
Pagi Pulihkan Luka
Fajar datang seperti jari emas Tuhan
menyingkap tirai malam yang pekat membelenggu
embun menetes
air mata bumi yang ikhlas
mencuci luka semalam yang menganga pilu
angin berbisik lembut di sela dedaunan
menjadi perawat setia meniup perih dada
burung berzikir
mimbar ranting syairkan doa
mengajak jiwa yang retak pulang ke cahaya
mentari menuang madu di atas atap tua
menghangatkan dingin hati yang mati rasa
pagi ini
surga turun perlahan ke bumi
memeluk luka
lalu berbisik
sembuh lah Kamu
Adzan Membelah Gelap
Langit masih buta
malam menggenggam bumi dengan jari esnya
sunyi menebal seperti selimut besi di atas desa yang tertidur
tiba-tiba adzan datang sebagai pedang cahaya
membelah gelap yang lama menancap di dada dunia
suara itu bukan sekadar seruan
Ia sungai rahmat
mengalir deras
membasuh dosa yang mengering di pelupuk
masjid tua pun jadi mercusuar
menaranya menunjuk langit
sambil memanggil jiwa-jiwa yang tersesat dalam lelap
Hayya ‘alash shalaah katanya
dan fajar pun malu
menampakkan wajah emasnya
rona malu sang mentari
gelap kalah telak
lari tunggang-langgang tanpa jejak
sebab setiap adzan adalah janji
bahwa setiap malam
sepekat apapun
pasti disayat terang
Pelukan Pertama Sang Mentari
Malam pergi menyeret selimut hitamnya
malu-malu
fajar menyelinap masuk lewat celah jendela tua
membawa pelukan pertama sang mentari yang hangat
cahaya itu jari emas
mengelus pipi bumi yang menggigil
embun di rumput berkilau bagai air mata sukacita
saksi bisu malam yang luruh tanpa suara
angin jadi perantara
membisikkan doa pada dedaunan
sementara burung bersyair di mimbar ranting rindang
atap seng memerah
dipeluk sinar yang tak pernah pilih kasih
menghangatkan luka dingin hati yang semalam membatu
pagi ini langit menunduk rendah
menabur harapan baru
bangkitlah dan sujudlah
awal baru sudah menanti


















