(Sumber: hijrahhatiq.blogspot.com)
(Sumber: hijrahhatiq.blogspot.com)

Oleh: Fatimatuz Zahro*

Thailand yang dikenal dengan Negara Gajah Putih terletak di kawasan Asia Tenggara. Thailand berbatasan dengan Malaysia, Myanmar, Laos, dan Kamboja. Thailand terbagi atas 76 provinsi yang dihuni lebih dari 67 juta penduduk dengan agama Budha sebagai agama resmi dan agama mayoritas yang dipeluk oleh warganya. Namun, bukan berarti tidak ada agama selain Budha di tanah Thailand yang dikenal pula dengan Negara Siam ini, seperti Islam, Kristen, dan Hindu.

Pemeluk agama Islam tersebar di tanah Thailand terutama di kawasan selatan yang pada abad ke-12 merupakan daerah Kerajaan Pattani yang dikenal dengan Pattani Raya (Pattani Darussalam). Kawasan Pattani Raya ini meliputi Pattani, Yala, Narathiwath, Songkhla dan Satun. Di beberapa wilayah ini lah agama Islam beraliran sunni dan syiah berkembang dengan pesat, sebanyak 10%  atau 7,4 juta jiwa dari jumlah penduduk Thailand telah memeluk agama Islam dengan menyebut dirinya “Muslim-Melayu”.

Beberapa tahun yang lalu terjadi puncak gejolak antara muslim-melayu dengan pihak Kerajaan Thailand tentang wilayah kekuasaan dan agama. Namun, kini Kerajaan Thailand mensupport kehidupan Islam yang dianut sebagian penduduknya dengan melakukan birokrasi melalui seorang mufti yang memperoleh gelar Syaikhul Islam atau dalam bahasa Thailand disebut Chularajmontree. Jabatan mufti ini, secara konstitusional dibentuk oleh Departemen Dalam Negeri. Mufti ini bertugas mengatur kebijakan yang bersangkutan dengan kehidupan muslim seperti penentuan awal serta akhir bulan hijriyah.

Oleh karenanya umat muslim-melayu Thailand Selatan lebih merasa aman dalam melaksanakan ibadah dan syariat agama Islam di daerahnya, termasuk ketika bulan suci Ramadan. Bulan ini lebih terasa oleh masyarakat Thailand sebagai bulan yang penuh berkah. Pasalnya pada bulan ini hampir seluruh masjid ramai dengan amalan-amalan ibadah sepanjang harinya terutama pada 10 hari terakhir. Masjid penuh dengan orang-orang yang melakukan iktikaf dan tadarus Al Quran dan akan pulang ke rumah masing-masing seusai jamaah Shalat Idul Fitri.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Budaya mengaji kitab sebelum berbuka puasa juga ada Thailand. Setiap masjid memiliki jadwal pengajian sendiri-sendiri dengan kitab-kitab yang berbeda-beda. Selain itu, buka puasa bersama hingga shalat sunnah berjamaah juga mudah dijumpai di setiap masjid dan mushalla sebagaimana di Indonesia. Namun, bedanya di Thailand Selatan tidak ada budaya tadarus pasca Shalat Tarawih dan Witir ataupun setelah Shalat Subuh di setiap masjid atau mushalla, dengan memakai pengeras suara.

Selama Bulan Ramadan, lembaga pendidikan berbasis agama Islam di Thailand tidak mengurangi jumlah mata pelajaran sebagaimana hari biasanya, tapi menghilangkan jam makan siang, kegiatan peminatan (esktrakulikuler) dan Shalat Ashar berjamaah, sehingga siswa dapat pulang baik ke rumah maupun ke asrama 1,5 jam lebih awal dari biasanya.

Meskipun masa puasa di Thailand Selatan ini lebih lama satu jam dari Indonesia, tidak menyurutkan semangat beribadah orang Indonesia di tanah dengan seribu pagoda ini terutama para pelajar yang menimba ilmu maupun melaksanakan pengabdian, sebab kondisi cuaca tak jauh berbeda dengan Indonesia. Selain itu, muslim-melayu Thailand juga ramah dan terbuka terhadap warga Indonesia.

Warga Indonesia yang beragama Islam pada bulan puasa selalu mengadakan buka bersama setiap hari Sabtu di kantor konsulat RI tepatnya di Provinsi Songkhla. Menu yang dihidangkan juga menu makanan khas Indonesia dan suasana juga didesain seakan berada di Tanah Air, sehingga dapat mengobati kerinduan warga Indonesia pada suasana Ramadan di kampung halaman.

Dalam hal makanan, sangat mudah bagi warga muslim untuk mencari makanan halal baik yang siap saji maupun bahan mentah di kawasan muslim Thailand ini. Selain mudah dijumpai di kedai muslim pinggir-pinggir jalan setiap sore menjelang buka puasa ataupun di kedai-kedai yang berada di sekitar masjid. Menurut data pada tahun 2007 di Thailand terdapat 3.494 masjid dan 636 terletak di Pattani, Thailand Selatan.

Apabila berada di kawasan non-muslim, maka kedai makanan muslim dapat melihat penjualnya, apabila berkerudung atau mengenakan peci maka ia termasuk kedai makanan halal sebab pembeda antara kedai halal dan tidak halal terdapat pada penjualnya. Sumber ini diperoleh dari pengarahan yang diberikan kepada pelajar dan mahasiswa Indonesia yang berada di Thailand. Apabila ragu dengan produk halal, Thailand memiliki badan yang menjamin kehalalan produk Thailand, yaitu The Halal Science Centre, Chulalongkorn University, Thailand dan dapat dicari produk halal pada web tersebut.

Begitulah muslim Indonesia yang menjalani Ramadan di Thailand, negeri mayoritas Budha. Tak seperti dulu, sekarang muslim Thailand dapat secara bebas menjalankan ibadah sesuai syariat Islam. Pemerintah hanya mengawasi keamanan dan pencegahan terhadap tindakan terorisme saja. Selebihnya, kebebasan dalam menjalankan ibadah sangat dijunjung tinggi, tidak seperti bayangan banyak orang. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan.


*Mahasiswi Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng dan sekarang sedang menjalani KKN Internasional di Thailand Selatan selama 5 bulan.

SebelumnyaBerpuasalah Seperti Ulat, Jangan Seperti Ular!
BerikutnyaOrang yang Wajib Taklid Menurut Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari