
Tahun 2026 membawa anugerah iklim persaudaraan yang sangat menyejukkan bagi umat Islam di Indonesia. Telah berkumandang, gema takbir Idul Adha 1447 Hijriah secara serentak di seluruh penjuru Nusantara. Peristiwa ini menjadi sangat istimewa karena dua organisasi Islam terbesar di tanah air, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, diprediksi kuat merayakan hari raya kurban pada hari yang sama, memberikan keteduhan di tengah berbagai dinamika sosial masyarakat.
Dari kacamata antropologi, hari raya keagamaan meruapakan ritual komunal berskala masif yang mengukuhkan kohesi sosial. Kebersamaan perayaan Idul Adha tahun ini sejatinya mengirimkan pesan damai ke seluruh lapisan elemen bangsa. Tidak ada lagi jeda kultural di tengah keluarga besar yang mungkin memiliki latar belakang organisasi berbeda, karena semuanya melebur dalam satu waktu perayaan yang harmonis.
Kesamaan jatuhnya hari raya ini sering kali dipandang semata-mata sebagai siklus astronomis belaka. Namun, secara sosiokultural, kesempatan langka ini adalah ruang emas untuk menjahit kembali ukhuwah Islamiyah dan wathaniyah. Perayaan serentak ini patut dimaknai sebagai pengingat bahwa titik temu antara pilar-pilar peradaban bangsa selalu ada dan menjadi fondasi yang sangat tangguh bagi struktur kemasyarakatan.
Akar Perbedaan dan Kekayaan Metodologi
Selama bertahun-tahun, diskursus mengenai penentuan awal bulan Hijriah acap kali diwarnai oleh dialektika penetapan. Perbedaan secara umum dan paling utama sesungguhnya hanya terletak pada metode pendekatan hukum yang digunakan oleh masing-masing organisasi. Perbedaan ini bukanlah wujud perpecahan, melainkan penegasan akan keragaman pendekatan dalam memahami teks dan konteks keagamaan.
Dalam praktiknya, baik Nahdlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah sama-sama menjadikan Al-Qur’an dan Hadis sebagai muara utama pengambilan hukum. Perbedaannya murni terletak pada pisau metodologi (manhaj). NU mengambil jalan dengan merujuk pada khazanah tradisi mazhab fikih klasik yang telah teruji dan mapan selama berabad-abad. Di sisi lain, Muhammadiyah menggunakan pendekatan tarjih yang melakukan pembacaan dan pemahaman langsung terhadap teks-teks sumber utama tersebut.
Kedua, pendekatan metodologis tersebut berdiri pada pijakan teologis yang sama-sama luhur dan sama sekali tidak patut dibenturkan demi mencari pembenaran satu belah pihak sambil menafikan pihak lainnya. Perbedaan ini merupakan wujud nyata dari kekayaan epistemologis dan dinamika pemikiran intelektual dalam khazanah keilmuan Islam, di mana keduanya saling melengkapi ruang literasi keagamaan di Nusantara.
Teladan Persatuan dari Dua Sang Pencerah
Menengok ke belakang, keharmonisan kultural ini sesungguhnya adalah warisan langsung dari dua tokoh pendiri pilar Islam di Indonesia, yakni KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan. Sejarah mencatat bahwa keduanya bukanlah figur yang saling menafikan, melainkan sahabat seperguruan yang menimba ilmu dari guru-guru yang sama. Keduanya merajut persahabatan yang dilandasi oleh rasa saling menghormati dan visi besar untuk memajukan umat.
Perjuangan kedua ulama besar ini dalam membesarkan organisasi masing-masing didasari oleh frekuensi yang sama: semangat amar makruf nahi mungkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran). Meski memilih ladang dakwah yang berbeda, keduanya membuktikan bahwa perbedaan metode pergerakan justru menguatkan fondasi Islam secara paripurna. Persatuan gagasan dari dua pendiri ini adalah bukti autentik bahwa ukhuwah senantiasa menempati posisi tertinggi di atas segala bentuk perbedaan administratif.
Potret Ukhuwah di Akar Rumput
Harmoni kultural antara Nahdliyin dan warga Muhammadiyah sejatinya berjalan sangat organik apabila diobservasi di tingkat akar rumput. Di luar batas-batas struktur organisasi formal, interaksi keseharian warga sangat cair dan terbebas dari sekat-sekat perbedaan. Persaudaraan ini menyatu dalam praktik kehidupan komunal sehari-hari secara berdampingan dan damai.
Pemandangan asimilasi kultural ini sangat jelas terlihat di ruang-ruang publik yang merakyat, seperti obrolan di balai desa, pos ronda, hingga warung-warung kopi tradisional di berbagai pelosok Nusantara. Di meja-meja sederhana tersebut, masyarakat dari berbagai latar belakang duduk bersisian, bertukar gagasan, dan melebur tanpa pernah memperdebatkan afiliasi organisasi keagamaan. Di ruang ketiga inilah sentimen kelompok meluruh, digantikan oleh ikatan persaudaraan sejati.
Peleburan identitas serupa juga terjadi secara alamiah dalam upaya pelestarian tradisi dan kearifan lokal. Dalam berbagai kegiatan komunal kemasyarakatan seperti kerja bakti, kenduri, atau rembuk desa, para tokoh masyarakat saling bahu-membahu. Gerakan sosial yang terbangun murni berjalan atas kesadaran kolektif demi menjaga keluhuran nilai sosial bangsa, tanpa perlu memandang warna bendera organisasi masing-masing.
Puncak dari ikatan timbal balik sosial ini terasa sangat nyata saat prosesi kepanitiaan penyembelihan hewan kurban. Di halaman masjid-masjid kampung, warga lebur menjadi satu kepanitiaan gotong royong tanpa mempertanyakan pendekatan fikih panitia lainnya. Seluruh masyarakat bahu-membahu memotong, menimbang, dan membagikan daging kurban dengan satu tujuan besar: mewujudkan keadilan sosial dan kemanusiaan.
Mewaspadai Ancaman Polarisasi
Kendati modal sosial dan ikatan persaudaraan di tingkat akar rumput terbukti sangat tangguh, kewaspadaan terhadap ancaman laten polarisasi mutlak dipertahankan. Berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab sering kali merasa terusik dan tidak senang melihat umat Islam di Indonesia bersatu padu. Bagi kelompok-kelompok tertentu yang haus akan kekuasaan, umat yang terbelah dan sibuk berkonflik kerap dijadikan komoditas yang sangat menguntungkan.
Ancaman perpecahan ini menjadi semakin nyata di era digital, di mana algoritma media sosial sering kali dimanipulasi untuk memperbesar celah perbedaan kecil menjadi jurang permusuhan. Oleh karena itu, masyarakat luas pantang terpancing oleh narasi adu domba, provokasi, maupun hoaks yang sengaja didesain untuk merobek tenun kebangsaan. Literasi digital dan kedewasaan dalam menyikapi informasi harus menjadi perisai utama untuk menjaga kejernihan akal sehat umat.
Merawat Rahmat Persaudaraan
Pada esensinya, baik dari kacamata antropologis maupun spiritual, ritual kurban mengajarkan keteladanan ketauhidan dan keikhlasan paripurna dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Secara filosofis, penyembelihan hewan kurban merupakan simbolisasi pemotongan sifat-sifat ego sentris, termasuk egoisme sektoral serta fanatisme kelompok yang kerap mengaburkan nilai-nilai kebenaran universal. Idul Adha 1447 Hijriah ini hadir sebagai panggilan teologis untuk kembali meresapi ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Anugerah hari raya yang jatuh pada waktu bersamaan ini adalah pengingat berharga bahwa ragam pendekatan keagamaan bukanlah sebuah rintangan, melainkan rahmat yang memperkaya khazanah umat. Alih-alih berhenti pada euforia perayaan sehari, kedamaian serentak ini sepatutnya diwujudkan dengan terus memperluas ruang-ruang perjumpaan kultural serta dialog lintas kelompok. Seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama hingga pemangku kebijakan, dapat menjadikan harmoni ini sebagai landasan berpijak untuk merumuskan langkah nyata pemberdayaan umat secara bergotong royong.
Lebih jauh lagi, semangat ukhuwah yang menyala pada perayaan kali ini diharapkan mampu menjadi lentera penerang bagi perjalanan bangsa ke depan. Ketika ego kelompok berhasil ditundukkan oleh kesadaran komunal, energi persatuan tersebut akan menjelma menjadi benteng pelindung dari segala bentuk polarisasi. Pada akhirnya, harmoni dari dua tradisi besar ini membuktikan bahwa umat Islam Indonesia senantiasa memiliki cara yang indah untuk merawat keberagaman, mengokohkan peradaban Nusantara yang tangguh, damai, dan bermartabat.
Penulis: Achmad Muzakky Cholily, Antropolog, Pengurus Lakpesdam PCNU Surabaya.
Editor: Sutan


















