Oleh: Almara Sukma*

Seorang santri harus mempunyai akhlak yang baik dalam mencari ilmu. Keberhasilan seorang santri dalam mencari ilmu tidak berpacu pada kecerdasan saja, santri juga harus menjaga etikanya dalam belajar. Dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim, Hadrotussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari menjelaskan bahwa terdapat 10 macam etika pelajar terhadap dirinya sendiri yang harus dijadikan pegangan ketika sedang dalam masa belajar, yaitu:

Pertama, seorang santri hendaknya terlebih dahulu membersihkan hatinya dari berbagai macam kotoran (penyakit hati) seperti pikiran negatif, hasud, dendam, iri hati, dengki dan perangai yang buruk. Hal itu bertujuan agar hati mau menerima ilmu dengan mudah, mudah menghafalnya, mengetahui permasalahan yang rumit dan mampu untuk memahami masalah tersebut.

Kedua, santri harus berniat baik ketika mencari ilmu. Adapun niat yang baik seperti, untuk mencari ridho Allah, mengamalkan ilmu, menghidupkan syariat Islam, menerangi dan mengindahkan hati, dan mendekatkan diri kepada Allah. Niat yang tidak boleh dilakukan santri ketika mencari ilmu adalah berniat untuk duniawi seperti, agar mendapatkan jabatan tinggi, mendapatkan banyak harta, menyombongkan diri di hadapan orang lain atau agar dihormati oleh orang lain.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ketiga, bersegera mencari ilmu. Santri harus mencari ilmu ketika usianya masih muda, santri tidak boleh menunda-nunda waktunya dalam mencari ilmu, sebab setiap detik yang terlewatkan dari umur tidak akan pernah bisa tergantikan. Seorang santri hendaknya meeninggalkan semua urusan-urusan yang menghalanginya dalam mencari ilmu dan santri harus mempunyai kesungguhan dalam mencari ilmu.

Keempat, menerima sandang-pangan apa adanya (qona’ah) sebab kesabaran atas keserbakekurangan hidup akan mendatangkan ilmu yang luas, kefokusan hati dari angan-angan, dan sumber terpancarnya hikmah.

Kelima, pandai mengatur waktu dan memanfaatkan sisa umur yang tidak ada harganya. Waktu dibagi menjadi 4, waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur, untuk pendalaman materi pagi hari, untuk menulis siang hari dan untuk belajar serta mengulang pelajaran malam hari. Tidak baik menghafal di depan tanaman, tumbuhan, sungai, dan tempat-tempat yang ramai.

Keenam, makan dan minum sedikit (secukupnya). Kenyang bisa menyebabkan malas untuk beribadah dan membuat badan terasa berat ketika akan belajar. Makan yang sedikit (cukup) mempunyai manfaat menyehatkan badan da mencegah dari berbagai macam penyakit yang diakibatkan oleh banyak makan dan minum.

Ketujuh, bersikap wira’i. Menjauhi perkara yang tidak jelas halal atau haramnya (syubhat) dan berhati-hati dalam segala hal. Hendaknya seorang murid menggunakan hukum-hukum keringanan (rukshoh) pada tempatnya, yaitu ketika ada kebutuhan dan sebab yang memperbolehkan. Sesungguhnya Allah senang bila hukum rukhsohnya dilakukan.

Kedelapan, meminimalisir penggunaan makanan yang menjadi penyebab bebalnya otak dan lemahnya panca indera seperti, apel yang masam, buncis dan cuka. Begitu juga dengan makanan yang dapat memperbanyak dahak (balghom) yang memperlambat kinerja otak dan memperberat tubuh seperti susu dan ikan yang berlebihan. Santri juga harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan lupa seperti memakan makanan sisa tikus, membaca tulisan di nisan kuburan, masuk di antara dua onta yang beriringan dan membuang kutu hidup-hidup.

Kesembilan, meminimalisir waktu tidur selama tidak berefek bahaya pada kondisi tubuh dan kecerdasan otak. Waktu tidur sehari semalam adalah 8 jam, tidak boleh menambahinya. Boleh menguranginya asalkan kondisi tubuh cukup kuat. Ketika tubuh, hati, pikiran capek boleh mengistirahatkan dengan cara healing, dan lain-lain.

Kesepuluh, Meninggalkan pergaulan karena hal itu merupakan hal penting yang seyogyanya harus ditinggalkan oleh santri, terutama pergaulan dengan lain jenis dan pergaulan yang lebih banyak kegiatan main-main daripada belajar serta tidak bisa mendewasakan pikiran. Watak manusia itu seperti pencuri ulung (meniru perilaku orang lain dengan cepat) dan efek dari pergaulan adalah sia-sianya umur tanpa ada manfaatnya dan bisa menyebabkan hilangnya agama apabila bergaul dengan orang yang bukan ahli agama.

Semoga kita bisa mempraktekkan 10 hal di atas dan semoga bisa menjadi perantara kesuksesan kita dalam mencari ilmu.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaMenjadi Santri yang Setara dan Adil Sejak Dini
BerikutnyaPenilaian Orang Lain, Kacamata Jalaluddin Rumi, Lao Tzu, dan Imam Bakr Almuzani