Lelaki yang Menyimpan Air Mata

3
Sebuah ilustrasi cerita

Tidak semua orang yang terlihat kuat sedang baik-baik saja. Ada manusia yang sepanjang hidupnya belajar menyembunyikan retak di dalam dirinya. Bukan karena mereka tidak memiliki luka, melainkan karena sejak kecil mereka percaya bahwa menunjukkan rasa sakit adalah tanda kelemahan.

Arman adalah salah satunya.

Di mata banyak orang, Arman adalah lelaki yang tenang. Ia selalu tampak baik-baik saja. Ketika seseorang memiliki masalah, Arman menjadi tempat pertama untuk mengadu. Ketika ada yang ingin bercerita, mereka akan mencarinya ke mana pun ia pergi. Ketika seseorang membutuhkan bantuan, namanya hampir selalu disebut paling awal.

Arman selalu ada.

Ia menjadi tempat orang lain meletakkan beban, tanpa pernah meminta siapa pun mengangkat bebannya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Aku heran sama kamu, Man,” kata sahabatnya suatu sore. “Kamu itu kayak nggak pernah punya masalah.”

Arman tersenyum tipis.

“Memangnya orang yang punya masalah harus kelihatan?” Sahabatnya tertawa dan menganggap itu hanya candaan.

Padahal, Arman sedang mengatakan sesuatu yang sangat jujur. Sebab tidak semua luka datang bersama air mata. Ada luka yang tumbuh diam-diam, menetap di kepala, lalu berubah menjadi alasan seseorang sulit tidur setiap malam.

Sejak ayahnya meninggal dunia, hidup Arman berubah sepenuhnya.

Saat itu usianya baru dua puluh tahun. Usia ketika kebanyakan orang masih sibuk mengejar mimpi, mengenal dunia, atau mencari jati diri. Namun Arman harus belajar menjadi tulang punggung keluarga. Ia harus menggantikan posisi ayahnya, meskipun dirinya sendiri belum siap.

Awalnya ia sering mengeluh dalam hati. Ia marah pada keadaan. Ia takut menghadapi masa depan.

Namun waktu tidak pernah memberi kesempatan kepada siapa pun untuk berlama-lama meratapi kehilangan.

Ketika ibunya bertanya apakah ia sanggup menjalani semua itu, Arman selalu memberikan jawaban yang sama.

“Doakan Arman selalu bisa, Bu.”

Kalau boleh jujur, ada banyak malam ketika ia duduk sendirian di tepi ranjang. Menatap langit-langit kamar yang gelap sambil bertanya pada dirinya sendiri.

“Apakah aku benar-benar bisa? Apakah aku cukup kuat? Apakah aku tidak akan mengecewakan mereka?”

Namun pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah ia sampaikan kepada siapa pun.

Ia tahu hidup akan terus berjalan. Detik menjadi menit. Menit menjadi jam. Hari berubah menjadi bulan, lalu tahun. Dunia tidak berhenti hanya karena seseorang sedang lelah.

Maka Arman terus melangkah.

***

Tahun demi tahun berlalu.

Kini orang-orang melihatnya sebagai sosok yang berhasil. Ia memiliki pekerjaan yang baik. Banyak orang menghormatinya. Bahkan tak sedikit teman yang datang meminta bantuan ketika sedang kesulitan.

Tetapi ada satu hal yang tidak diketahui siapa pun. Semakin dewasa seseorang, terkadang semakin pandai pula ia menyembunyikan kesedihannya.

Hingga suatu malam, adiknya melihat Arman duduk sendirian di teras rumah. Lampu teras yang redup memantulkan bayangan wajah yang asing. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat senyum di sana.

Tidak ada ketenangan yang biasa diperlihatkan Arman. Yang ada hanyalah seorang lelaki yang tampak sangat lelah.

“Kak,” panggil adiknya pelan.

Arman segera mengusap wajahnya dan menoleh.

“Ya?”

Adiknya duduk di sampingnya. Beberapa saat mereka hanya mendengarkan suara jangkrik dan angin malam yang berembus pelan.

Lalu adiknya bertanya,

“Kakak capek, ya?”

Pertanyaan sederhana itu membuat Arman terdiam. Selama ini orang-orang bertanya apakah ia sudah makan.

Mereka bertanya apakah pekerjaannya lancar. Mereka bertanya apakah semuanya baik-baik saja. Tetapi tidak pernah ada yang bertanya apakah ia lelah.

Arman tersenyum kecil. “Nggak kok.”

Adiknya menatapnya lama. “Jangan bohong terus, Kak.”

Kalimat itu terasa seperti mengetuk pintu yang selama bertahun-tahun ia kunci rapat. Perlahan senyum di wajahnya menghilang.

Lalu untuk pertama kalinya, pertahanan yang dibangun sejak kematian ayahnya mulai runtuh.

“Aku cuma takut…” suaranya bergetar. Ia menunduk.

“Kalau aku berhenti kuat, semuanya ikut jatuh.” Adiknya diam.

Arman menarik napas panjang. “Ayah pergi waktu aku belum siap. Jadi aku selalu berpikir aku nggak boleh lemah.”

Malam semakin sunyi.

Lalu sesuatu yang selama bertahun-tahun ia tahan akhirnya jatuh juga. Air mata. Setetes.

Kemudian yang berikutnya. “Aku juga manusia, kan?” bisiknya lirih.

“Aku juga boleh capek, kan?” Adiknya tidak langsung menjawab.

Ia hanya menggenggam tangan kakaknya erat-erat. Karena terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukanlah nasihat. Melainkan kehadiran yang membuatnya merasa tidak harus memikul semuanya sendirian.

Malam itu Arman belajar satu hal yang selama ini tidak pernah ia pahami. Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah runtuh. Menjadi lelaki bukan berarti harus menyimpan semuanya sendiri.

Ada saat ketika seseorang perlu mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Bukan untuk mencari belas kasihan, melainkan agar hatinya memiliki ruang untuk bernapas.

Sejak malam itu, Arman tetap menjadi pribadi yang sama. Ia tetap membantu orang lain. Tetap bekerja keras. Tetap tersenyum dan berusaha menjadi sandaran bagi keluarganya.

Namun ada yang berubah. Ia tidak lagi menganggap air mata sebagai musuh. Ia mulai memahami bahwa manusia tidak diciptakan untuk menjadi batu.