
Labirin Tanpa Peta
Setelah lama, akhirnya kita terjebak
Dalam fana yang nyata
Memebiarkan rasa itu mengalir deras
Tanpa muara yang pasti
Menyaksikanmu tertawa dengan nama lain
Di balik tirai luka
Menyadari bahwa aku hanyalaj figuran dalam skenario hidupmu
Rindu ini terus tersesat
Mencari arah saat kau jauh dari jangkauan
Terperangkap selamanya dalam labirin yang tak pernah memiliki peta
Pintu yang Tak Terkunci
Aroma parfummu
Menjadi tempat paling nyaman
Meski saling tau tak ada kata kita dalam kamus bersama
Hanya penungu diambang pintu
Yang tak pernah kau kunci
kala merindu
sungguh aku tak tau diri saat kau melangkah jauh
hingga aku terjaga sepanjnag mala menanti pesan singkatmu
merayakan luka
dalam pelukan yang terasa hangat sekaligus membakar nyata dalam fana
Ruang Antara Ada dan Tiada
Kau adalah jangkauan terindah
Tanpa label dari tuntutan yang mengikat
Cukup ada dan saling menenangkan dalam frekuensi yang sama
Sialnya, kenyamanan ini tanpa pagar pelindung yang kuat
Pun saat kau pergi
Rindu ini ingin berteriak namun tertahan
Terjebak dalam ruang kosong yang hampa
Antara kehadiran dan sebuah kehilangan
Sengaja yang kita lupa
Sepakat bahwa kita merawat renjana
Dalam hening yang enggan mengeja nama
Rasa itu bermunculan
Tanpa aksara janji
Menenun harapan
Diatas benang-benang semu
Yang sengaja kita pelihara


















