sumber gambar : zurrahmah.wordpress.com

Karya: Iryan Ramadhani

Dari sebuah senja sore itu kita awali semua, dan sampai Senja sore dikemudian hari kita akhiri semua itu.”

Hai, namaku Robi. Tanpa ada nama depan dan belakang. Kalian bisa memanggilku dangan mudah. Aku adalah anak pertama dari 2 bersaudara, dan yang satu lagi adalah Adik perempuanku yang manis dan centil bernama Lily. Usiaku memasuki remaja, angka 13 merupakan angka umur yang sekarang sedang ku jalani. Sebelumnya aku tinggal di daerah perkotaan seperti Kota Jakarta, lingkungan penduduk masyarakat yang padat membuat tempat tinggalku pindah dan meski masih tak jauh berbeda dengan Jakarta. Sekarang aku bertempat di Kota Surabaya, Ayah dan Ibuku tergolong orang yang tak banyak memiliki waktu luang. Kadang mereka bisa dapat bekerja hingga sampai larut malam. Itu menjadi pusat kesepian bagiku karena tak ada yang dapat menemaniku di saat-saat seperti ini. Sedangkan Adikku, Lily, Ia dapat berteman dan bermain dengan siapa saja, karena Ia dititipkan di rumah saudaraku.

Aku sangat suka membaca buku, tapi tidak untuk satu hal yang banyak sekali ditemui diberbagai tempat. Keramaian, salah satu kebiasaan bahkan sudah banyak terlihat di sekitar Area perkotaan. Entah mengapa Ayah dan Ibuku sangat menyukai rumah di tempat-tempat keramaian. Mungkin aku harus selalu mendapatkan tempat yang sangat tenang untuk membaca buku dan jauh dari keramaian terutama suara bising.

Beberapa hari yang lalu, Ayah baru mendaftarkanku di sebuah pondok pesantren yang tak jauh dari rumah baruku. Tak cukup terkenal, namun membuat ku terkesan dengan segala hal di dalamnya. Rasa ingin tahu, keinginan bertanya, dan mengorek berita dari dalam hingga luar tentang Pondok Pesantren membuatku ingin melakukannya. Entah mengapa itu terjadi. Mungkin seharusnya aku harus banyak lagi membaca buku tentang Agama, menjelang detik-detik memasuki Pondok Pesantren. Kadang ketika seseorang banyak mengoleksi banyak sekali buku-buku Novel, membuat buta pemikiran mata seseorang untuk lebih banyak selalu melakukan apa kewajiban, adat, dan kebiasaaa agama mereka.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

*************

Siang itu, Ayah terlihat sangat sibuk mengemas barang-barang di belakang bagasi Mobil. “Ada barang yang kurang lagi Robi? Agar tidak ketinggalan jika sudah berada di Pondok nanti,” tanya Ayah, Ia terlihat berada dalam keadaan sibuk sekali dengan barang yang Ia bawa. “Sudah Yah, tapi masih ada yang menurut Robi kurang. Perlengkapan alat mandi Robi belum ada,” pandangku mulai terasa sedih, mungkin karena aku berfikir bahwa sebentar lagi akan meninggalkan rumah baruku ini.

Sambil memegang pundakku dengan sebelah tangan kanannya, ayah berucap, “Nanti kita cari kalau sudah sampai di Pondok, bagaimana?” raut muka Ayah terlihat berkaca-kaca, mungkin ini hanya kebetulan saja. Mungkin aku harus melakukan jalan yang terbaik untuk masa depanku, pikirku.

Setelah berkemas-kemas. Aku dan Ayah mulai berangkat menuju Pondok Pesantren. Arloji Ayah menunjukan waktu sudah mendekati pukul 14.00 WIB. Mungkin untuk sejenak aku dapat merasakan pemandangan sekitar dari kaca Mobil. Tak sadar, Ayah beberapa saat melihatku dari kaca sepion depan. “Rob, kamu sedang memikirkan apa Nak?” tanya Ayah. Pandangan mata yang seolah terfokus kearah samping kaca mobil, tiba-tiba terhenti.

“Ekhmm… Tidak Ayah, Robi sedang melihat pemandangan luar,”

“Ayah tahu akhir-akhir ini kamu pasti merasa kesepian di dalam kamar selama Ayah dan Ibu bekerja. Tapi Ayah yakin, kamu pasti mendapat teman yang dapat jauh menggatikan kesepian dam kejenuhan selama ini,”

Aku menundukkan kepalaku, sambil menutup mataku. Tak dapat kuhindari tetesan air mata ini. Aku hanya berharap dapat menghabiskan banyak waktu, melakukan banyak hal bersama Ayah.

Dalam beberapa jam kemudian, pemandangan kaca berubah menjadi gambaran bahwa sudah berada di depan gerbang Pondok Pesantren. “Kita sudah sampai, ayo turun,” suara ajakan pelan ayah seolah menarik alih-alih pandangan mataku untuk melihatnya.  Setapak langkah kaki ini akhirnya dapat menapakkan langkah kaki ditanah Pondok Pesantren. Dari depan arah pandangku sudah terlihat sebuah masjid yang sering digunakan oleh santri untuk beribadah shalat. Beberapa santri terlihat sedang melaksanakan shalat Ashar.

“Robi, kita ke koperasi dulu. Katanya Perlengkapan alat mandi Robi belum ada?”

“Oh iya, Yah,” belum saja genap satu hari, aku sudah merasa sudah mondok di pesantren ini. Nuansa pondok pesantren yang begitu erat dengan Agama, membuat siapa saja menjadi kagum dan ingin berlama-lama di sini.

Ayah memberikanku sedikit waktu, sebelum ia pergi bekerja setelah mengantarkanku ke pondok pesantren untuk mencari perlengkapan alat mandi di sebuah koperasi dekat masjid. “Ayo, Ayah beri waktu sebentar untuk mencari perlengkapan alat mandimu,” pinta Ayah. Aku pun segera mencari peralatan alat mandi, entah mengapa hari ini terasa lebih cepat dari biasanya. Setelah mendapat apa yang kucari, terlihat antrian cukup banyak dari depan kasir.

Sejenak, kuluangkan waktu untuk menunggu. Antrian di depan kasir membuatku malas untuk mengantri. Aku memutuskan untuk duduk di dekat kasir. “Menunggu antrian juga ya?” tanya seseorang kepadaku. Suara itu membuatku terkejut, ternyata suara itu berasal dari samping kananku.

“Oh, iya. Kamu juga menunggu?” ku jawab dengan menanyakannya, seorang anak laki-laki dangan tinggi sepertiku, mungkin Ia juga mondok di pesantren ini. Aku tak begitu mengenalnya, dan Ia tak mengenalku juga.

“Iya, begitulah. Aku melihatmu di depan kasir tadi, entah mengapa antrian di depanmu membuat kakiku mengahruskan untuk beristirahat. Karena aku juga bosan melihat antrian, bukan begitu?”. Aku tak membayangkan, ada seseorang yang mempunyai pemikiran yang sama denganku.

“Ya, kau benar. Perkenalkan, namaku Robi, tanpa ada nama depan dan belakang. Kamu bisa memanggilku dangan mudah,” sambil mengulurkan tangan kanan, aku dengan senang hati berkenalan lebih dahulu. Laki-laki disampingnya pun ikut membalas uluran tangan sebagai tanda pertemanan.

“Ya Robi, namaku Rama Guspara. Robi bisa memanggilnya hanya Rama saja. Asalku dari Jakarta Barat, Kalau kamu?”

“Aku berasal dari Jakarta juga, akan tetapi rumahku jadi pindah ke kota Surabaya karena faktor pekerjaan Ayah,” ungkapku membalas pertanyaannya.

5 menit kemudian, aku baru saja keluar dari koperasi tersebut dan dengan tangan yang pastinya membawa sesuatu. Dari depan mobil Ayah terlihat masih mengobrol dengan seseorang lewat ponselnya. Aku pun menghampirir Ayah dengan raut muka bersalah.

“Ayah, masih lama tidak? Setelah ini kita kemana?” Aku seolah mengalihkan perhatian pembicaraan Ayah agar keadaan bisa seperti awal.

“Robi? Iya tunggu sebentar ya nak,” dalam beberapa detik kemudian ponsel ayah akhirnya dimatikan.

“Setelah ini kita langsung ke Wismamu, kalau tidak salah, kemarin Ayah sudah cek kamar Robi. Jadi sekarang kita langsung saja, Ayah tidak punya banyak waktu karena sebentar lagi ada jam meeting dan harus kembali bekerja.

*************

Bangunan Wisma kamar di pondok pesantren ini terlihat kokoh, walaupun sebenarnya bisa diakui jika bangunan wisma dalam pondok pesantren ini tergolong sudah puluhan tahun. Bangunan wisma yang terkenal salah satunya adalah Wisma Laskar Hizbullah. Ada sejarah yang mengatakan bahwa wisma ini dibangun untuk mengenang kembali perjuangan para santri terdahulu yang berjuang mempertahankan pondok pesantren ini dari serangan Belanda. Terlihat dari pandang mataku, santri yang berada di lantai 2 atau pun 3, sangat harmonis dalam keakraban yang seakan tidak pernah kulihat sebelumnya.

Kami pun memberhentikan langkah dihadapan banguna yang cukup tinggi, 3 lantai yang menjulang, menandakan akan banyaknya santri yang telah mengvhuni di sana. “Sekarang, kita sudah sampai di wismamu. Kita naik ke atas, kalau tidak salah lantai 2,”  Ayah tampak menjelaskan sedikit di mana kamarku. Tangga demi tangga kami naiki hingga sampai di sebuah kamar, di wisma tersebut yang di atas pintu bertuliskan angka 204.

Aku dan Ayah telah tiba di kamar. Beberapa santri-santri baru terlihat sangat ceria, mereka sepertinya belum bisa beradaptasi maupun berkenalan dengan teman se kamar mereka. Seseorang berkopiah tinggi menghampiriku, sepertinya Ia ingin menyambutku.

“Mari silakan masuk di kamar Achmad Baidlowi ini, nama sampeyan  siapa?” Ia bertanya padaku. Ayah pun menjawabnya dengan raut muka yang terlihat akrab.

“Ekhm. Anu pak ustadz, ini anak saya. Namanya Robi, baru kebetulan datang dan mempir dulu di koperasi. Saya datang dari Surabaya. Saya titip anak saya, tolong bimbing dia, kalau ada yang anak saya tidak mengerti, tolong ajarkan, saya pamit kerena setelah ini saya harus bekerja,” Ayah terlihat terburu-buru sekali, entah mengapa hari ini begitu cepat dan sulit untuk mengulanginya.

“Oh iya pak, nanti saya yang ngurusin. Ehm, kalau ada keluhan, nanti saya yang bimbing sampai bisa. Sampeyan punya nomer telpon?” Ayah tampak ingin mengeluarkan ponselnya.

“Oh, ini nomer saya. Nanti kapan-kapan Ustadz bisa menghubungi saya jika perlu,” percakapan itu seolah menjadi penutup dari pertemuan aku dan Ayah, tak lama Ia akan bertemu jika sudah saatnya.

Pandaganku tak sengaja teralihkan pada seorang anak laki-laki yang berada di pojok ujung tembok kamar, wajahnya tampak tak asing bagiku. Entah mengapa ia terlihat terbujur menangis walau tidak ada suara atau pun rengekan suara di depan sebuah yang ia pegang. Hanya ada tetesan air mata yang menetes tak terlihat oleh orang lain. Foto itu terlihat begitu berarti bagi dia. Aku pun mendekatinya tanpa ragu. Dari semua santri di kamar, hanya dia yang tampak tak gembira. Mungkin saja ia tak kuasa meninggalkan keluargannya. Di hadapannya aku langsung bertanya. “Hai, kenapa kau menangis?” tanyaku.

Ia lalu menghadapkannya ke arah mataku. “Ekm… tak ada apa. Mungkin aku yang sedikit masih merindukan yang berada di luar sana,” dengan terburu-buru ia mengusap air matanya. Aku pun melanjutkan dengan pertanyaan yang mungkin ringan dia jawab.

Namun, Ia malah bertanya kepadaku “Hai Robi, ternyata kita bertemu lagi? Di kamar yang sama,” Otakku langsung berfikir, dan bertanya-tanya dalam benak, menbgapa ia seperti mengenali aku.

“Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya?” bisikku dalam hati.

“Ya, aku Rama,” aku tersenyum karena bisa mengingatnya, kadang aku lupa akan nama seseorang.

Ia langung beranjak dari kasurnya menuju loker, sepertinya ia ingin mengganti pakaian. Aku pun juga mencari lokerku. Satu demi satu nama loker kuperiksa. Namun  hanya satu nama yang kutemukan. Ternyata namaku bersampingan dengan loker Rama.

“Alhamdulillah, ternyata aku menemukan lokerku,” ucapku.

“Ya, bersama Robi lagi. Sepertinya kita akan menjadi teman yang baik, jangan lupa, letak ranjang tidurmu di atas,” ungkap Rama cengengesan.

*************

Sore ini menjadi hari pertamaku menjalani kehidupan baru selama aku di pesantren. Setelah membereskan barang-barangku di loker, aku pun keluar dan menjelajahi sekitar area Wisma lain. Entah mengapa, aku merasakan sesuatu yang berbeda berada dalam pesantren ini. Suasa kebersamaan dengan beberapa santri lain, membuat santri lain menjadi tak sendirian dan dengan mudah berbaur. Dan juga ada satu hal yang mungkin tak diketahui beberapa santri kamarku.

Ada apa dengan Rama? Apa yang sedang ia sembunyikan dari teman-teman? Aku sejenak menghentikan langkah kakiku di depan Koperasi. Sesekali aku melirik sebuah gedung wisma yang tidak terpakai. Gedung yang berada di belakang gedung pusat tersebut, menjadi langkah awal dari munculnya pertanyaan. Gedung apakah itu?

“Robi, kamu mau kemana?” Entah mengapa suara itu tiba-tiba terdengar dari belakang. Aku pun menolehkan wajahku, dan ternyata adalah Rama.

“Eh, kamu tahu gak? Gedung itu gedung apa?” Sambil menunjuk gedung tersebut.

“Aku kurang tahu, coba kita ke sana. Mungkin saja ada yang bisa kita temukan,” lanjut Rama.

Gedung tua yang berada di samping sebuah wisma yang menghadap utara, terlihat sudah tua dan tidak dipakai lagi. Mengingat jumlah lantai gedung tersebut ada 3 dan dibatasi oleh sebuah tembok dengan cat berwarna putih.

“Hey lihat, di atas. Mungkinkah kita bisa melihat pemandangang menyeluruh dari semua bangunan yang ada di pondok pesantren?’’ tanyaku pada diriku sendiri yang juga didengarkan oleh Rama.

“Pendapatmu benar juga Rama. Ayo kita kesana,” jawab Rama.

Mengingat keadangan ruangan yang tidak terpakai dan kotor, Aku dan Rama masih saja melanjutkan keinginan menjelajahi gedung itu. Saat kami sampai di sana, udara sejuk dan awan mendayu di atas kepala kami, siap memadukan pemandangan dari atas gedung.

“Lihat, itu adalah gerbang utama,” Robi terlihat terkesan.

“Iya, itu gerbang depan, dan di sampingnya ada sebuah makam pendiri pondok pesantren ini,” Rama terlihat menunjuk dengan jari telunjuk tangan kanannnya. Dengan santai aku dan Rama duduk di hadapan pemandangan seluruh area pondok peantren, tanpa disadari dari situlah awal dari persahaban mereka berdua. Bercakap-cakap sembari mata yang melihat sang matahari yang tak lama lagi akan menyurut.

‘’Senja Sore ini menjadi waktu dan awal pertemanan kita Robi, aku tak pernah menyangka akan mendapatkan teman yang sudah lama aku impikan,” ungkap Rama.

“Sungguh, semenjak aku datang ke pondok ini, aku baru mendapatkan teman yang tak kusangka. Dari latar belakangku saja, aku adalah seorang anak yang menyendiri. Dan aku yakin sekali, suatu saat, tiba waktunya aku mendapatkan teman yang cocok bagiku,” dari semua pembicaraan aku dan Rama, Robi lah yang pertama menyatakan pertemanan sejak saat itu mereka juga mulai bersama.

“Akan tetapi semua itu akan berakhir di dalam satu kalimat begini, dikala ada seorang yang bertemu pasti akan ada perpisahan, tapi mungkin itu semoga tidak terjadi pada kita kan?” ungkapku pada Rama yang sedang menerawang ke langit.

Dalam beberapa waktu sedikit saja, timbul rasa kebersamaan di antara aku dan Rama. Selalu bersama dalam hal apa pun, itulah yang sekarang mereka rasakan semenjak mereka masuk ke pondok pesantren. Di kala mandi, makan, tidur, mengaji, dan hobi, mereka selalu bersama dan tak luput dari kebersamaan teman-teman lain. Ada satu hal yang aku tidak tahu dari Rama. Ia selalu membawa sebuah buku catatan yang selalu ia tulis dan tak pernah orang lain tahu kecuali dirinya sendiri.

“Apa yang sebenarnya Rama sembunyikan dariku,” tanya itu hanya berhenti dalam pikiranku sendiri.


Penulis adalah Siswa SMP A Wahid Hasyim Tebuireng Jombang.

SebelumnyaTadarus Sepenantian, Mengenang Langgar
BerikutnyaKH. Habib Ahmad: Penerus Tahta Shahih Bukhari di Pesantren Tebuireng