
Penulis: Achmad Muzayyin*
Matahari di atas langit Jawa Timur terasa lebih menyengat dari biasanya. Bukan hanya karena kemarau panjang, tetapi karena hawa panas itu seolah merambat dari laras-laras senapan serdadu Nippon yang berpatroli di jalanan desa. Bagi Harun, seorang santri Kalong dari Pesantren Darul Hikmah, panas itu terasa hingga ke ulu hati.
Setiap pagi, ia melihat sahabatnya, Parto, berbaris di alun-alun desa dengan seragam PETA (Pembela Tanah Air). Dadanya membusung, teriakan “Tenno Heika Banzai!” keluar dari mulutnya dengan semangat yang dipaksakan. Parto percaya, bergabung dengan tentara bentukan Jepang adalah jalan pintas menuju kemerdekaan.
“Ini strateginya, Run,” kata Parto suatu sore di pematang sawah yang kering kerontang. “Kita serap ilmu militer mereka, kita gunakan senjata mereka. Nanti, saat waktunya tiba, senjata ini akan berbalik arah.”
Harun hanya mengangguk pelan. Pandangannya menerawang ke arah para petani yang membungkuk lesu di sawah mereka. Padi yang mereka tanam dengan keringat darah bukan lagi untuk mengisi lumbung keluarga, melainkan untuk disetor ke markas Kumiai sebagai pasokan perang Dai Nippon. Propaganda “Jepang Saudara Tua” kini terasa seperti lelucon pahit. Saudara macam apa yang membuat adiknya kelaparan?
Di pesantren, suasana juga tak kalah getir. Kitab-kitab kuning masih dikaji di bawah temaram lampu minyak, tetapi perut para santri seringkali keroncongan. Nasi menjadi barang mewah, seringkali diganti dengan singkong atau gaplek yang membuat tenggorokan seret.
***
Suatu malam, Harun tak bisa tidur. Bayangan wajah-wajah letih para tetangganya, tangis bayi yang kelaparan, dan punggung bapak-bapak yang dipaksa menjadi romusha, semua berkelebat di benaknya. Ia merasa gelisah. Apakah jihad hanya berarti mengangkat senjata seperti Parto? Apakah patriotismenya kurang hanya karena ia tak berseragam?
Dengan hati gundah, ia memberanikan diri menghadap sang pengasuh pesantren, Kiai Basyir. Sosok sepuh itu sedang berzikir di serambi masjid, jemarinya lincah memutar tasbih.
“Kiai,” sapa Harun lirih, “hati saya bimbang. Saya melihat Parto dan kawan-kawan berlatih perang, mempersiapkan diri untuk kemerdekaan. Sementara saya… saya hanya bisa mengaji dan menahan lapar. Apa guna ilmu saya jika tak bisa membela bangsa?”
Kiai Basyir menghentikan zikirnya. Beliau menatap Harun dengan sorot mata yang teduh namun tajam, seolah mampu menembus kegelapan malam dan kegelisahan jiwa santrinya.
“Harun, apakah jihad itu hanya di medan perang?” tanya Kiai Basyir pelan. “Apakah membela bangsa itu hanya dengan bedil dan bambu runcing?”
Harun terdiam, tak mampu menjawab.
“Anakku,” lanjut sang Kiai, “Jepang merampas padi kita, tapi mereka tidak boleh merampas kemanusiaan kita. Mereka membuat kita lapar, tapi mereka tidak boleh membuat kita kehilangan iman dan akal sehat. Jihad terbesar saat ini bukanlah melawan tentara mereka secara terbuka, karena itu akan membawa kebinasaan yang lebih besar bagi rakyat jelata. Jihad kita ada di sini.”
Kiai Basyir menunjuk ke arah dadanya, lalu ke perutnya. “Jihad kita adalah menjaga perut saudara kita tetap terisi agar mereka bisa berpikir. Menjaga akal mereka tetap waras agar api harapan tidak padam. Menjaga iman mereka agar tidak goyah oleh penderitaan. Itulah medan perang kita yang sesungguhnya.”
Kata-kata Kiai Basyir seperti embun yang menyejukkan hati Harun. Tiba-tiba, ia mengerti.
Beberapa hari kemudian, sebuah pemandangan mengerikan melintas di desa. Serombongan romusha yang baru pulang dari proyek pembangunan benteng digiring seperti ternak. Tubuh mereka tinggal tulang berbalut kulit, tatapan mata mereka kosong tanpa nyawa. Salah seorang dari mereka jatuh tersungkur di depan Harun, tak sanggup lagi melangkah. Seorang serdadu Jepang membentaknya dengan kasar, memaksanya berdiri.
Saat itulah, tekad Harun membulat. Malam itu juga, ia menghadap Kiai Basyir sekali lagi, kali ini bukan dengan kebimbangan, melainkan dengan sebuah rencana.
“Kiai, di belakang pesantren ada lumbung tua yang tersembunyi. Lumbung itu masih menyimpan sisa-sisa panen sebelum Jepang datang, yang Kiai perintahkan untuk diamankan.”
Kiai Basyir mengangguk. “Itu untuk masa-masa paling sulit, Harun.”
“Kiai, masa itu sudah tiba,” jawab Harun mantap.
***
Di bawah keremangan malam, Harun bersama beberapa santri senior kepercayaan Kiai Basyir memulai “jihad” mereka. Mereka tidak membawa senjata, hanya karung-karung goni kecil. Dengan langkah mengendap-endap, mereka membuka lumbung rahasia itu. Aroma padi yang tersimpan rapat menguar, sebuah aroma kehidupan di tengah keputusasaan.
Mereka membagi beras itu ke dalam kantong-kantong kecil. Kemudian, seperti bayangan, mereka menyusuri lorong-lorong desa yang gelap. Di depan setiap rumah yang mereka tahu paling menderita, terutama keluarga para romusha, mereka meletakkan sekantong beras di depan pintu. Tanpa suara, tanpa kata, hanya sebuah isyarat kepedulian.
Tidak ada pekik “Merdeka!” yang heroik. Tidak ada letusan senjata yang membahana. Aksi mereka adalah perlawanan dalam senyap. Setiap butir beras yang mereka bagikan adalah sebuah peluru yang ditembakkan ke jantung kezaliman, sebuah pernyataan bahwa semangat berbagi dan gotong royong bangsa ini tidak akan pernah bisa dijajah.
Suatu subuh, saat Harun kembali ke pesantren, ia berpapasan dengan Parto yang hendak berangkat latihan. Parto menepuk bahu Harun, seragamnya tampak gagah di bawah cahaya fajar.
“Doakan aku, Run. Sebentar lagi kami akan bertempur,” bisik Parto penuh semangat.
Harun tersenyum tulus. “Pasti, To. Doakan aku juga.”
Parto menatap Harun dengan heran. “Mendoakanmu untuk apa? Kau kan hanya di pesantren.”
Harun tidak menjawab. Ia hanya memandang ke arah desa yang mulai terbangun. Ia tahu, di beberapa rumah, ada ibu yang bisa menanak nasi untuk anaknya pagi itu. Ada bapak yang mendapatkan kembali sedikit tenaganya. Di matanya, itu adalah sebuah kemenangan.
Ia sadar sepenuhnya, patriotisme memiliki banyak wajah. Ada yang berwajah garang dengan sangkur di pinggang seperti Parto, dan itu adalah sebuah keberanian. Namun, ada pula yang berwajah tulus dengan sekantong beras di tangan, dan itu adalah sebuah cinta. Keduanya sama-sama berjuang untuk satu tujuan: Tanah Air.
Harun membalikkan badan menuju masjid untuk salat Subuh. Langkahnya terasa ringan. Ia mungkin bukan tentara Pembela Tanah Air dalam seragam, tapi malam itu, ia merasa telah menjadi pembela kehidupan bagi bangsanya. Dan baginya, merdeka bukan sekadar pekik di ujung laras bedil, tapi denyut kehidupan di setiap butir nasi yang dibagikan dalam senyap. Selesai


















