
Perempuan Buruh
Ia bangun sebelum matahari sempat bernapas
menyeduh harapan dalam gelas yang retak
langkahnya pelan, tapi tekadnya keras
sekeras pabrik yang menunggu tubuhnya
Di jalan sempit yang hafal namanya
ia berjalan tanpa banyak tanya
bersama debu dan sisa mimpi semalam
ia titipkan doa pada langit yang masih kelam
Tangannya bukan sekadar tangan
ia adalah cerita tentang bertahan
tentang perut yang harus diisi
dan hidup yang tak boleh berhenti.
Menukar Waktu
Di antara deru mesin dan peluh yang asin
ia menjahit hari demi hari yang nyaris putus
waktu tak lagi miliknya
ia telah dijual bersama tenaga dan luka
Tak ada puisi di sela istirahat singkat
hanya nasi dingin dan pikiran yang penat
namun matanya tetap menyala
meski dunia seakan tak pernah menyapa
Ia tahu lelah bukan alasan
karena di rumah ada harapan
ada wajah-wajah kecil yang menunggu
dan cinta yang tak pernah jemu
Waktu yang Menguatkan
Saat matahari pulang tanpa pamit
ia masih berdiri, belum benar-benar usai
langkahnya pulang adalah doa panjang
yang dilipat dalam diam dan keikhlasan
Ia mungkin tak tercatat dalam sejarah
tak dikenal sebagai pahlawan megah
namun hidupnya adalah keberanian
yang tumbuh dari kesederhanaan
Perempuan itu
dengan segala sunyi dan letihnya
adalah puisi yang tak pernah selesai
tentang perjuangan yang terus hidup
meski dunia seringkali lupa membaca.
Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary


















