Sistem Kurban Memutar Roda Ekonomi Masyarakat

41
Saat warga menerima daging kurban di Pesantren Tebuireng (foto: irsyad)

Idul Adha menjadi bentuk subsidi protein yang bersifat masif dan berlangsung di setiap harinya. Sehingga bagi jutaan keluarga dan masyarakat di Indonesia, ini adalah salah satunya momen ketika mereka bisa dapat mengonsumsi daging sapi dalam jumlah yang cukup layak.

Saat memasuki bulan Dzulhijjah yang bertepatan dengan 27 hingga 29  hampir dua miliar Muslim di seluruh dunia melakukan sesuatu yang bahkan dalam logika ekonomi murni, terlihat seperti pemborosan besar-besaran yang luar biasa. Umumnya dalam tiga hari tersebut, jutaan hewan disembelih yang mana dagingnya dibagikan tanpa transaksi jual beli, tanpa profit, tanpa adanya invoice dan tanpa keutungan finasial yang tercatat.

Baca Juga: Antara Iman dan Eman: Renungan Idul Adha

Namun, pada saat bersamaan di situlah letak keunikannya. Sebuah ritual ibadah yang berangkat dari tradisi ini menjadi salah satu mekanisme yang disebut dengan redistribusi kekayaan terbesar yang pernah ada dalam peradabaan sejarah umat manusia di dunia. Jika kita lihat kembali, ketika seseorang membeli hewan ternak seperti sapi, kambing atau unta untuk kurban yang bergerak tidak hanya saja distribusi dagingnya saja, tetapi justru seluruh rantai dari roda perekonomian di belakangnya turut berputar.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kita bisa lihat bagaimana peternak kecil yang selama berbulan-bulan merawat ternaknya hingga akhirnya mendapat pemasukan terbesar saat Idul Adha tiba. Bagi sebagian banyak tempat, ini bukan sekadar hari raya atau ritual keagamaan saja, melainkan sebuah masa-masa musim panen yang sangat melimpah ruah.

Sepanjang proses, sebelum memasuki hari raya Idul Adha tersebut terdapat pedagang, pengumpul, sopir truk ternak, mandor pasar hewan hingga para tukang jagal profesional yang turut merasakan hidup dari derasnya perputaran ekonomi ini. Bahkan sampai pada ke hal-hal kecil seperti plastik pembungkus, tali rafia, kotak styrofoam, tusuk sate, dan relawan yang mendistribusikan daging.

Sudut pandang ekonomi mengatakan bahwasanya fenomena ini disebut dengan backward linkage, yaitu ketika satu permintaan akhir mampu menggerakan aktivitas ekonomi hingga ke lapisan produksi paling hulu yang sering kali tidak kasat oleh mata.

Baca Juga: Ibadah Kurban dan Teladan Kesabaran Nabi Ismail

Bila melihat dari hukum syariah fiqih, bahwasanya syariat sudah mengatur bahwa daging kurban ditasarufkan kepada lima penerima, yakni fakir miskin, kerabat serta tetangga, amil atau panitia, musafir, dan diri sendiri. Hal tersebut bukanlah anjuran, tetapi justru sebuah aturan distribusi yang sudah berjalan lebih dari 14 abad, jauh sebelum adanya sebuah instansi yang bernama kementerian sosial, bantuan sosial (Bansos) atau konsep welfare state seperti saat ini.

Lebih menariknya lagi, dalam sistem distribusinya bersifat desentralisasi. Ia tidak ada lembaga yang terpusat, tidak ada database nasional penerima, dan tidak ditemukan biokroasi yang rumit. Pada akhirnya jutaan keputusam distribusi dilakukan langsung berada di tingkat lokal oleh orang-orang yang memahami kondisi lingkungan tentangga mereka sendiri.

Terdapat sebuah dimensi lain yang sering kali luput dari percakapan publik. Hal tersebut bisa kita lihat bagaimana negara Indonesia, masih seringkali menghadapi masalah stunting, dan salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya konsumsi protein hewani pada keluarga yang mendapatkan penghasilan rendah. Sementara itu, harga daging saat ini di pasaran bisa mencapai Rp. 130.000 hingga di harga Rp. 160.000 per kilogram, yang mana harga membuat banyak orang tidak bisa menjangkaunya.

Baca Juga: Berbagi Kurban Wujud Peduli Kemanusiaan di Tengah Ketimpangan

Pada praktiknya, Idul Adha menjadi bentuk subsidi protein yang bersifat masif dan berlangsung di setiap harinya. Sehingga bagi jutaan keluarga dan masyarakat di Indonesia, ini adalah salah satu momen ketika mereka bisa dapat mengonsumsi daging sapi dalam jumlah yang cukup layak. Ini bukan sebuah romantisasi, melainkan realitas yang bisa ditemukan di banyak daerah mulai dari Jawa, Sulewesi, NTT, hingga Papua. Jika dihitung dari nilai gizinya saja, mulai dari protein, kalori, hingga zat besi yang dibagikan secara gratis dalam beberapa hari tersebut, skalanya akan sangat besar.

Ekonom dan sosiolog Amerika, Thorstein Bunde Veblen menyebut, bahwa ada bentuk konsumsi yang dilakukan untuk menunjukkam status sosial atau biasa disebut dengan conspicuous consumption. Dalam logika ekonomi murni, berkurban puluhan juta rupaiah bisa dianggap tidak efisien.

Namun pada sudut pandang yang lain, kurban justru dapat membangun kepercayaan sosial atau social capital yang ini dikemukkan oleh Robert Putnam. Orang yang menerima daging kurban bukan hanya mendapatkan makanan saja, tetapi juga merasakan adanya sebuah bentuk kepeduliam dan solidaritas di sekitar lingkungan mereka.

Munculah sebuah pertayaan yang jarang dibahas adalah mengapa sistem ini dapat bertahan lebih dari seribu tahun. Karena hari ini kita banyak sekali disugguhkan program redstribusi yang gagal karena masalah insentif. Orang cenderung menghindari pajak, atau hanya berdonasi saat kondisi tertentu saja.

Baca Juga: Memilih Hewan yang Baik untuk Kurban

Hingga akhirnya Idul Adha memberikan sebuah contoh cara bekerja yang berbeda. Redistribusi ditanamkan ke dalam kewajiban spiritual, sehingga dorongannya bukan sekedar hitungan dan perputaran ekonomi, melainkan ketaatan. Dan secara psikologis, motivasi seperti ini jauh lebih kuat dan lebih konsisten hingga bisa bertahan sampai ribuan tahun lamanya.

Idul Adha sendiri sering dipahami sebagai sebuah kisah ketaatan Nabi Ibrahmi kepada sang Tuhan. Dan memang itu inti utamanya. Namu di balik itu, terdapat pembagian daging kurban oleh jutaan masyarakat, ada peternak di seluruh penjuru tanah air yang akhirnya dapatn membiayai sekolah anak-anaknya, ada juga sebuah sistem eknomi yang terbangun untuk memperkejakan manusia dengan manusiawi.

Sekali lagi perlu diketahui, sistem ini tidaklah lahir begitu saja dari teori ekonomi modern, tetap justru lahir dari nilai spiritual yang mampu menggerakkan distribusi solidaritas, dan kepedulian sosial yang telah bertahan ratusan tahun lamanya.



Sumber:  theeconomicinfluence.id https://www.instagram.com/p/DYzHnU8jo7k/