Risalah Nasihat Imam al-Ghazali untuk Santrinya (Bagian-5)

388
Foto: Ghunniyatul Karimah

أَيُّهَا الوَلَدُ، ( وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ) أَمْرٌ، ( وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ)  شُكْرٌ،  (وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ) ذِكْرٌ

Wahai santriku, ayat “Dan shalatlah Tahajud dari sebagian malam sebagai sunnah bagimu” adalah perintah, “Dan pada waktu sahur, mereka memohon ampunan” adalah bentuk syukur, “Orang-orang yang memohon ampunan di waktu sahur” adalah zikir.

قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: ثَلَاثَةُ أَصْوَاتٍ يُحِبُّهَا اللهُ تَعَالَى: صَوْتُ الدِّيْكِ، وَصَوْتُ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ، وَصَوْتُ المُسْتَغْفِرِيْنَ بِالأَسْحَارِ. قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِي رَحْمَةُ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِ: إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى خَلَقَ رِيْحًا تَهُبُّ بِالأَسْحَارِ تَحْمِلُ الأَذْكَارَ وَالإِسْتِغْفَارَ إِلَى المَلِكِ الجَبَّارِ. وَقَالَ أَيْضًا: إِذَا كَانَ أَوَّلُ اللَّيْلِ، يُنَادِي مُنَادٍ مِنْ تَحْتِ العَرْشِ: أَلَا لِيَقُمِ العَابِدُوْنَ. فَيَقُوْمُوْنَ وَيُصَلُّوْنَ مَاشَاءَ اللهُ. ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ فِي شَطْرِ اللَّيْلِ: أَلَا لِيَقُمِ القَانِتُوْنَ. فَيَقُوْمُوْنَ وَيُصَلُّوْنَ إِلَى السَّحَرِ. فَإِذَا كَانَ السَّحَرُ نَادَى مُنَادٍ: أَلَا لِيَقُمِ المُسْتَغْفِرُوْنَ. فَيَقُوْمُوْنَ وَيَسْتَغْفِرُوْنَ. فَإِذَا طَلَعَ الفَجْرُ نَادَى مُنَادٍ: أَلَا لِيَقُمِ الغَافِلُوْنَ. فَيَقُوْمُوْنَ مِنْ فُرُشِهِمْ كَالمَوْتَى نُشِرُوْا مِنْ قُبُوْرِهِمْ

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tiga suara yang disenangi oleh Allah Taala: suara ayam jago, suara orang membaca Al Quran, dan suara orang memohon ampunan di waktu sahur.”

Sufyan at Tsauri –semoga Allah merahmatinya– berkata, “Sesungguhnya Allah SWT menciptakan angin berhembus pada waktu sahur membawa zikir dan istighfar kepada Maliki al-Jabbar.

Sufyan at-Tsauri juga berkata: Pada awal waktu malam, terdengar panggilan dari bawah Arsy, “Wahai para ‘abid (ahli ibadah) hendaklah kalian bangun!”, maka mereka bangun dan shalat dengan kehendak Allah. Kemudian di pertengahan malam, terdengar panggilan, “Wahai qanitun (orang yang berbakti) hendaklah kalian bangun!”, maka mereka bangun dan shalat hingga datang waktu Sahur. Ketika tiba waktu Sahur, terdengar panggilan, “Wahai orang yang memohon ampunan, hendaklah kalian bangun!”, maka mereka bangun dan memohon ampunan (kepada Allah). Dan ketika fajar terbit, terdengar seruan, “Wahai orang yang lalai, hendaklah kalian bangun!”, maka mereka bangun dari kasur mereka seperti mayat yang dibangunkan dari kuburnya.

  Sowan Gus Sholah, Dosen UII Yogyakarta Diwejangi Soal Keindonesiaan dan Keislaman

-o0o-

أَيُّهَا الوَلَدُ، رُوِيَ فِي وَصَايَا لُقْمَانَ الحَكِيْمِ لِابْنِهِ أَنَّهُ قَالَ: يَابُنَيَّ، لَايَكُوْنَنَّ الدِّيْكُ أَكْيَسُ مِنْكَ. يُنَادِي بِالأَسْحَارِ وَأَنْتَ نَائِمٌ. وَلَقَدْ أَحْسَنَ مَنْ قَالَ شِعْرًا

Wahai santriku, diceritakan dalam wasiat Lukman Hakim kepada anaknya. Dia berkata, “Duhai anakku, jangan biarkan ayam jago menjadi lebih cerdik darimu. Ayam jago berkokok di waktu sahur ketika kamu tidur. Sungguh elok apa yang diungkapkan ulama dalam syairnya:

لَقَدْ هَتَفَتْ فِي جُنْحِ لَيْلٍ حَمَامَةٌ * عَلَى فَنَنٍ وَهْنًا وَإِنِّي لَنَائِمُ

Burung merpati telah merintih atas kerapuhannya di tengah malam * di atas ranting, sedangkan aku sedang tidur.

كَذَبْتُ، وَبَيْتِ اللهِ، لَوْ كُنْتُ عَاشِقًا * لَمَا سَبَقَتْنِي بِالبُكَاءِ الحَمَائِمُ

Aku telah berdusta –demi baitullah– jikalau aku adalah orang yang rindu * tentunya burung merpati itu tidak akan mendahuluiku menangis

وَأَزْعَمُ أَنِّي هَائِمٌ ذُوْ صَبَابَةٍ * لِرَبِّي، فَلَا أَبْكِي وَتَبْكِي البَهَائِمُ

Aku mengira bahwa aku adalah orang yang paling bersemangat mencintai * Tuhanku, tetapi aku tidak bisa menangis sementara binatang-binantang sedang menangis.”

-o0o-

أَيُّهَا الوَلَدُ، خُلَاصَةُ العِلْمِ أَنْ تَعْلَمَ الطَّاعَةَ وَالعِبَادَةَ مَا هِيَ. إِعْلَمْ أَنَّ الطَّاعَةَ وَالعِبَادَةَ مُتَابِعَةُ الشَّارِعِ فِي الأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي بِالقَوْلِ وَالفِعْلِ. يَعْنِي: كُلُّ مَا تَقُوْلُ وَتَفْعَلُ وَتَتْرُكُ يَكُوْنُ بِاقْتِدَاءِ الشَّرْعِ، كَمَا لَوْ صُمْتَ يَوْمَ العِيْدِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيْقِ تَكُوْنُ عَاصِيًا، أَوْ صَلَّيْتَ فِي ثَوْبٍ مَغْصُوْبٍ، وَإِنْ كَانَتْ صُوْرَةَ عِبَادَةٍ، تَأْثَمْ

Wahai santriku, inti dari ilmu adalah untuk mengerti ketaatan dan ibadah seperti adanya. Ketahuilah bahwa taat dan ibadah itu patuh kepada Syari’ (Allah) dalam perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya secara lisan maupun perbuatan. Maksudnya, apapun yang kau ucapkan, perbuat, dan tinggalkan harus mengikuti syariat. Seperti halnya jika engkau puasa di hari raya dan hari-hari tasrik, maka kamu telah berbuat maksiat. Atau apabila kamu shalat dengan mengenakan pakaian ghasab (curian), walaupun itu dalam bentuk ibadah, tapi engkau telah melakukan dosa.


*Diterjemahkan oleh Yayan Mustofa dari Kitab Ayuhal Walad, sebuah risalah balasan Imam Abu Hamid al-Ghazali kepada seorang muridnya yang bertanya tentang permasalahannya.