Resolusi Jihad dan Spirit Kebangsaan untuk Generasi Bangsa

39
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz
Resolusi Jihad bukan sekadar dokumen sejarah. Resolusi Jihad merupakan simbol persatuan, pengorbanan, dan tanggung jawab untuk mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa itu menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak datang begitu saja.

Perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan merupakan perjalanan panjang yang penuh pengorbanan. Bangsa ini pernah berada dalam penjajahan bangsa lain selama berabad-abad. Dalam menghadapi penjajahan tersebut, para pahlawan bangsa melakukan berbagai perlawanan, mulai dari Perang Diponegoro hingga berbagai pertempuran di berbagai daerah. Semua itu menjadi bagian dari ikhtiar panjang bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Baca Juga: Gus Kikin Kenang Sejarah Resolusi Jihad

Seiring berjalannya waktu, perjuangan tidak hanya dilakukan melalui peperangan, tetapi juga melalui pembentukan organisasi-organisasi yang menjadi wadah persatuan umat dan bangsa. Salah satu tonggak penting adalah berdirinya Sarekat Dagang Islam pada awal abad ke-20 yang kemudian berkembang menjadi Sarekat Islam. Dinamika perjuangan terus berlangsung dengan lahirnya berbagai organisasi, termasuk Nahdlatul Ulama. Selanjutnya, berbagai kekuatan umat Islam dipersatukan dalam sebuah federasi bernama Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI).

Melalui wadah tersebut, semangat ukhuwah dan kebersamaan semakin kokoh. Persatuan yang dibangun menjadi modal besar bagi bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan. Hingga akhirnya, pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya.

Namun, kemerdekaan tidak serta-merta mengakhiri perjuangan. Setelah proklamasi dikumandangkan, pasukan Inggris dan Belanda kembali datang dengan tujuan menguasai Indonesia. Mereka masuk melalui Jakarta, kemudian bergerak ke Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Ambarawa, dan akhirnya menuju Jawa Timur.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Memoar Resolusi Jihad dan Satu Seperempat Abad Tebuireng

Ketika muncul informasi bahwa pasukan Inggris akan memasuki Surabaya pada 25 Oktober 1945, para ulama yang tergabung dalam Hoofdbestuur Nahdlatul Ulama (HBNU) di Surabaya segera mengadakan sidang. Dalam sidang tersebut, para ulama mengingatkan pemerintah agar mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi ancaman tersebut.

Hasil dari pertemuan itu kemudian melahirkan sebuah keputusan bersejarah yang dikenal sebagai Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945. Resolusi tersebut menjadi seruan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari upaya penjajahan kembali oleh kekuatan asing.

Pertempuran besar pun terjadi. Pada akhir Oktober 1945 terjadi berbagai bentrokan yang menimbulkan banyak korban. Puncaknya adalah pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, sebuah peristiwa heroik yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan. Saat itu bangsa Indonesia berhadapan dengan pasukan Inggris, salah satu pemenang Perang Dunia II yang memiliki kekuatan militer sangat besar.

Banyak pihak memperkirakan Surabaya dapat ditaklukkan hanya dalam hitungan beberapa hari. Namun kenyataannya berbeda. Perlawanan rakyat Indonesia berlangsung sangat sengit. Hingga sekitar seratus hari kemudian, pasukan Inggris baru mampu mendesak para pejuang keluar dari Surabaya, sementara perlawanan terus berlanjut di berbagai daerah. Semangat perjuangan yang lahir dari persatuan bangsa terbukti mampu menghadang kekuatan militer yang jauh lebih besar.

Baca Juga: Resolusi Jihad di Mata Gus Sholah dan Gus Kikin

Dari peristiwa tersebut, terdapat pertanyaan penting yang perlu terus kita renungkan: bagaimana memaknai Resolusi Jihad? Bagaimana memahami ukhuwah yang mampu menyatukan bangsa ini sehingga sanggup menghadapi tekanan dan serangan pasukan asing?

Resolusi Jihad bukan sekadar dokumen sejarah. Resolusi Jihad merupakan simbol persatuan, pengorbanan, dan tanggung jawab untuk mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa itu menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak datang begitu saja pada tahun 1945, melainkan merupakan hasil perjuangan panjang yang dimulai dari berbagai perlawanan terhadap penjajah hingga upaya mempertahankan kemerdekaan setelah proklamasi.

Bagi kalangan ulama dan pesantren, Resolusi Jihad memiliki makna yang sangat istimewa. Peristiwa tersebut menjadi bukti nyata besarnya peran ulama dan pesantren dalam mempertahankan kedaulatan bangsa. Para kiai, santri, dan masyarakat turut berada di garis depan perjuangan demi menjaga kemerdekaan Indonesia.

Oleh karena itu, Khalaqah Kebangsaan ini menjadi sangat penting sebagai sarana menggali, memahami, dan merefleksikan makna Resolusi Jihad bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemahaman tersebut harus terus diwariskan kepada generasi penerus agar semangat kebangsaan tetap hidup dan terjaga dari masa ke masa.

Baca Juga: 2 Alasan Kiai Hasyim Asy’ari Mengeluarkan Fatwa Resolusi Jihad

Generasi muda perlu mengetahui bahwa kemerdekaan yang mereka nikmati hari ini merupakan hasil perjuangan panjang para pendahulu. Dengan memahami sejarah, mereka diharapkan mampu melanjutkan perjuangan dalam bentuk yang sesuai dengan zamannya, yaitu dengan mengisi kemerdekaan melalui pendidikan, pengabdian, persatuan, dan pembangunan bangsa.

Semoga semangat Resolusi Jihad terus berkobar sebagai inspirasi untuk membangun kemaslahatan umat dan bangsa. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk terus menjaga persatuan, memperkuat nilai-nilai keislaman yang moderat, serta mewujudkan cita-cita bangsa menuju negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Saya mengucapkan selamat atas terselenggaranya Khalaqah Kebangsaan ini. Mudah-mudahan berbagai nilai dan pelajaran yang terkandung dalam peristiwa Resolusi Jihad dapat terus digali, dipahami, dan dijadikan spirit serta ibrah bagi perjalanan bangsa Indonesia pada masa kini dan masa yang akan datang.


*Disampaikan dalam acara Khalaqah Kebangsaan, 22 Oktober 2025 di Pesantren Tebuireng.