sumber gambar: kumparan

Oleh: Moh. Minahul Asna*

Nrimo ing Pandum, Makaryo ing Nyoto

Manusia tercipta dengan akal dan nafsu, sehingga terjadilah pergolakan yang membuat kadar keimanan seseorang kadang naik dan kadang turun. Usaha menjadi andalan seorang yang rajin, kecerdasan menjadi andalan seorang pemimpin dalam melakukan program yang telah dibuat, dan keyakinan bahwa Tuhan lah yang memutuskan yang terbaik bagi tujuan kita menjadi andalan bagi seorang hamba untuk senantiasa berdoa untuk Ridha-Nya. Falsafah Jawa ini menggambarkan bagaimana kita menerima yang telah ditetapkan bagi kita– Nrimo ing Pandum dan mengerjakan sesuatu yang bermanfaat secara nyata– Makaryo ing Nyoto.

Seringkali kita lupa bahwa hidup ini bukan hanya tentang memperoleh sesuatu dari dunia, tetapi juga memberikan sesuatu pada dunia. Islam mengenal konsep Qadha dan Qadar yaitu adanya ketetapan-ketetapan yang telah diatur oleh Allah SWT. Dalam bahasa mudah dapat kita katakan bahwa di dunia ini ada hal-hal tertentu yang diluar jangkauan kemampuan kita.

Untuk mengatasi masalah tersebut dikenallah konsep tawakal dalam Islam. Tawakal artinya berserah diri terhadap Allah SWT. Sehingga setiap ketetapan yang ada harus kita terima dengan lapang hati karena kita telah menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Sekilas konsep ini mirip dengan konsep Nrimo ing Pandum.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Konsep ini sering menjebak para muslimin Jawa bahwa semua usaha yang kita lakukan akan percuma ketika tidak di-ridhai oleh-Nya. Namun jika memang seperti itu maka bagaimana bisa Tuhan memberikan kita akal dan jasad yang bisa kita kontrol sedemikian rupa sesuai dengan keinginan kita? Pastilah Allah SWT tidak menganugerahi sesuatu dengan percuma. Maka ikhtiar atau usaha adalah ruh dari segala tujuan kita dan tawakal atau nriman ing pandum itulah yang menjadi hakikat keputusan Allah dalam menentukan bahwa inilah yang terbaik. Itulah fungsi dari frasa pertama dari falsafah ini.

Rasulullah sendiri juga menekankan bahwa tawakal bukan berarti tanpa usaha. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa:

“Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”

Yang terpenting adalah tidak memisahkan frasa yang pertama dengan yang kedua yaitu Makaryo ing Nyoto. Apapun yang kita lakukan yang terpenting adalah bagaimana kita melakukan segala sesuatu dengan murni tanpa ada tendensi apapun. Semua hal yang kita lakukan dilandasi dengan harapan bahwa yang kita lakukan akan bermanfaat bagi orang lain. Khairun Nas Anfa’uhum lin Nas. Selain kita akan menerima hasil apapun dari usaha kita pun juga memikirkan bagaimana memurnikan hati kita dari tujuan-tujuan yang tidak baik. Wallahu A’lam

*Alumni Ma’had Aly Hasyim Asy’ari.

**diambil dari beberapa refrensi

SebelumnyaPenilaian Orang Lain, Kacamata Jalaluddin Rumi, Lao Tzu, dan Imam Bakr Almuzani
BerikutnyaCara Bersikap Pada Orang yang Memusuhi Kita