
Tuhan, aku pulang / tapi tanpa apa-apa / hanya lelah yang kupikul dari dunia / pincang langkahku oleh ragu / namun, arahku masih pada-Mu*
Makna yang Tertinggal
Banyak kata yang tak sempat terucap
Pada doa aku titipkan ruang jeda
Tanpa menoleh, waktu berjalan
Meninggalkan semua sisa sia kepingan rasa
Yang tak sempat di beri nama
Langkah pulang yang membawa sunyi
Lupa caranya pamit seperti senja
Ada tanya yang bergemuruh di dada
Mengapa yang pergi selalu utuh?
Sementara yang tinggal belajar merelakan?
Tak semua kehilangan adalah tentang air mata
Ada yang hanya menyisakan makna meski tertingal
Menjadi guru bagi hati
Agar ebih jujur saat mencinta
Dan lebih Ikhlas saat melepas
Lepas Dari Memiliki
Mencintai tanpa menggenggam
Membiarkan rasa itu tumbuh menjalar
Dan akhirnya mengerti
Tak semua yang singgah
Di takdirkan untuk menetap
Memiliki kadang hanya ilusi
Sedang melepaskan adalah ruang paling sunyi
Dari keberanian hati
Yang tidak ingin memakasa hati lainnya
Sekarang, langakah terasa ringan
Tanpa takut kehilangan apapun
Karena yang benar-benar tinggal
Tak pernah perlu dimiliki
Tuhan, Aku Pulang tanpa Apa-apa
Tuhan, aku pulang
Tapi tanpa apa-apa
Hanya lelah yang kupikul dari dunia
Pincang langkahku oleh ragu
Namun, arahku masih pada-Mu
Aku datang tanpa kemenangan
Maksiat dan nafsu yang telah mengalahkanku
Tak ada yang dibanggakan
Hanya hati yang belajar jujur
Bahwa tak semua doa terjawab cepat
Jika amal ini kosong,
Biarlah penuh oleh ridho dan ampun-Mu
Dzikir yang Menjadi Nafas
Nama-Mu selalu berulang dalam diam
Mengalir pelan bersama hebusan dada
Mencoba Ikhlas
Melepas yang sudah menjadi takdir dari-Mu
Saat aksara tak lagi mampu berdiri
Dzikir yang menjadi tempat pulang hati
Menjadi penopang
Di sela resah dan harpa-harap yang kian rapuh
Hingga nafas menemukan maknanya
Bahwa aku hidup karena menyebut-Mu
Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary


















