sumber ilustrasi: geotimes.co.id

Oleh: Is’ad Durrotun Nabilah*

Kabarnya muslimah hari ini banyak yang menyuarakan hak-haknya yang masih banyak terabaikan, dianggap sepele, dan dipandang sebelah mata. Namun, tidak banyak juga yang menyangkal pemikiran-pemikiran tersebut. Publik masih menganggap bahwa kata kerja ‘menuntut’ amat tidak pas jika disandingkan dengan perempuan.

Terlebih jika pemikirannya terbatas. Dalam artian memandang sosok ‘perempuan baik’ hanya dipandang dari segi taat atau tidaknya, lembut atau kasar tutur katanya, atau seperti yang terlihat dewasa ini, panjang kerudung juga menjadi ukuran seberapa tinggi imannya.

Tapi apakah pemikiran semacam itu adalah benar adanya? Apakah shahabiyah semasa Nabi dulu tidak pernah menuntut sama sekali? Apa justru persepsi semacam itu yang perlu sejak dini kita hindari?

Saya jadi teringat apa yang pernah saya alami sekitar 3 tahun silam. Ketika beberapa universitas sudah membuka pendaftaran mahasiswa baru, dari yang swasta hingga negeri, dari yang dalam negeri hingga luar negeri. Saat itu saya sudah diarahkan untuk fokus memilih satu kampus swasta di Jakarta Selatan, tentu dengan beberapa pertimbangan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun mimpi tiga tahun lalu kembali menghantui, terutama sejak teman-teman mulai mendaftarkan dirinya ke Mesir. Hati mulai tak karuan, seakan ingin mendaftar juga. Mengingat selama 3 tahun belakangan banyak yang menganggap apa yang saya impikan adalah percuma.

‘Toh perempuan juga bakal jadi ibu rumah tangga’ atau ‘Udahlah, perempuan jangan aneh-aneh’. Aneh? Oh jadi kalau itu yang melakukan perempuan dianggap aneh, sedangkan jika laki-laki maka itu adalah hal baik yang sangat patut diapresaisi ya? Hahaha… tapi tentu, pikiran saya saat itu hanya iya iya dan iya. Maklum, saya terbilang santri teladan ‘saat itu’.

Kembali kepada perempuan dan tuntutan. Mengapa di atas saya lampirkan cibiran-cibiran yang pernah saya dapatkan dulu. Tentu, itu adalah bagian kecil dari representasi pandangan patriarki di kalangan masyarakat.

Apa tidak boleh perempuan memiliki mimpi? Apa hanya pantas kuliah dekat-dekat rumah saja? Apakah pasti dinilai sia-sia perempuan dengan sederet gelar yang dimiliki?

Ah, kenapa malah menyamakan standar barometer kesuksesan seseorang dengan ukuran kita, tentunya setiap orang punya standar sukses idealnya masing-masing.

Mengenai siapa akan menjadi apa kelak, dan seberapa sia-sianya seorang perempuan dalam meraih cita-citanya. Bukannya setiap perempuan juga manusia yang dianugerahi akal?

Bukannya dia juga sudah mempertimbangkan segala hal mengenai apa saja yang akan dia dapat juga apa saja yang sedang ia perjuangkan?

Jika kalian masih berpikir akal perempuan itu kurang dari laki-laki, ah akan lebih baik jika anda berlibur ke bikini bottom saja. Kalau masih perlu penjelasan panjang mengenai itu, beberapa pakar sudah menuliskannya. Kiai Husein Muhammad misalnya.

Selagi perempuan tersebut memiliki tanggung jawab terhadap mimpi-mimpi besarnya, mempunyai kegigihan untuk terus bekerja keras dalam meraihnya, mengapa tidak diberi peluang? Jika pun sudah ada peluang mengapa tidak diberi semangat tapi malah dijatuhkan.

Menurut Dr. Rofiah menyebutkan bahwa menyetarakan hak-hak perempuan juga merupakan wujud dari amaliyah ilmu tauhid. Dikatakan dalam salah satu vidionya yang dimuat di laman islamidotco.

“Mengesakan Allah berarti tidak boleh menuhankan manusia, tidak boleh saling memperhamba atau diperhamba. Jika dalam konteks perempuan dan laki-laki maka diantaranya tidak boleh saling menghamba dan diperhamba. Selain itu, konsep tauhid ini juga berkaitan erat dengan amanah melekat setiap manusia. Yaitu, menjadi khalifah di bumi, maka laki-laki dan perempuan yang memegang prinsip tauhid akan bekerja sama dalam membangun kemaslahatan.”

Mari sama-sama menjadi teman, sahabat, juga kerabat yang baik, dengan mendukung perempuan satu sama lain. Ingat, perempuan juga manusia. Kalaupun tidak bisa memberi dukungan, setidaknya jangan menjatuhkan.

Sekali lagi, mengatakan kalimat-kalimat seperti ini: “setinggi apapun gelar perempuan dia hanya akan jadi ibu rumah tangga”, “sekolah di mana pun itu sama saja, sebaiknya perempuan jangan jauh-jauh” kepada para perempuan yang sudah merancang tinggi mimpi-mimpinya, hanya akan menjatuhkan mentalnya, dan tentu menunjukkan betapa cupetnya pandanganmu. Eeh…

*Alumni MTs-MASS Tebuireng, saat ini melanjutkan pendidikan tinggi di Al Azhar Mesir.

SebelumnyaCandu
BerikutnyaProf. Imam Sebut Ciri Lembaga yang Ideal