Tebuireng.online- Prof. Dr. KH. Imam Suprayogo, Ketua Yayasan Universitas Hasyim Asy’ari menjadi narasumber di Studium General dan Webinar Nasional yang diadakan Program Pascasarjana Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang, dengan tema “Paradigma Pesantren dan Entrepreneurship Pasca Covid-19 & Revolusi Industri 4.0”, pada Minggu (18/10/2020).

“Universitas Hasyim Asy’ari ini memiliki nama besar, tidak hanya dikenal di negara Indonesia saja, akan tetapi dikenal di berbagai negara lain,” ungkap beliau.

Prof. Imam berpendapat, lembaga yang ideal adalah lembaga yang berpendidikan pesantren, mendirikan perguruan tinggi dengan tujuan untuk menghadirkan ulama-ulama yang berintelektual, beliau terinspirasi untuk membuat Ma’had Aly di Perguruan Tinggi Negeri. Menurutnya, lembaga seperti itulah yang mampu menumbuhkan aspek-aspek batin dan aspek zahir. Kedua aspek tersebut dikembangkan secara sempurna. Jika yang zahir saja yang dikembangkan, maka tidak akan bisa menyelesaikan suatu permasalahan.

Ambil contoh Covid-19, harus memakai masker, cuci tangan, jaga jarak dilihat dari sisi pendekatan zahir, dalam pesantren harus menggabungkan pendekatan zahir dan pendekatan batin. Imam Suprayogo memberikan sebuah perumpamaan, “Jika ada gunung meletus, maka menjauhlah. Jika ada gempa, maka keluarlah. Jika ada banjir, carilah tempat yang lebih tinggi, dan seterusnya agar kita selamat. Corona pendekatannya lebih ke spiritual atau dilengkapi dengan mencari tempat yang aman, tempat yang aman menurut spiritual yaitu baitullah. Baitullah, yang ditandai Ibrahim yaitu Ka’bah di tengah-tengah Masjidil Haram, Kitab Taurat menyebutnya jantung alam, kitab Zabur menyebutnya pusar dunia, kitab Injil menyebutnya sumbu alam, kitab al-Quran menyebutnya baitullah. Yang dijadikan sebagai kiblat, maka shalat yang tidak menghadap kiblat shalatnya tidak sah,” terangnya.

Prof. Imam Suprayogo menceritakan pengalamannya, “5 tahun yang lalu pernah sakit dan di kepala ada tumbuh daging, sering dikatakan tumor di kepala, Dr. Daniel menyarankan untuk dibedah. Ada teman yang mengatakan tugasnya dokter adalah mengobati, tapi yang menyembuhkan adalah Allah SWT, akhirnya disarankan ke Baitullah dan membaca shalawat, 5 menit sakit kepala hilang, saat diperiksa ternyata benar-benar sudah hilang. Pendekatan spiritual lebih canggih dibandingkan alat medis,” ceritanya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Di 2 tahun terakhir ini beliau keliling ke berbagai negara Islam. Yaman, Saudi, Al Jazair, Sudan, Maroko, Libia, Yordan, Iraq. Beliau merasa tertinggal karena lambat dalam mengambangkan sains dan teknologi, berbeda di negara yang non-Islam, ekonomi mereka sangat maju. Prof Imam Suprayogo pernah ke Colombia, terdapat 5jt penduduk, yang beragama Islam 152 keluarga Islam mereka maju. Kemudian pergi ke Malaysia, Singapura, Jepang, Belanda, Brussel, Australia, New Zealand, Perancis, Rusia, Amerika Latin, Beliau pergi ke10-15 negara setiap tahun. Tahun 2020 ini hanya ke Baitullah saja. Negara-negara Islam ketinggalan karena lambatnya sains dan teknologi ini. Mungkin perlu ada paradigma baru, tentang agama dan sains teknologi.

Prestasi Prof. Imam yaitu Pemegang Rekor MURI Konsistensi 3 th berturut-turut (2008-2011). Beliau merupakan satu-satunya rektor di dunia yang bisa menaikan status kelas tinggi Agama Islam menjadi Universitas Islam Negeri Pada Juni 2004 lalu, pencetus menghadirkan pondok pesantren di lingkungan kampus. Beliau menamatkan pendidikan SD-SMA di Trenggalek, lanjut S1-S2 di Sunan Ampel Malang, dan S3 di Unair 1998.

Acara ini dilaksanakan via zoom yang dipandu langsung oleh Dr. H. Khoirul Anwar, M.Si yang merupakan dosen sekaligus Wakil Direktur Pascasarjana UNHASY. Dan peserta zoom yang hadir berasal di berbagai daerah. Kuliah daring ini, diisi dua pemateri yang pertama diisi oleh KH. Imam Suprayogo dan kedua diisi oleh Dr. KH. Marzuki Mustamar, M.Ag yang merupakan Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur.


Pewarta: Qona’atun Putri Rahayu

SebelumnyaMenilai Makhluk Tuhan Bernama “Perempuan”
BerikutnyaZikir Utama di Pagi Hari