Lolos Kampus Internasional, Razfa Santri SMA Trensains Tebuireng Pilih Teknik Sipil di Uzbekistan

24

Tebuireng.online- Salah satu lulusan SMA Trensains Tebuireng, Muhammad Razfa Utama, berhasil diterima di Turin Polytechnic University in Tashkent, Uzbekistan, pada program Bachelor of Science in Civil Engineering. Pencapaian tersebut, menurutnya menjadi langkah awal dalam mewujudkan cita-citanya berkarier di bidang pembangunan infrastruktur sekaligus berkontribusi bagi kemajuan Indonesia melalui ilmu yang diperolehnya di luar negeri.

Baca Juga: Cetak Ilmuwan Muslim Global, SMA Trensains Tebuireng Bidik Target 50 Siswa Kuliah di Luar Negeri

Ketertarikan Razfa terhadap dunia konstruksi telah tumbuh sejak kecil. Kegemarannya menggambar bangunan dan tata kota membuatnya bercita-cita menekuni bidang arsitektur maupun teknik sipil. Setelah mempelajari lebih dalam, ia memilih teknik sipil karena dinilai memberikan kompetensi yang lebih luas, seperti manajemen proyek, kemampuan analisis, perencanaan, serta penyelesaian berbagai persoalan pembangunan.

Sementara itu, Uzbekistan dipilih sebagai negara tujuan karena menawarkan lingkungan akademik yang kaya akan sejarah, budaya, dan kehidupan sosial yang stabil sehingga dinilai ideal untuk menunjang proses belajar.

Razfa mengaku sangat bersyukur saat menerima kabar kelulusannya. Baginya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari persiapan yang telah dilakukan selama kurang lebih dua tahun, sekaligus menjadi bukti bahwa doa dan ikhtiar yang disertai ketulusan akan memperoleh hasil terbaik atas izin Allah SWT.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: Althaf Yusuf, Santri Keturunan Kanada yang Memilih Nyantri di Tebuireng

Untuk dapat diterima di universitas tersebut, Razfa harus memenuhi berbagai persyaratan, mulai dari paspor, rapor, ijazah, sertifikat IELTS, hingga dokumen pendukung lainnya. Setelah mendaftar melalui laman resmi universitas, ia mengikuti ujian masuk sesuai bidang studi yang dipilih.

Ketika dinyatakan lolos dan memperoleh Letter of Acceptance, ia diminta menyelesaikan pembayaran semester pertama sebelum proses pengurusan visa pelajar dilakukan. Meski tidak memiliki banyak prestasi perlombaan yang relevan, ia berhasil meraih skor IELTS Band 6,5, melampaui syarat minimal yang ditetapkan kampus.

Impian untuk menempuh pendidikan di luar negeri mulai tumbuh ketika ia duduk di kelas XI SMA. Negara tujuan yang diincarnya sempat berganti dari Qatar, Inggris, hingga Australia sebelum akhirnya memilih Uzbekistan. Selama proses persiapan, Razfa harus membagi waktu antara kegiatan sekolah, pondok pesantren, dan persiapan kuliah.

Kurikulum sekolah yang lebih berorientasi pada seleksi perguruan tinggi dalam negeri membuatnya belajar secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan seleksi internasional. Ia menyiasatinya dengan mengurangi aktivitas yang kurang penting dan memanfaatkan waktu luang untuk belajar secara konsisten.

Dalam perjalanannya, sang ibu menjadi sosok yang paling berperan. Di tengah keterbatasan akses internet selama berada di pesantren, ibunya aktif membantu mencari informasi mengenai berbagai universitas luar negeri, memberikan motivasi, sekaligus mendukung seluruh kebutuhan selama proses pendaftaran. Sementara itu, Razfa juga memanfaatkan fasilitas sekolah untuk mencari informasi dan menyelesaikan berbagai administrasi secara mandiri.

Persiapan bahasa Inggris menjadi salah satu fokus utamanya. Kemampuan dasar telah dibangun sejak kecil, kemudian terus diasah selama bersekolah melalui komunikasi aktif, mendengarkan berbagai konten berbahasa Inggris, dan berlatih berbicara secara mandiri. Setelah lulus, ia semakin intensif mempersiapkan diri menghadapi IELTS melalui latihan soal, memperkaya kosakata, serta berdiskusi dengan teman dari luar negeri melalui media sosial.

Menurut Razfa, proses seleksi perguruan tinggi luar negeri tidak hanya melihat prestasi akademik, tetapi juga karakter, motivasi, dan visi calon mahasiswa. Karena itu, ia menyarankan agar pelajar mampu menyusun personal statement atau motivation letter yang menjelaskan tujuan, alasan memilih bidang studi, serta kontribusi yang ingin diberikan di masa depan.

Baca Juga: Prestasi Internasional! Siswi SMA Trensains Tebuireng Raih Honorable Mention di AYIMUN 2026

Razfa juga mengakui bahwa SMA Trensains Tebuireng dan Pesantren Sains Tebuireng memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan pola pikirnya. Lingkungan sekolah yang kompetitif mendorongnya menjadi pribadi yang lebih kritis dan solutif, sedangkan kehidupan di pesantren mengajarkannya kedisiplinan, keteguhan prinsip, serta nilai-nilai kesabaran yang menjadi bekal menghadapi kehidupan.

“Bagi saya, doa dan ikhtiar merupakan fondasi utama dalam kehidupan seorang muslim sebagai wujud tawakal kepada Allah. Namun, keduanya akan menjadi lebih sempurna apabila dijalani dengan penuh ketulusan,” tuturnya saat diwawancarai melalui sambungan WhatsApp (14/7).

Ia menyatakan bahwa ketulusan untuk bersabar dalam setiap proses, menjalani tirakat dengan ikhlas, menerima setiap keadaan yang dihadapi, tetap berlapang dada di mana pun ditempatkan, serta senantiasa bersyukur atas segala nikmat.

“Dengan ketulusan itulah, saya percaya Allah akan memberikan ridha-Nya dan memudahkan jalan kita dalam meraih setiap cita-cita,” imbuhnya.

Santri yang sebelumnya pernah bercita-cita ke Qatar itu, mengungkap ingin menjadi bagian dari Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Uzbekistan untuk membuka peluang yang lebih luas bagi pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studi di negara tersebut.

“Setelah menyelesaikan pendidikan, saya berkomitmen kembali ke Indonesia dan turut berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia serta kemajuan bangsa,” harapnya.

Baca Juga: Raih 3 Medali di Ajang Berbeda, Siswa Ini Harumkan Nama SMA Trensains Tebuireng

Menutup kisahnya, santri asal Jakarta Selatan itu mengajak generasi muda agar berani mengambil kesempatan belajar di luar negeri.

“Berani melangkah ke tempat yang baru adalah tanda bahwa kita siap menjadi yang terbaik. Jika ingin membawa perubahan dalam skala dunia, maka kita harus mengenal dunia. Menempuh pendidikan di luar negeri adalah langkah besar yang akan mendukung proses meraih cita-cita,” tutupnya memotivasi.