
Penulis punya kebiasaan iseng yang mungkin tidak produktif, memperhatikan wajah orang-orang muda di sekitar, baik di kampus, di warung kopi, di jalanan, maupun di angkutan umum. Yang cukup sering penulis temukan adalah kontras yang mengganjal. Di layar ponselnya, senyum. Di wajah aslinya, kosong. Ini bukan penilaian sembarangan, karena penulis sendiri sering ngobrol dengan mahasiswa-mahasiswa yang mengaku baik-baik saja di depan orang banyak, tapi ketika ditanya empat mata, keluarlah cerita yang lain. Tentu tidak mungkin isi kongkritnya penulis sampaikan, tetapi garis bawahnya terangkum dalam tulisan ini.
Kita hidup di zaman yang secara material paling nyaman dibanding generasi mana pun sebelumnya. Akses informasi terbuka lebar, hiburan ada di genggaman tangan, dan komunikasi bisa dilakukan dengan siapa saja kapan saja. Tapi justru di zaman inilah angka gangguan kesehatan mental melonjak ke titik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kalau mau jujur, ini seharusnya membuat kita bertanya-tanya.
Angka yang Tidak Boleh Dianggap Biasa
Kementerian Kesehatan RI mencatat ada lebih dari 31 juta penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun yang mengalami gangguan mental. Dari jumlah itu, 19 juta mengalami gangguan emosional dan 12 juta menderita depresi. Bukan angka kecil. Itu setara dengan hampir seluruh penduduk Malaysia.
Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey atau I-NAMHS menyebut bahwa 34,9 persen remaja Indonesia, setara sekitar 15,5 juta jiwa, pernah mengalami gangguan kesehatan mental setidaknya satu kali dalam setahun terakhir. Sementara 2,45 juta atau 5,5 persen di antaranya memiliki masalah mental yang cukup serius, berupa gangguan kecemasan, fobia sosial, hingga depresi mayor.
Kelompok usia 15 sampai 24 tahun menjadi yang paling terdampak. Prevalensi depresi pada rentang usia ini mencapai 2 persen, melampaui rata-rata nasional yang 1,4 persen. Riset dari Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa pada 2024 mencatat bahwa gangguan kecemasan sudah menyentuh angka 16 persen dan depresi 17,1 persen, jauh di atas angka 2018 yang masing-masing hanya 9,8 persen dan 6 persen. Enam tahun, hampir berlipat ganda. Masih mau bilang ini cuma lebay?
Ada satu data lagi yang penulis rasa perlu disebut, karena cukup mengusik. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia atau APJII pada 2025 mencatat bahwa 93 persen remaja usia 13 sampai 19 tahun aktif di media sosial setiap hari, dengan durasi rata-rata 5,8 jam. Hampir enam jam sehari dihabiskan untuk mengkonsumsi konten yang sebagian besar isinya adalah standar hidup orang lain, pencapaian orang lain, dan wajah orang lain yang selalu kelihatan mulus. Lalu kita heran kenapa anak muda banyak yang merasa tidak cukup baik. Muncul skema insecure, dan ujung-ujungnya overthinking.
Gangguan Mental yang Paling Banyak Mengintai
Biar tidak terlalu abstrak, ada baiknya kita kenali jenis-jenis gangguan mental yang paling sering dialami anak muda. Bukan untuk mendiagnosis diri sendiri atau orang lain secara serampangan, tapi minimal agar kita tahu apa yang sedang kita hadapi. Penulis bukan psikolog, hanya seorang akademisi dan praktisi Pendidikan. Ulasan ini hanya pembacaan dari berbagai sumber.
Yang pertama dan paling umum adalah gangguan kecemasan atau anxiety disorder. Gangguan ini tidak sesederhana aekadar gugup sebelum presentasi. Ini adalah kekhawatiran yang tidak bisa dikendalikan, jantung yang tiba-tiba berdegup tanpa alasan jelas, sulit tidur karena pikiran tidak mau berhenti, dan perasaan terus-menerus bahwa ada sesuatu yang salah padahal tidak ada apa-apa. I-NAMHS mencatat 3,7 persen remaja Indonesia mengalami ini. Di lingkungan kampus, survei 2025 pada mahasiswa di Samarinda menemukan 13,8 persen mengalami kecemasan berat.
Kedua adalah depresi mayor. Beda dari sekadar sedih atau murung beberapa hari, depresi mayor membuat seseorang kehilangan minat pada hal-hal yang dulu ia sukai, merasa lelah terus-menerus tanpa sebab fisik yang jelas, dihantui rasa bersalah yang tidak proporsional, dan dalam kasus yang parah, mulai berpikir untuk mengakhiri hidup. Data Kemenkes menunjukkan bahwa anak muda dengan depresi yang pernah terlintas pikiran untuk mengakhiri hidupnya 36 kali lebih besar kemungkinannya dibanding yang tidak depresi. 36 kali. Ini bukan statistik yang bisa dibaca sambil lalu.
Ketiga adalah stres berat yang sudah melampaui batas wajar. Survei mahasiswa 2025 menemukan lebih dari separuh responden mengalami stres, dan 16,7 persen di antaranya masuk kategori berat. Keempat ada PTSD atau gangguan stres pasca-trauma, yang biasanya dipicu oleh pengalaman kekerasan, perundungan berat, atau kehilangan yang traumatis. Angkanya 0,9 persen di kalangan remaja menurut I-NAMHS.
Lalu ada yang tidak masuk diagnosis klinis formal tapi tidak kalah nyatanya, yaitu imposter syndrome, burnout, dan overthinking kronis. Jutaan anak muda merasa tidak layak atas apa yang sudah mereka capai, kelelahan total karena tekanan yang tidak pernah reda, dan pikiran yang tidak bisa berhenti berputar bahkan saat berbaring di kasur. Kata-kata seperti anxiety, insecure, dan burnout bukan sekadar istilah yang tiba-tiba populer di media sosial. Itu adalah deskripsi dari kondisi yang benar-benar dialami banyak orang hari ini.
Di titik paling ekstrem dari semua ini ada kasus bunuh diri. Penulis tidak akan menghindar dari topik ini karena justru penghindaranlah yang selama ini membuat masalahnya tidak pernah tertangani dengan serius. Mungkin karena dianggap berlalu begitu saja.
Menurut WHO, bunuh diri adalah penyebab kematian ketiga pada kelompok usia 15 sampai 29 tahun di dunia. Secara global, 720 ribu jiwa meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya. Di Indonesia, Pusiknas Polri mencatat kenaikan yang tidak bisa diabaikan: angka bunuh diri meningkat 60 persen dalam lima tahun terakhir. Sepanjang Januari sampai Oktober 2024 saja sudah ada 1.023 kasus, dan sepanjang tahun 2024 secara resmi tercatat 852 kasus, naik sekitar 100 kasus dibanding tahun sebelumnya.
Kelompok usia terbanyak adalah 26 sampai 45 tahun dengan 263 kasus. Tapi yang lebih mengusik adalah fakta bahwa jumlah pelaku berusia di bawah 17 tahun ternyata lebih banyak dari kelompok 17 sampai 25 tahun. Artinya krisis ini tidak menunggu seseorang dewasa dulu.
KPAI mencatat bahwa sepanjang 2023 sampai 2025, ada 116 anak Indonesia yang mengakhiri hidupnya sendiri. Perinciannya; 46 kasus pada 2023, 43 kasus pada 2024, dan 27 kasus pada 2025. Rentang usianya mulai dari 9 hingga 18 tahun, dengan korban terbanyak di usia 15 sampai 17 tahun. Tujuh di antaranya berusia 9 sampai 11 tahun. Komisioner KPAI bahkan menyatakan bahwa pada 2023 dan 2024, angka bunuh diri anak Indonesia adalah yang tertinggi di Asia Tenggara. Masih mau diam?
Faktor penyebab utamanya adalah permasalahan ekonomi dan kemiskinan, tekanan psikologis yang tidak tertangani, perundungan baik di sekolah maupun di dunia maya, depresi yang dibiarkan tanpa penanganan, dan stigma sosial yang membuat orang malu mencari pertolongan. Soal mencari pertolongan ini, ada data yang menarik sekaligus menggelitik. Hanya 24,3 persen remaja bermasalah mental yang mencari bantuan ke fasilitas kesehatan. Sebagian besar justru datang ke staf sekolah (38,2 persen) dan ke pemuka agama atau tokoh adat (20,5 persen). Artinya, masjid, pesantren, dan majlis ilmu punya peran yang jauh lebih besar dari yang kita sadari dalam menangani krisis ini. Jika pemahaman dan kesadaran akan hal ini tidak disadari oleh Lembaga-lembaga ini, maka akan berakibat fatal.
Ibrahim, Ketenangan, dan Resep yang Sudah Ada Sejak Dulu
Dengan berbagai permasalahan dan data di atas, apa korelasi dengan Idhul Adha? Idul Adha setiap tahun selalu mengajak kita kembali ke kisah Nabi Ibrahim AS. Bukan sekadar cerita kurban. Ini kisah tentang seseorang yang diuji dari segala arah, diasingkan, diperintah meninggalkan keluarga di lembah tandus, bahkan diperintah menyembelih putra yang ia tunggu puluhan tahun. Tidak ada yang bisa mengklaim tekanan hidup melebihi Ibrahim.
Tapi coba perhatikan apa yang Allah katakan setelahnya. Bukan soal betapa hebat Ibrahim bertahan. Allah justru menyebutnya dengan gelar paling intim, “kekasih-Nya”. Maka, Allah tidak menjadikan Ibrahim kekasih-Nya karena hidupnya mulus, melainkan justru karena ia tetap teguh ketika segalanya terasa tidak mungkin. Ini yang seharusnya jadi bahan renungan bagi generasi muda yang hari ini sedang berjuang dengan berbagai tekanan.
Islam tidak mengajarkan kita untuk pura-pura baik-baik saja. Tidak ada itu dalam ajaran Islam. Nabi SAW sendiri pernah merasakan kesedihan yang sangat dalam, sampai ada satu tahun yang dikenal dalam sejarah sebagai Tahun Kesedihan, setelah kehilangan Khadijah dan Abu Thalib bersamaan. Bahkan wahyu dari Allah pun harus dihentikan sementara. Tapi Islam juga mengajarkan bahwa kesedihan bukan akhir cerita.
Al-Quran sudah menyampaikan resepnya dengan sangat jelas dalam Ar-Ra’d ayat 28, hanya dengan mengingat Allah (dzikir), hati menjadi tenang. Ini bukan slogan motivasi yang ditempel di dinding pesantren saja. Ilmu neurosains modern belakangan mulai mengonfirmasi bahwa praktik dzikir dan meditasi religius memang secara biologis menenangkan sistem saraf dan menurunkan hormon stres. Entah disadari atau tidak, ribuan tahun sebelum ada penelitian tentang kortisol, Islam sudah memberikan solusinya.
Dan untuk jiwa yang merasa sudah terlalu banyak salah, terlalu banyak gagal, atau terlalu jauh untuk bisa kembali, ada ayat yang penulis rasa perlu dikutip, “Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah” (Az-Zumar: 53). Perhatikan sapaannya, hamba-hamba-Ku, bukan orang-orang berdosa. Masih diakui. Masih disayang kok kita ini.
Nabi SAW juga menyampaikan hadis yang cukup menggetarkan, Allah memiliki 100 rahmat, dan dari 100 itu hanya satu yang diturunkan ke dunia. Dengan satu rahmat itulah semua makhluk saling menyayangi satu sama lain. Sedangkan 99 sisanya masih disimpan untuk hari akhirat (HR. Muslim). Kalau satu persen saja sudah sebesar ini, bayangkan yang 99 persen.
Lalu Apa yang Bisa Kita Lakukan
Penulis tidak akan panjang-panjang memberi daftar solusi yang terkesan seperti brosur kesehatan. Tapi ada beberapa hal yang rasanya perlu dikatakan dengan jelas. Pertama, hentikan stigma bahwa gangguan mental adalah tanda lemah iman. Ini tidak ada dasarnya. Nabi Ibrahim yang dijuluki Khalilullah pun merasakan ketakutan dan kesedihan yang nyata. Gangguan mental adalah kondisi yang perlu ditangani, bukan aib yang perlu disembunyikan.
Kedua, data menunjukkan bahwa 20,5 persen anak muda yang butuh pertolongan justru datang ke tokoh agama, bukan ke psikolog. Ini artinya masjid, pesantren, dan lembaga keagamaan kita punya tanggung jawab yang tidak kecil. Khatib, kiai, ustadz, dan guru ngaji bisa jadi pintu pertama yang didatangi seseorang yang sedang di ujung kemampuannya. Kalau kita tidak siap menerima itu, kita sudah menutup satu pintu yang seharusnya terbuka.
Ketiga, jangan sungkan mencari bantuan profesional. Islam tidak pernah melarang berobat. Nabi SAW justru menganjurkannya, tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya. Gangguan mental adalah penyakit, dan obatnya tersedia.
Keempat, seyogyanya umat Islam melakukan perintah Allah, yaitu saling memberi nasihat dalam kebenaran dan kesabaran (iman, takwa, dan mentalitas). Sesame muslim harus ta’awun (gotong royong) saling peduli terhadap sesama, harus aware dengan lingkungan sosialnya. Barangkali ada teman yang mengalami perubahan sikap, barangkali ada saudara yang kesusahan, barangkali ada keluarga yang menunjukkan tanda-tanda tidak biasa, atau sikap yang tidak stabil, flutuasi emosinya meningkat. Sinyal-sinyal ini harus kita sadari agar akibat lanjutan dari gangguan mental ini tidak meluas sampai pada efek yang lebih domino.
Idul Adha mengajarkan bahwa yang paling berharga untuk dikurbankan bukan hanya hewan ternak. Ibrahim mengurbankan egonya, keyakinannya pada logika sendiri, dan ketergantungannya pada hal-hal yang ia sayangi. Untuk generasi muda hari ini, mungkin yang perlu dikurbankan adalah rasa malu untuk mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, dan keberanian untuk mulai mencari pertolongan. Karena mengakui bahwa kita butuh bantuan bukan tanda kelemahan. Itu justru tanda bahwa kita masih ingin hidup.
Baca Juga: Idul Adha: Tafsir Alternatif atas Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Rasa Memiliki
Sumber data: Kemenkes RI (2023), I-NAMHS (2022), KPAI (2023-2025), Pusiknas Polri (2024), WHO, Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa (2024), APJII (2025).
Penulis: Muhammad Abror Rosyidin, Dosen Unhasy Tebuireng


















