
Penulis: Arumka*
Kisah Mughits dan Barirah merupakan salah satu kisah paling menyentuh dalam sejarah Islam. Banyak orang mengenalnya sebagai kisah cinta yang tidak berakhir dengan kebersamaan. Mughits sangat mencintai istrinya, sementara Barirah memilih untuk berpisah setelah memperoleh kebebasannya.
Baca Juga: Ikhtiar dan Tawakal dalam Kisah Sayyidah Maryam
Meski singkat, kisah ini menyimpan banyak pelajaran tentang cinta, pernikahan, hak memilih, dan keikhlasan dalam menerima keputusan orang lain. Artikel ini akan bercerita sekaligus menjawab beberapa pertanyaan yang paling sering diajukan tentang kisah Mughits dan Barirah.
Siapa Mughits dan Barirah?
Barirah adalah seorang budak perempuan yang kemudian dimerdekakan. Sebelum merdeka, ia telah menikah dengan Mughits, yang menurut riwayat yang lebih kuat juga berstatus budak.
Setelah Barirah memperoleh kebebasannya, Islam memberinya hak untuk menentukan apakah ia ingin melanjutkan pernikahan tersebut atau tidak. Hak ini dikenal dalam fikih sebagai khiyar, yaitu hak memilih dalam kondisi tertentu.
Barirah memutuskan untuk berpisah dari Mughits
Keputusan tersebut sangat berat bagi Mughits. Ia begitu mencintai Barirah hingga kesedihannya menjadi perhatian banyak orang, termasuk Rasulullah.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah bersabda kepada pamannya, Abbas: “Wahai Abbas, tidakkah engkau merasa heran melihat cinta Mughits kepada Barirah dan kebencian Barirah kepada Mughits?” (HR. Bukhari)
Baca Juga: Keteguhan Iman Di Balik Kisah Ummu Syuraik
Para ulama menjelaskan bahwa kata “kebencian” dalam hadits ini tidak selalu berarti permusuhan, tetapi dapat dipahami sebagai ketidaksukaan atau keengganan untuk melanjutkan hubungan pernikahan.
Mengapa Barirah menolak kembali kepada Mughits?
Mughits bukanlah suami yang buruk, bukan pula orang yang tidak beriman. Maka tidak heran jika umat setelah Muhammad menanyakan lalu apa alasan Barirah tidak menginginkan Mughits?
Jawaban jujurnya adalah: tidak ada riwayat sahih yang menjelaskan alasan spesifik Barirah menolak kembali kepada Mughits. Yang diketahui hanyalah bahwa Rasulullah ﷺ pernah mencoba menjadi penengah karena melihat kesedihan Mughits.
Beliau bertanya kepada Barirah apakah ia bersedia kembali kepada mantan suaminya. Namun Barirah terlebih dahulu memastikan: “Wahai Rasulullah, apakah ini perintah?”
Rasulullah menjawab bahwa beliau hanya memberikan saran, bukan perintah. Mendengar hal itu, Barirah menjawab bahwa ia tidak menginginkannya.
Dari sini kita belajar bahwa Islam menghormati hak seseorang, yang dalam kisah ini adalah perempuan, untuk menentukan pilihan hidupnya. Bahkan ketika Rasulullah menyarankan sesuatu, beliau tidak memaksa Barirah untuk menerima.
Baca Juga: Jangan Takut Dikritik! Ini Kisah Imam Sibawaih Menjadi Pakar Ilmu Nahwu
Prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan kerelaan dan pilihan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pernikahan.
Apa pelajaran yang bisa diambil dari kisah Mughits dan Barirah?
1. Cinta Tidak Bisa Dipaksakan
Mughits mencintai Barirah dengan sepenuh hati. Namun, cinta yang besar dari satu pihak tidak otomatis membuat pihak lain memiliki perasaan yang sama. Kisah ini mengajarkan bahwa seseorang boleh mencintai dengan tulus, tetapi tidak berhak memaksa orang lain untuk membalas cintanya.
Dalam kehidupan modern, pelajaran ini tetap relevan. Tidak semua hubungan dapat dipertahankan hanya karena salah satu pihak masih mencintai. Hubungan yang sehat membutuhkan kesediaan dan komitmen dari kedua belah pihak.
2. Islam Menghargai Pilihan dan Persetujuan
Kisah Barirah menunjukkan bahwa perempuan memiliki hak untuk menentukan pilihan dalam hidupnya.
Rasulullah tidak memaksa Barirah untuk kembali kepada Mughits meskipun beliau merasa iba kepada keadaan Mughits. Hal ini menunjukkan bahwa Islam menghormati keputusan individu selama berada dalam koridor syariat.
Allah SWT berfirman: لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ Artinya: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama…” (QS. Al-Baqarah: 256)
Meski ayat ini berbicara tentang agama, para ulama sering menjadikannya sebagai salah satu dalil umum bahwa Islam tidak dibangun di atas pemaksaan, melainkan pilihan yang dilakukan dengan kesadaran.
3. Keikhlasan adalah Bagian dari Cinta
Mungkin pelajaran paling berat dari kisah ini adalah menerima kenyataan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan. Mughits sangat mencintai Barirah. Namun pada akhirnya, ia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Baca Juga: Kisah Fudail bin Iyadh, Perampok yang Menangis Mendengar Ayat Al-Quran
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang pernah mengalami kehilangan, penolakan, atau perpisahan. Islam mengajarkan bahwa setelah berusaha dengan cara yang baik, seorang Muslim perlu belajar menerima takdir Allah dengan lapang dada.
Allah SWT berfirman: فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Artinya: “…karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)
Ayat ini mengingatkan bahwa manusia tidak selalu mengetahui apa yang terbaik untuk dirinya. Terkadang sesuatu yang sangat diinginkan justru bukan yang paling baik menurut hikmah Allah.
Mengapa Kisah Ini Masih Relevan Hingga Sekarang?
Di era media sosial, banyak orang membayangkan bahwa cinta sejati selalu berakhir bahagia. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Kisah Mughits dan Barirah menunjukkan bahwa bahkan pada masa Rasulullah terdapat kisah cinta yang tidak berakhir dengan pernikahan yang langgeng. Namun yang membuat kisah ini istimewa bukanlah akhirnya, melainkan pelajaran yang terkandung di dalamnya.
Baca Juga: Kisah Ini Membuat Kita Merenung karena Menyakiti Orang Lain
Kisah ini mengajarkan tentang ketulusan, menghormati keputusan orang lain, dan menerima kenyataan dengan sabar. Itulah sebabnya kisah Mughits dan Barirah masih sering diceritakan hingga kini, baik dalam kajian, buku, maupun berbagai media edukasi seperti video animasi yang mengangkat kisah-kisah inspiratif dari sejarah Islam.
Kisah Mughits dan Barirah bukan sekadar kisah cinta yang menyedihkan. Ia adalah pelajaran tentang batas antara cinta dan hak memilih. Mughits mengajarkan ketulusan dalam mencintai, sementara Barirah menunjukkan bahwa seseorang berhak menentukan jalan hidupnya sendiri.
Dari kisah ini kita belajar bahwa cinta adalah anugerah yang indah, tetapi cinta saja tidak selalu cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan. Diperlukan kesediaan dari kedua belah pihak, saling ridha, dan yang terpenting, keikhlasan menerima ketetapan Allah SWT.
Baca Juga: Ilmuwan Muslim, Kisah Brilian Abdurrahman al-Khazin
*Digital Marketing Manager VideosID.


















