
Langit sore itu berwarna jingga pucat ketika Pak Rahman menuntun sepeda tuanya menyusuri jalan kampung. Di keranjang depan, hanya ada beberapa plastik berisi pesanan gorengan yang belum terjual. Angin Ramadan berembus lembut, tetapi keringat di pelipisnya tak ikut mengering. Sejak pagi ia berkeliling menjajakan tahu isi dan bakwan, berharap ada sisa lebih yang bisa ia simpan untuk hari raya nanti.
Di rumah kecil berdinding anyaman bambu, Bu Rohmah sedang menakar tepung di baskom plastik yang warnanya mulai pudar. Tangannya cekatan mengaduk adonan kue kering pesanan tetangga. Sesekali ia berhenti, memijat pergelangan yang pegal, lalu kembali tersenyum ketika mendengar suara anaknya melantunkan ayat suci dari surau kecil di ujung gang.
Anak mereka, Aisyah, baru berusia sepuluh tahun. Sejak awal Ramadan, ia tak pernah absen mengaji selepas Ashar. Suaranya bening, tartil, membuat siapa pun yang mendengar merasa damai. Setiap kali ditanya apa yang ia inginkan di hari raya, jawabannya selalu sama, “Aisyah cuma ingin Ayah dan Ibu sehat.”
Namun Pak Rahman tahu, di balik kalimat sederhana itu, tersimpan keinginan kecil yang tak pernah terucap: baju baru seperti teman-temannya, sepatu tanpa sobekan di ujungnya, dan toples kue lebaran yang tak kosong sebelum tamu datang.
***
Malam itu, selepas tarawih, Pak Rahman duduk bersandar di dinding rumah. Lampu pijar redup menggantung di tengah ruangan. Bu Rohmah menyodorkan segelas teh hangat.
“Bang, tadi Bu Rina pesan dua kilo nastar lagi,” ucapnya pelan.
Pak Rahman tersenyum tipis. “Alhamdulillah. Sedikit lagi cukup untuk beli kue kering kesukaan anak kita, dan tentunya baju barunya.”
Bu Rohmah menunduk. Ia tahu suaminya menahan lelah. Sejak awal Ramadan, Pak Rahman mengambil pekerjaan tambahan sebagai buruh bongkar muat di pasar selepas sahur. Siang berjualan, malam membantu membersihkan mushala. Semua dilakukan tanpa keluhan.
“Ayah, Ibu…” suara Aisyah terdengar dari pintu. Ia baru pulang dari tadarus. Tangannya membawa buku iqra yang sampulnya mulai mengelupas. “Tadi Ustadz bilang, siapa yang membahagiakan orang tuanya di bulan Ramadan, Allah akan membahagiakannya juga.”
Pak Rahman dan Bu Rohmah saling pandang. Hati mereka seperti disentuh lembut.
“Kamu sudah membahagiakan Ayah dan Ibu dengan rajin mengaji,” jawab Pak Rahman sambil mengusap kepala putrinya.
Bu Rohmah memeluk putri satu-satunya itu dengan erat. Aisyah tersenyum dalam pelukan hangat ibunya.
***
Hari-hari berlalu cepat. Sepuluh malam terakhir Ramadan tiba. Kampung mulai sibuk. Anak-anak membicarakan baju baru, kembang api, dan kue lebaran. Aisyah hanya tersenyum ketika teman-temannya bertanya, “Baju Lebaranmu warna apa?”
“Belum tahu,” jawabnya lirih. Ia mencoba menyibukkan tangannya dengan melipat-lipat mukenah yang baru saja ia lepas usai Taraweh.
Sedang di sisi lain, di pasar, harga bahan pokok naik. Pak Rahman pulang dengan wajah lebih lelah dari biasanya. Hasil jualannya hari itu tak seberapa. Sementara Bu Rohmah mendapati beberapa pesanan kue dibatalkan karena pembeli memilih merek pabrikan yang lebih murah.
Malam itu, setelah Aisyah tertidur, Pak Rahman membuka kaleng kecil tempat mereka menyimpan uang. Isinya tak seberapa, beberapa lembar uang lusuh dan recehan yang dikumpulkan selama sebulan.
“Masih kurang, Bang,” bisik Bu Rohmah, suaranya bergetar.
Pak Rahman mengangguk. Dadanya terasa sesak, tetapi ia tak ingin istrinya melihatnya rapuh. “Insyaallah cukup. Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.”
Keesokan harinya, sebelum fajar, Pak Rahman sudah berada di pasar. Ia menawarkan diri membantu siapa saja yang membutuhkan tenaga. Siang harinya, ia tetap berjualan. Ketika hujan turun deras, ia tetap berdiri di bawah payung kecilnya, memanggil pembeli dengan suara serak.
Di rumah, Bu Rohmah menyelesaikan pesanan terakhirnya dengan penuh ketelitian. Meski tepung tinggal sedikit, ia memastikan setiap kue matang sempurna. Di sela-sela kesibukan, ia berdoa, “Ya Allah, cukupkanlah rezeki kami agar kami bisa membahagiakan anak kami.”
Dua hari sebelum Idulfitri, sebuah kejutan datang. Pak Hadi, pemilik toko sembako, memanggil Pak Rahman.
“Man, saya lihat kamu kerja keras sekali. Ini ada sedikit rezeki lebih. Anggap saja bonus karena sudah sering bantu angkut barang.”
Pak Rahman terdiam. Amplop kecil itu terasa hangat di tangannya. Ia menahan air mata. “Terima kasih, Pak. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak.”
Dengan uang itu, Pak Rahman dan Bu Rohmah pergi ke pasar malam. Mereka memilihkan Aisyah sepasang baju sederhana berwarna biru muda, warna yang sering dipuji Aisyah ketika melihat langit sore. Mereka juga membeli sedikit bahan untuk membuat kue tambahan dan sekotak kecil sirup merah.
***
Malam takbiran tiba. Suara takbir menggema dari masjid. Di rumah kecil itu, Aisyah memeluk baju barunya dengan mata berbinar.
“Untuk Aisyah?” tanyanya tak percaya.
Bu Rohmah mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Nak. Semoga kamu suka.”
Aisyah memeluk kedua orang tuanya erat-erat. “Terima kasih, Ayah… Ibu… Aisyah janji akan jadi anak yang shalihah.”
Air mata Pak Rahman akhirnya jatuh. Bukan karena lelah, bukan karena kekurangan, tetapi karena bahagia melihat senyum putrinya.
Pagi Idulfitri datang dengan cahaya yang lembut. Rumah kecil itu sederhana, tetapi dipenuhi aroma kue buatan sendiri. Toples-toples kecil tertata rapi di atas meja. Tak banyak, tetapi cukup untuk menyambut tamu dengan wajah berseri.
Sebelum berangkat salat Id, Pak Rahman menggenggam tangan istrinya. “Terima kasih sudah kuat.”
Bu Rohmah menggeleng pelan. “Kita sama-sama berjuang, Bang.”
Aisyah berjalan di antara mereka, mengenakan baju biru mudanya. Wajahnya bersih, matanya berbinar. Di sepanjang jalan, ia menyalami orang-orang dengan sopan, penuh tawadhu.
Pada hari kemenangan itu, mereka mungkin tak memiliki segalanya. Namun mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: kerja keras yang jujur, doa yang tak putus, dan cinta yang tak pernah berkurang.
Di ujung Ramadan, mereka belajar bahwa kebahagiaan bukan tentang seberapa mewah yang dimiliki, melainkan tentang seberapa tulus perjuangan yang dijalani. Dan di antara gema takbir yang berkumandang, keluarga kecil itu berdiri dengan hati yang lapang—karena mereka tahu, Allah telah melihat setiap peluh dan setiap doa yang dipanjatkan dalam sunyi.
Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary


















