
Tebuireng.online— Empat guru SMP Sains Tebuireng Jombang berhasil menorehkan prestasi dalam Ajang Pendidik dan Tenaga Kependidikan Berprestasi Tingkat Kabupaten Jombang Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang. Kegiatan tersebut diawali dengan sosialisasi pada 20 Januari 2026, sementara penetapan apresiasi bagi guru dan tenaga kependidikan dilaksanakan pada minggu pertama April 2026. Ajang ini diikuti peserta dari seluruh jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga pengawas sekolah se-Kabupaten Jombang.
Baca Juga: Siswa SMP Sains Tebuireng Raih Perunggu Science Olympiad 2026
Dalam kompetisi tersebut, Haerul Anam, S.Pd.I selaku Kepala SMP Sains Tebuireng berhasil meraih Juara 2 kategori Kepala Sekolah Menengah Pertama. Sementara itu, Meylawati Mayasari, S.Pd meraih Juara 3 kategori Guru Sekolah Menengah Pertama, Suryatin Ardiningsih, S.Pd meraih Juara Harapan 1 kategori Guru Sekolah Menengah Pertama, dan Octayani Syarifah Noor Asmara, S.Pd meraih Juara Harapan 2 kategori Guru Sekolah Menengah Pertama.
Saat ditemui langsung oleh tim Tebuireng Online pada Ahad (26/4), Haerul Anam menjelaskan bahwa seluruh peserta diwajibkan mengirimkan karya berupa esai sepanjang 1.500 hingga 2.000 kata yang memuat inovasi pembelajaran maupun program yang telah diterapkan di sekolah.
“Esai terkait apa yang sudah kita lakukan di sekolah, inovasi yang sudah kita lakukan,” jelasnya.
Selain esai, peserta juga diwajibkan membuat video presentasi berdurasi 10 menit dan mengikuti tahapan psikotes, wawancara, serta presentasi di hadapan dewan juri.
Baca Juga: Siswa SMP Sains Tebuireng Raih Juara di Ajang Tolak Peluru Kabupaten
Pada tahun ini, Haerul Anam mengangkat judul pendekatan PPARE (Pahamkan, Paksakan, Apresiasi, Refleksi) sebagai strategi meningkatkan motivasi guru agar lebih totalitas dalam menjalankan tugasnya.
“Untuk meningkatkan motivasi guru agar totalitas, pahamkan dulu kita kasih pelatihan, paksakan dalam sebuah lomba, kalau sudah seperti itu kita apresiasi,” tuturnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa tahun ini merupakan kali keempat dirinya mengikuti ajang tersebut. Pada tahun pertama ia meraih peringkat delapan, tahun kedua peringkat empat, tahun ketiga peringkat lima, dan tahun ini berhasil naik menjadi juara dua.
“Tujuan saya mudah-mudahan bisa bermanfaat dan menginspirasi guru-guru lain,” tambahnya.
Berbeda dengan Haerul Anam, guru Matematika SMP Sains Tebuireng, Meylawati Mayasari, menciptakan inovasi permainan pembelajaran matematika melalui esai berjudul LUP (Lihat, Ungkap, Perbaiki).
Baca Juga: Siswa SMP Sains Tebuireng Raih Silver Medal di MORPH 2026
“Saya membuat sistem mainan untuk pembelajaran, saya membuat sendiri, dan berasal dari kesalahan siswa saat pengerjaan tugas,” jelasnya.
Ia menerapkan metode tersebut dengan membagi proses pembelajaran menjadi dua tahap. Pada hari pertama siswa mengerjakan LKPD, kemudian hasil pekerjaan dikoreksi untuk mencari beberapa jawaban yang salah dan dijadikan bahan analisis pada pertemuan berikutnya.
Games dilakukan secara berkelompok dengan menganalisis empat LKPD yang berisi kesalahan konsep, kesalahan rumus, maupun kesalahan perhitungan.
“Saya tutup nama LKPD, baru anak-anak yang mengoreksi,” ujarnya.
Meylawati mengaku baru dua kali mengikuti kompetisi tersebut dan merasa bersyukur karena inovasinya mendapat respons positif.
“Senang bisa bermanfaat, saya ditawari buat artikel untuk jurnal, memberikan inspirasi, bisa membuat games yang lebih seru,” katanya.
Ia juga mengungkapkan tantangan terbesar selama proses lomba adalah saat pengambilan video presentasi. “Kesulitan pada waktu sih, pas take video butuh waktu yang lama, hasilnya punya saya 9 menit lebih,” tambahnya.
Baca Juga: Siswa SMP Sains Tebuireng Raih Juara 1 Olimpiade IPA Nasional OSIRIS
Sementara itu, guru Seni Budaya SMP Sains Tebuireng, Octayani Syarifah Noor Asmara, mengusung inovasi bertajuk Si Ruca (Seni Rupa Educational Games), sebuah permainan edukatif berbentuk ular tangga digital yang ditampilkan melalui layar televisi besar.
“Saya menganalisa ini sejak lama karena anak sini kan eksakta, IPA hitung-hitungan, terhitung sekitar 62 persen anak sini tertarik dengan pelajaran yang ada permainannya,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa permainan tersebut dirancang agar siswa lebih aktif dan interaktif saat mengikuti pembelajaran seni budaya.
“Pembuatan permainannya ada pionnya, menganalisanya diaplikasikan ke Si Ruca jadi anak-anaknya juga senang, semakin interaktif,” ujarnya.
Octayani mengaku kompetisi ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti lomba tingkat kabupaten.
“Alhamdulillah bisa berbagi ilmu baik, terus kita juga bisa mengembangkan potensi diri, inovasi terbaru di dunia pendidikan, dan alhamdulillahnya lagi saya hoki dan keberuntungan bisa dapat juara,” tuturnya.
Di sisi lain, guru IPA SMP Sains Tebuireng, Suryatin Ardiningsih, memperkenalkan inovasi berupa modifikasi permainan monopoli untuk materi bioteknologi.
Dalam inovasinya, kartu kesempatan dan dana umum dimodifikasi menjadi bank soal, sementara setiap negara diganti menjadi agen bioteknologi. Metode tersebut dirancang agar siswa lebih mudah menghafal materi sekaligus memahami peran agen bioteknologi yang banyak menggunakan istilah ilmiah asing.
Baca Juga: Workshop Hertech di SMP Sains Tebuireng Bahas Pemanfaatan dan Risiko AI
Menurutnya, inovasi tersebut dilatarbelakangi perubahan kebijakan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga bagaimana pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan melalui gamifikasi.
Ia juga menyebut keikutsertaannya dalam lomba tersebut merupakan implementasi dari program sekolah dalam mendorong guru menciptakan media pembelajaran interaktif.
“Agar hasil dari kegiatan tidak berhenti di sekolah dan dapat dimanfaatkan atau dikembangkan lebih luas,” ujarnya.
Suryatin mengaku bersyukur atas capaian yang diraih, sekaligus menegaskan bahwa penghargaan bukanlah tujuan utama dalam proses pembelajaran.
“Sangat bersyukur, namun banyak pihak yang telah membantu saya. Baik dari kepala sekolah, teman guru, dan siswa saya. Tanpa peran dan kerja sama dari semua pihak tersebut pasti akan berat, namun juara bukan tujuan utama. Yang menjadi concern adalah bagaimana setiap pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan untuk siswa,” pungkasnya.
Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary


















