Ramadan dan Syawal

1604

Oleh KH. Musta’in Syafi’i

إن الْحَمْدَ لِلهِ . نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ . وَ نَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّابَعْدُ.

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ . اِتَّقُوْ اللهَ ,اِتَّقُوْ اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. أعوذبالله من الشيطان الرجيم. قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى .وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى  صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ

Delapan kali al-Quran menyebut kata shiyam dan sekali menyebut dengan kata shoum. Kata shiyam lebih diorientasikan pada pemaknaan menahan makan minum sedangkan satu kata shoum diproyeksikan untuk menahan bicara, mengendalikan nafsu bicara yang buruk, yang tidak berarti.

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا. فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَإِنْسِيًّا (مريم : ٢٦

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kata shoum disini diproyeksikan untuk falan ukallimal yauma insiyya. Benarkah bahwa manusia harus dipuasakan? Iya, dipaksa agar bisa mengendalikan diri dari nafsu-nafsu keserakahan. Untuk itu, benarkah manusia harus sesekali mulutnya itu dibuntu, dikunci agar tidak berbicara yang mubadzir. Syariah menekankan itulah yang ada di dalam syariat shalat dimana manusia tidak boleh berbicara dengan yang lain. Hanya berkomunikasi dengan Tuhan saja. Sekali keluar dari aturan ini maka shalat, komunikasi dianggap batal.

Begitu pula di dalam acara khutbah jumat, yang berhak bicara hanyalah khotib. Khutbah enak atau tidak enak harus mau mendengarkan, tidak boleh membantah. Yang  cerewet, atau yang menggugat malah shalat jumatnya dikonduite sebagai tidak baik. Itulah yang disebut falan ukallimal yauma insiyya.

Seorang sarjana melakukan penelitian tentang bagaimana seorang manusia ini dalam sifat kerakusan. Ada kerumunan anak TK, biasanya TK di Amerika itu langsung ada boarding school dan ada makan-makan pada siang hari sekitar jam 12 atau 11. Anak itu waktu jam makan tidak diberi makan, dibiarkan saja disuruh bermain. Mereka bermain dengan riang gembira, suka hati, bercengkrama, bergurau, senyum, tertawa, dan lain-lain.

Tiba-tiba dalam kerumunan itu seorang peneliti melempar coklat, melempar sejenis manisan yang paling disukai oleh anak Amerika. Coklat dilempar di tengah kerumunan mereka yang sedang bermain, apa yang terjadi? Suasana yang begitu akrab, senyum, bersaudara, saling pengertian seperti itu tiba-tiba berubah. Berubah menjadi gaduh, berebut, dan bertengkar demi merebut coklat dan permen tersebut.

Peneliti ini mengakui, betul. Manusia perlu dipuasakan. Soal makan saja, orang bisa bertengkar, juga bisa membunuh. Mereka berebut, saling sikut-sikutan, dan yang besar (tubuhnya) biasanya dapat banyak.

Baik, penelitian berhasil bahwa manusia memang begitulah. Berebut masalah rezeki, atau masalah sumber pangan bisa berubah menjadi pertumpahan darah. Ada yang dapat banyak, ada yang tidak dapat. Kemudian diteliti lagi, apakah mereka mau berbagi? Jawabannya tidak, jarang sekali mereka yang mau berbagi. Maka benar, agama Islam mensyariatkan setelah puasa itu mengeluarkan zakat, dipaksa mengeluarkan zakat itu.

Dengan demikian maka orang menjadi bersih, setelah puasa satu bulan penuh, berzakat, dan bertakbir. Inilah yang mengagumkan, memangnya mau perang? Malam hari bertakbir seperti itu, pagi hari bahkan khotib juga, imam juga. Mengimami shalat didahului dengan takbir tujuh kali kemudian lima kali rakaat kedua. Khatib juga begitu, khutbah pertama, sembilan. Khutbah kedua, tujuh. Memangnya mau perang?

Benar, kita mau perang dengan musuh yang tak terlihat, maka harus berlindung diri menyebut kebesaran asma Allah. Allahu Akbar. Untuk itu, pemaknaan-pemaknaan yang ada di dalam Idul Fitri, sesungguhnya adalah makna yang sudah dimodifikasi oleh para ulama-ulama yang ahli. Ada tiga kata, yang penyebutannya beda dan maknanya beda dalam tradisi bahasa Arab.

Meskipun seluruhnya bersumber dari عاد – يعود عَوْدٌ itu artinya kembali. Kalau عُوْدٌ artinya gutik, kayu kecil. Tapi kalau  عِيْدٌ itu artinya Hari Raya, hari pesta. Al-Quran menyebut kata عِيْدٌ itu bukan untuk makna kembali tapi makna pesta.

🤔  Menjaga Iman dan Takwa

 أَنْزِلْ عَلَيْنَا مائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيْدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا (المائدة : ۱۱٤

Jadi tidak relevan Idulfitri dimaknai kembali ke kesucian, itu tidak relevan. Darimana konotasinya? Kecuali kalau dibaca عَوْد, ini عِيْد pesta. Kemudian digandeng dengan  فِطْرُ,فِطَر tidak sama dengan  فطرة . Kalau    فطرة memang kesucian. Tapi kalau فِطَر itu sarapan pagi, yang aslinya عِيْد فِطْر adalah pesta sarapan pagi dimana dalam satu bulan penuh tidak boleh sarapan untuk puasa. Asli maknanya seperti itu, kalau عِيْد dipaksakan untuk makna ‘kembali’ lalu عيد الآضحى apa maknanya.

Dengan demikian rekaan-rekaan filologis, lompatan pendekatan dari pendekatan filologis menjadi pendekatan aksiologi. Guna dilakukan para ulama عِيْد dimungkinkan dari kata عِوْد lalu wawu-nya diganti untuk keselarasan lalu menjadi عِيْدyang kemungkinan itu baru mendekati makna kembali. فِطْرُ merupakan penciptaan awal, pendekatan historisitas orang Yahudi mempunyai pesta makan yang disebut عيد الفطير .

Sesungguhnya semua agama itu mensyariatkan puasa. Tetapi umat beragama seperti Yahudi, Nasrani, dan lain-lain itu banyak yang tidak patuh. Yang paling patuh, umat Islam sendiri. Agar tidak sama dengan  عيد الفطير pesta makan-makan orang Yahudi yang tidak mempunyai muatan-muatan spiritual, agama. Maka Islam memberikan satu diktum bahwa orang yang berpuasa sebulan penuh, imanan wahtisaban, malam hari bersujud, dia diampuni dosanya seperti bayi yang baru lahir.

Dasar-dasar inilah yang dipakai oleh para ulama untuk mengarahkan makna idul fitri yang aslinya pesta makan pagi menjadi kembali ke fitroh. Biar tidak sama dengan mayoran, pesta makannya orang Yahudi yang tidak punya makna apa-apa. Karena itu, kehebatan para ulama di dalam mengarahkan idiom-idiom agama menjadi sangat hebat dan terpuji. Sehingga sekarang kita tidak terasa semuanya memberi makna Idulfitri kembali kepada kesucian. Tentu saja bagi puasanya yang betul-betul bernilai imanan wahtisaban.

Orang bisa meneliti atau melacak sejarah bahwa pensyariatan puasa itu merujuk hukum masa lalu yang disebut kama kutiba ‘alalladzina min qoblikum. Persoalannya nabi siapa yang sudah mempunyai syariat puasa. Paling klasik adalah merujuk bagaimana nabiyullah Adam as. yang dideportasi dari surga, persoalannya adalah hanya pelanggaran makan. Kembali lagi bahasan urusan makanan yang menyebabkan Adam dan Hawa’ harus dideportasi keluar dari surga ke bumi ini.

Bukan itu yang dipersoalkan tetapi bagaimana cara bertaubatnya. Adam pun tidak bisa menyelesaikan persoalannya sendiri, bagaimana bertaubatnya. Maka Tuhanlah yang mendidik, fatalaqqo adamu min rabbihi kalimat diberi cara bagaimana bertaubat. Buah yang sudah terlanjur masuk di perut, di steril dengan model puasa, dibersihkan dan dosa pelanggarannya ditobat dengan pendekatan istighfar dan pengakuan bersalah rabbana dholamna anfusana. Disini ada satu makna yang mendalam, bagaimana ketika Tuhan melarang nabi Adam mendekat-dekat buah khuldi dan bagaimana Tuhan menyinggung nabi Adam setelah dia melanggar.

Term dalam al Quran berbeda. Ketika menggunakan bentuk isyaroh. Pada saat melarang nabi Adam dan ibu Hawa’ untuk mendekat pohon, digunakan isyaroh qurba atau dekat dengan bahasa wa la taqroba hadzihis syajarota. Hadzihi adalah isyaroh yang untuk jarak dekat. Dimana antara Allah, Adam, dan musyar ilaih-nya betul-betul dekat, dekat sekali. Orang yang masih dalam naungan Tuhan karena dia tidak melanggar, karena dia tulus.

Tapi perhatikan, ketika Allah mencemooh Adam yang melanggar maka bentuk isyaroh-nya diganti dengan bu’da lilbu’d. Hai Adam Hawa’, alam anharkuma an tilkuma as-Syajaroh. Hadzihi diganti dengan tilkalalilbu’di yang menunjukkan sebuah keterpentalan Adam dari rahmat Allah. Yang bisa diambil satu pelajaran bahwa kemaksiatan itu sedikit apapun, itu berpotensi untuk mementalkan kita berjarak dengan Tuhan.

Mudah-mudahan dengan Ramadan dan kita selesai pada bulan Syawal ini kita betul-betul bersih. Allah mengampuni dan diantara kita semuanya saling memaafkan. Minal aidzin al faizin taqobbalallahu minna wa minkum shiyama wal qiyam.