Oleh: Zainuddin El Zamid*

Penilaian dari orang lain terhadap diri kita itu antara penting dan tidak penting. Penting jika itu bisa menjadi modal untuk merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak penting apabila penilaian itu justru merusak mental, menghancurkan semangat untuk berbuat dan berkarya.

Penilaian dari orang lain terhadap kita bisa berbagai macam bentuknya. Adapun bentuk penilaian itu bisa berupa pengakuan secara langsung atau tidak langsung. Lewat pujian atau nyinyiran.  Bisa juga lewat kritik, baik kritikan yang sifatnya transformatif maupun kritikan yang sifatnya menjatuhkan atau destruktif.

Kritik itu sendiri bisa diartikan sebagai ekspresi ketidaksukaan atau ketidaksetujuan terhadap sesuatu. Baik pemikiran, ucapan, atau perbuatan. Ketika ada kritikan datang, itu berarti seseorang sedang menilai atau mengevaluasi sikap, ucapan, gagasan, pemikiran dan apapun yang lahir dari diri kita, termasuk penampilan. Bahkan hal-hal yang tidak penting sekalipun biasanya dikritik. Misal, saat memiliki barang baru. “ngapain sih beli ini, mendingan beli itu.” Ya begitulah. Namanya juga hidup.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Biasanya kritik disertai dengan perbandingan. Ya, seperti yang penulis sebut di atas tadi. Perbandingannya bisa dengan nilai-nilai norma, agama, kepantasan, dan pengetahuan yang dimiliki oleh si pengkritik dan si penilai. Masih banyak lagi model-model penilaian orang lain terhadap kita. Tidak jarang sebagian kita merasa risih dengan penilaian-penilaian orang lain terhadap diri kita dengan penilaiannya yang bersifat menjatuhkan, dan tidak membangun. Tidak usah khawatir. Terima saja semua penilaian itu. Baik berupa pujian, kritikan, nyinyiran, atau mungkin dengan suatu lebel, misal; sesat, kafir, bid’ah, syirik, bodoh, kolot, dan kafir.

Terima saja bukan berarti kita menelan semua penilaian dan kritik mereka. Cukup terima saja, baru kemudian diseleksi mana yang pantas untuk diterima dan diperbaiki, dan mana yang harus dibuang. Mengapa begitu? Ya, karena tentu saja tidak semua kritik dan penilaian dari orang lain bersifat objektif. Contoh “kamu kok kurusan? Ada masalah apa? gak usah banyak mikir. Makan yang banyak biar berisi lagi badannya. Jelek kalau kurus” padahal selama ini kita sudah berjuang dengan program diet demi tercapai berat badan ideal dan pola hidup sehat. Belum sempat kita menjawab, eh si penilai malah terlebih dahulu mengira kita banyak masalah, banyak pikiran, dibilang jelek pula. Padahal kita baik-baik saja dan tetap merasa cantik atau tampan.

Belajarlah untuk menyeleksi kritik dan penilaian dari orang lain, sekalipun kritik dan penilaian itu baik dan bagus. Sebab tidak semua kritik itu baik dan didasari oleh niat baik. Ada juga yang memuji dengan tujuan menjatuhkan. Banyak kan? Ya kita semua tahu. Ya begitulah. Namanya juga hidup.

Tidak ada yang perlu dirisaukan. Tetap jalani kehidupan ini dengan penuh semangat, penuh penerimaan, dan lakukan sesuatu untuk membuat diri kita terus berkembang dan bermanfaat bagi orang lain.  Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Terimalah semua penilaian dan kritikan dengan cinta. Sebab tidak semua orang bisa menerima penilaian dan kritikan. Pun tidak semua kritikan baik bagi yang dikritik dan si pengkritik. Bisa saja kritikan berakhir dengan baku hantam oleh si pengkritik dan yang dikritik.

Penilaian baik dari orang lain terhadap kita, jadikan itu sebuah dorongan agar kita tetap berkembang. Sedangkan penilaian buruk, cukup jadikan sebagai bahan renungan serta motivasi dalam diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan asik.

Tidak perlu membuktikan dan menampakkan diri terlihat bagus di mata orang lain. Cukup lakukan sesuatu yang itu kita nyaman menjalaninya, bermanfaat bagi semesta dan tidak merugikan orang lain, dan jangan lakukan sesuatu demi mendapatkan penilaian dari orang lain agar yang tadinya dilebeli dengan pribadi buruk, kemudian dinilai menjadi pribadi yang baik. Cukup lakukan saja. Jangan diniati untuk pamer. Sebab hal tersebut hanya menguras energi dan buang-buang waktu. Sekali lagi, Jangan melakukan suatu kebaikan karena didasari ingin mendapatkan penilaian dari orang lain. Lakukan saja itu untuk pertumbuhan diri anda. Untuk perkembangan diri anda.

Hal yang harus kita perhatikan juga adalah, tidak usah ikutan sibuk menilai dan mengevaluasi orang lain. Sibuklah untuk terus menilai diri sendiri, meningkatkan kualitas diri, pengalaman dan kemanfaatan. Isilah hari dengan mengasah kemampuan yang kita miliki. Menyibukkan diri untuk mengenal diri sendiri itu lebih baik. Lao Tzu pernah berkata “mengenal orang lain adalah kecerdasan; mengetahui diri sendiri adalah kebijaksanaan sejati. Menguasai orang lain adalah kekuatan; menguasai diri sendiri adalah kekuatan sejati.”

Hidup kita, kitalah yang menjalani. Kita pula yang bertanggung jawab secara penuh atas kehidupan kita. Jangan sampai hidup kita tidak berkembang hanya karena penilaian buruk orang lain terhadap kita. Mengutip perkataan Maulana Rumi “anda dilahirkan memiliki sayap, mengapa lebih memilih hidup merangkak”. Jadi, jangan batasi peran hidup hanya karena kritikan dan penilaian dari orang lain.

Patut kita berkaca. Mungkin penilaian buruk datang diakibatkan karena kita sering menilai buruk orang lain tanpa tahu secara pasti apakah itu fakta, atau hanya sebatas penilaian pikiran dan prasangka kita saja (su’udhan). Oleh sebab itu berbaik sangkalah kepada siapapun, dan tak perlu menyibukkan diri untuk menilai dan mengevaluasi orang lain. kepada siapapun, dan tak perlu menyibukkan diri untuk menilai dan mengevaluasi orang lain. Tidak ada hak bagi kita untuk menilai orang lain lebih buruk dari kita. Bisa jadi kita yang lebih buruk dari orang yang kita anggap buruk.

Imam Bakr Almuzani mengatakan:

عليكم بأمر إن أصبتم أجرتم، وإن أخطأتم لم تأثموا، وإيّاكم وكل أمر، إن أصبتم لم تؤجروا، وإن أخطأتم أثمتم، قيل: ما هو؟ قال: سوء الظن بالناس، فإنكم لو أصبتم لم تؤجروا، وإن أخطأتم أثمتم.

“Berpeganglah kalian pada perkara (amal) yang jika kalian benar, kalian mendapatkan pahala, dan jika kalian salah, kalian tidak mendapatkan dosa. Berhati-hatilah dengan setiap perkara yang jika kalian benar, kalian tidak mendapatkan pahala, dan jika kalian salah, kalian mendapatkan dosa.”

Kemudian seseorang bertanya kepada Bakr al-Muzani: “Apa itu?” Bakr al-Muzani menjawab: “Prasangka buruk (su’udhan) terhadap manusia. Karena sesungguhnya, meskipun kalian benar, kalian tidak akan mendapatkan pahala, dan jika kalian salah, kalian mendapatkan dosa.”

(Imam Abu Na’im al- al-Ashbahani, Hilyah al-Auliyâ wa Thabaqat al-Ashfiya’, Kairo: Dar al-Hadits, 2009, juz 2, h. 120)

Jombang, Minggu 12 Juni 2022


*Alumni Pesantren Tebuireng asal Kep. Riau

Sebelumnya10 Etika Santri Terhadap Dirinya Sendiri Menurut Kiai Hasyim Asy’ari
BerikutnyaFalsafah Jawa yang Sesuai dengan Ilmu Tasawuf #1