Rampungkan “Fit and Proper Test”, Pesantren Tebuireng Jaring Calon Pimpinan Mu’allimin dan Pondok

17

Tebuireng.online- Pesantren Tebuireng merampungkan hari terakhir uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) khusus untuk menyaring calon pimpinan Madrasah Mu’allimin dan pimpinan pondok di aula lantai satu Pesantren Tebuireng, Jombang, Rabu (17/06/2026). Agenda ini digelar untuk menggali visi strategis para kandidat demi keberlangsungan masa depan pesantren.

Uji kompetensi pada hari ketiga ini diikuti oleh 28 delegasi lintas unit, dengan rincian 4 calon kepala dan 4 calon wakil kepala Madrasah Mu’allimin, 2 calon wakil kepala pondok putri, 5 calon kepala dan 2 calon wakil kepala Tebuireng Kesamben, 2 calon kepala dan 3 calon wakil kepala Tebuireng Jombok, serta 6 calon kepala pondok putra.

Mudir IV Pesantren Tebuireng, KH. Achmad Roziqi, Lc., M.A., menegaskan bahwa seleksi ini merupakan instrumen penting untuk menghasilkan figur pemimpin yang berkomitmen bagi penguatan kelembagaan ke depan.

“Harapannya kita semua bisa saling berkomitmen dan istiqomah atas gagasan-gagasan baik yang sudah dilahirkan. Mudah-mudahan khidmah kita ini membawa keberkahan untuk kita semuanya,” terangnya.

Salah satu kandidat dari Madrasah Mu’allimin, Mohammad Irfan Usriya, mengungkap kalau berkeinginan memiliki santri yang pintar dan mumpuni dalam membaca kitab, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mengedepankan kualitas daripada kuantitas. Hal ini bisa dilakukan dengan mengembangkan pendidikan dan benar-benar memperhatikan santri saat masa pendaftaran.

“Kalau ingin ada kualitas yang baik tapi teriming-iming oleh godaan yang tidak bermanfaat maka jangan harap keinginan itu bisa terwujud,” pesannya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Terkait dengan kemandirian santri, Mohammad Irfan Usriya juga menambahkan bahwa santri Mu’allimin yang nantinya akan mengajar, hendaknya telah memiliki hafalan. Nantinya, ia berencana untuk kedepannya mempersiapkan para santri dengan kelas-kelas pelatihan. Sehingga ketika telah selesai masa belajarnya santri sudah memiliki pegangan.

Masih dari Madrasah Mu’allimin, Muhammad Cholil Harafi memberi keterangan bahwa Madrasah Mu’allimin akan mengadakan kelas diluar pembelajaran bagi santri-santri yang ingin masuk di perguruan tinggi ataupun mendaftar TNI. Hal ini untuk menepis pemikiran bahwa lulusan Mu’allimin tidak bisa bebas melanjutkan kuliah. Mu’allimin juga akan mengembalikan pendidikan seperti pada masa KH. Hasyim Asy’ari untuk mengedepankan akhlak dan ubudiyyah seperti yang diajarkan juga oleh KH. Salahuddin Wahid.

Baca Juga: Tebuireng Gelar Fit and Proper Test Calon Kepala Sekolah dan Madrasah Tingkat SLTA

Merespon peristiwa bullying yang masih kerap terjadi, Dian Arrij dari pondok putri menegaskan bahwa salah satu penangananya adalah dengan membuat kotak pengaduan. Santri yang mengalami bulllying bisa mengadukannya secara tertulis dikertas lalu memasukkanya pada kotak yang disediakan. Ia menjamin identitas santri akan dirahasiakan dengan baik.

“Agar santri tidak tertekan, kita itu harus sering mengajak komunikasi, sesimpel disapa atau sekedar melempar senyum saat bertemu. Selain itu juga sering-sering mendengarkan mereka,” jelasnya.

Santri akan terbiasa dengan kehadiran pengurus bila pengurus juga mau mendengarkan keluh kesahdan cerita santri. Ia juga menambahkan bahwa akan sellau membuka ruang diskusi bagi santri yang ingin berbagi cerita. Jika hal ini dilakukan, maka akan tumbuh hubungan yang baik antara santri dengan pengurus.

Ahmad Mudfar, salah satu kandidat dari Tebuireng Kesamben, menitikberatkan gagasannya terkait pengelolaan pondok dan madrasah. Ia menjelaskan bahwa antara pondok dengan madrasah harus ada harmonisasi dengan regulasi kebijakan yang lebih jelas. Regulasi ini ditetapkan antara kewenangan pondok dan kewenangan madrasah serta penetapan SOP antara guru di madrasah dengan yayasan agar tidak saling tumpang tindih.

“Tidak boleh ada dikotomi dan tarik menarik antara keduanya karena madrasah dan pondok adalah satu bangunan yang saling menguatkan. Selain itu komunikasi yang efektif juga perlu dibangun untuk hubungan yang lebih seimbang dalam rangka mencapai tujuan bersama,” ucapnya.

Devi Afiyati Sulam, membuka gagasannya untuk mewujudkan green pesantren. Ia akan menyampaikan dan mendiskusikan hal ini bersama kepala pondok bahwa sebagai eco-pesantren, santri harus memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungannya. Sementara itu untuk mengatasi kekurangan pembina, nantinya akan dibuka open recruitment pembina dengan kriteria khusus yang harus dipenuhi.

Baca Juga: 16 Kandidat Adu Gagasan dalam Fit and Proper Test Kepala SLTP dan SD Tebuireng

Kandidat dari Pesantren Sains Tebuireng, Mulya Afif menegaskan integrasi antara pondok dengan sekolah. Ia menyampaikan jika pimpinannya mengutamakan integrasi maka kebijakan-kebijakannya itu akan terintegrasi, termasuk kepentingan pondok dan kepentingan sekolah. Orang yang akan menjembatani antara sekolah dan pondok, tambahnya, adalah orang yang mampu membuat keduanya saling membutuhkan dan saling berproses bersama. Terkait masalah kedisiplinan pembina, Mulya Afif meminta adanya panduan yang tegas terkait dengan tugas dan fungsi pembina beserta sanksinya yang tertulis jelas lengkap dengan SOP.

“Harapan saya nanti ada yang mengimbangi di sekolah dan ada di sekolah sehingga benar benar menyatu antara sekolah dan pondok. Disinilah integrasi yang sesungguhnya,” jelas Mulya Afif.

Mengkonfirmasi adanya penurunan peminat di Tebuireng Sains, Ahmad Syahri Solehan memaparkan bahwa hal itu sudah terjadi dalam dua tahun ini. Ia mengungkap bahwa santri yang masuk pada dua tahun terakhir ini adalah yang dulunya lulus saat masa Covid-19, pun dengan pembina. Hal itu menyebabkan penurunan kemampuan menjadi dibawah rata-rata.

Kandidat dari pondok putra Pesantren Tebuireng, Abdul Mu’in menyebut akan membuka open recruitment kaderisasi di pondok. Hal ini dilatarbelakangi oleh banyaknya santri mengabdi tapi tidak memiliki rasa kepemilikan terhadap pondok. Sehingga nantinya akan dipilih santri-santri yang memang memiliki jiwa loyalitas yang tinggi.

“Sepintar apapun seornag santri tapi kalau tidak cakap dalam berorganisasi maka nantinya akan kurang berguna di masyarakat,” tuturnya.

Selain kaderisasi, Abdul Mu’in juga memaparkan terkait sinergi antara pondok dan sekolah paling minimal adalah adanya grup Bersama yang isinya jajaran pemimpin pondok dan pemimpin sekolah untuk memudahkan sistem komunikasi.

Sementara itu, Muhammad Syifa’ul Fuad, menjelaskan bahwa santri pada masa lampau itu memiliki keberanian untuk tampil di depan. Santri dimasa sekarang harus memiliki pengalaman organisasi di pondok. Walaupun masih belum memiliki banyak ilmu yang dikuasai, tapi jika berani untuk unjuk diri maka secara tidak langsung akan mengasah pengalamannya dengan baik.

“Santri kalau pinter apapun tapi tidak pernah dilatih tampil di depan maka tidak akan berani seterusnya,” ungkapnya.

Syifa’ul Fuad juga menyinggung soal sinergitas antara pondok dan sekolah. Menurutnya, sinkronisasi antara keduanya bisa dilakukan dengan melakukan rapat koordinasi. Rapat ini nantinya diharapkan untuk terlaksana secara rutin dengan mempertimbangkan hal-hal yang terjadi di dalamnya.

Dengan berakhirnya rangkaian Fit & Proper Test pada hari ketiga ini, Pesantren Tebuireng telah menghimpun beragam gagasan, evaluasi, dan visi strategis dari para calon pimpinan. Mulai dari penguatan kualitas pendidikan, pembentukan karakter santri, penanganan persoalan internal, hingga upaya integrasi pondok dan madrasah menjadi catatan penting untuk langkah ke depan. Nantinya juga diharapkan akan lahir pemimpin-pemimpin yang tidak hanya memiliki kapasitas intelektual, tetapi juga memiliki komitmen, loyalitas, dan semangat khidmah demi menjaga serta mengembangkan Pesantren Tebuireng agar tetap relevan, unggul, dan membawa keberkahan bagi seluruh elemen pesantren

Baca Juga: Pesantren Tebuireng Gelar ;Fit and Proper Test; Calon Wakil Kepala Sekolah, Targetkan Standar Internasional


Pewarta: Helfi

Editor: Sutan