik dan benar sesuai dengan profesi pendakwah itu sendiri. Berdakwah adalah sebuah seni. Khususnya berdakwah dengan lisan seperti ceramah, khutbah, pidato, orasi ilmiah, dan pengajian umum memiliki teknik khusus dalam penyampaiannya. Agar apa yang disampaikan bisa efisien, menarik, dan dapat diterima oleh sasaran dakwah.

Jika seorang belum sepenuhnya memiliki bekal yang cukup untuk berdakwah, bisa jadi dakwahnya sulit dipahami atau bahkan apa yang disampaikan malah membuat perpecahan dan kegaduhan di masyarakat. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi umat muslim mempelajari ilmu dakwah agar dakwahnya bisa teratur dan terarah.

Buku yang berjudul “Goresan Tinta Sang Da’i” ini berisi tentang bekal dan saran bagi generasi pendakwah, seperti pembahasan terkait bagaimana seharusnya penyebutan puja dan puji syukur yang sering diucapkan oleh seorang mubalig. Padahal dua kata tersebut artinya sama maka cukup menyebutkan salah satunya. Atau pengucapan salam, yang dalam buku ini dijelaskan bahwa pengucapan salam sebaiknya merupakan kalimat pembuka tanpa diawali kalimat–kalimat lain seperti ungkapan “para bapak, para ibu hadirin sekalian yang kami hormati” baru mengucapkan “assalamualikum warahmatullah wabarokatuh”, hal ini kurang pantas dilakukan. Yang pantas, yakni mengucapkan salam dahulu sebelum kalam (berbicara apa pun).

Jadi bagaimana menyusun dan menyampaikan isi pidato sangat penting dipelajari oleh da’i. Karena kadang-kadang ada seorang da’i yang bicaranya lancar dan tegas, tetapi kurang memperhatikan tata bahasanya, sehingga kurang enak didengar. Maka da’i harus pandai memilih susunan kata agar apa yang disampaikan bisa menarik dan dipahami oleh masyarakat.

🤔  Jadilah Muslim yang Sempurna

Buku ini dilengkapi contoh-contoh teks MC, sambutan, dan pidato. Dengan gaya yang menarik dan bahasa yang interaktif buku ini menjadi lengkap sebagai buku bahan santri-santri yang ingin mendalami ilmu berdakwah. Seperti pidato dengan judul pendidikan keluarga,. Dalam teks itu, penulis menggunakan kata-kata, “Tidak ada suatu perkara yang paling baik yang diberikan orang tua kepada anak kecuali akhlak dan moral. Oleh karena itu hadirin ada sebuah kisah seorang kiai yang sedang bercakap-cakap kepada santrinya, ‘Wahai santriku, universitas apa yang paling baik di dunia?” banyak jawaban ada yang mengatakan Universitas Washington. ‘Bukan!,’ jawab kiai. ‘Universitas Ummul Quro’ Mekkah’. ‘Bukan!’ ‘Universitas Kairo’. ‘Bukan!’. Atau mungkin Universitas Indonesia. ‘Apalagi’. ‘Lalu apa, Kiai?’. ‘Universitas Keluarga’. ‘Sapa mahasiswanya Kyai?’. ‘Kita sebagai anak’. ‘Siapa dosennya, Kiai?’. ‘Ibu dan bapak kita’. ‘Siapa rektornya, Kiai?’. ‘Kakek dan neneknya’. ‘Apa Pelajarannya, Kiai?’. ‘Ikhlas dan Sabar’.  ‘Kapan wisudanya, Kiai?’. ‘Ketika kita menikah memakai toga Hadraturrasul Muhammad SAW’. ‘Apa kajiannya, Kiai?’ Menanamkan akhlakul karimah, kepada anak anak kita nanti’. ‘Apa kajiannya, Kiai?’. ‘Surga yang seluas langit dan bumi. Insya Allah”. (hal 72-73)

Buku ini memiliki 17 contoh teks pidato yang beberapa judul disusun sendiri oleh beberapa da’i yang terkumpul pada sebuah organisasi Kumpulan Da’i Tebuireng (KUDAIRENG) yang mana sudah terbukti mencetak da’i-da’i handal yang banyak menuai ratusan prestasi dan beberapa dari mereka sudah menembus tingkat nsaional, sehingga buku ini menjadi buku pedoman yang cukup menjanjikan untuk belajar berdakwah.

Buku yang disusun oleh Ust. Ali Mustofa, dkk ini pun menjadi unik, karena dalam contoh-contoh pidato tidak hanya berisi dalil-dalil dari al-Quran dan hadis namun juga berisi dengan maqolah-maqolah yang baik untuk menyampaikan pesan kepada audiens. Peresensi menilai bahwa buku ini sangat direkomendasikan kepada seorang yang ingin belajar berpidato khususnya para santri yang sangat diharapkan oleh masyarakat.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari