
Dr. KH. Musta’in Syafi’i, M. Ag.
Ciri lain dari ulama bermental Bani Israil ini adalah watak menjilat. Mereka berpenampilan seperti kiai, mengenakan sorban yang besar, namun berjiwa penjilat yang ambisius terhadap kedudukan dan kemewahan materi.
اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَسْلِيمًا كَثِيْرًا
اتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (الاحقاف:15)
أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ نَتَقَبَّلُ عَنۡهُمۡ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُوا۟ وَنَتَجَاوَزُ عَن سَیِّـَٔاتِهِمۡ فِیۤ أَصۡحَـٰبِ ٱلۡجَنَّةِۖ وَعۡدَ ٱلصِّدۡقِ ٱلَّذِی كَانُوا۟ یُوعَدُونَ
Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah
Perintah dan pesan takwa di dalam Al-Qur’an sejatinya bersifat umum. Orang yang belum memeluk Islam diarahkan untuk masuk Islam, sedangkan mereka yang sudah beriman dituntut untuk terus meningkatkan kualitas takwanya. Seruan ini tidak hanya berlaku bagi orang awam, melainkan naik hingga tingkat tertinggi, yaitu para ulama, bahkan para nabi.
Baca Juga: Waspada Kecemasan Berlebih atau OCD, Ini Petunjuk Allah untuk Mencegahnya
Di dalam Al-Qur’an, perintah untuk memperbaiki diri dan beristigfar juga ditujukan kepada Nabi Saw. Namun, ada satu hal yang membedakan: umat Islam diperintahkan untuk bertaubat, sementara Nabi tidak. Kita tidak akan menemukan khitab khusus di dalam Al-Qur’an yang memerintahkan Rasulullah Saw, dengan kalimat “tub” (bertaubatlah). Seruan taubat selalu berbentuk jamak untuk umum, seperti firman Allah dalam Surah An-Nur ayat 31:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ
Bertaubatlah kepada Allah wahai para mukminin/muslimin (Al-Nur: 31)
Mengapa demikian? Karena secara teologis, Nabi bersifat ma’shum (terjaga dari dosa) sehingga tidak memerlukan taubat atas maksiat. Jika Hadraturrasul Saw, para sahabat, dan ulama saja tetap diperintahkan beristigfar untuk meningkatkan derajat kedekatan mereka kepada Allah, lalu bagaimana dengan kita? Menariknya, Al-Qur’an memberikan perhatian sekaligus peringatan yang sangat tajam dengan khitab-khitab yang khusus mengarah kepada tipologi para ulama.
Allah SWT dan Kanjeng Nabi membagi ulama ke dalam dua kategori besar. Pertama, ulama yang memiliki jiwa khasyah (takut kepada Allah). Jangankan menyentuh perkara yang haram, mengonsumsi perkara yang syubhat saja mereka enggan. Bagi ulama sejati, jiwa khasyah ini merupakan identitas yang mutlak dan melekat dalam dirinya.
Sebaliknya, Al-Qur’an juga memotret tipologi kedua, yaitu ulama yang bermental seperti ulama Bani Israil. Allah SWT berfirman dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 197:
أَوَلَمْ يَكُن لَّهُمْ آيَةً أَن يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ
“Dan apakah tidak menjadi suatu tanda (bukti) bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?”
Baca Juga: Hal-hal yang Mengindikasikan Haji Mabrur
Bagaimana deskripsi ulama Bani Israel tersebut? Disebutkan dalam ayat yang lain Surah Al-A’raf 175:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ
“Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari (ayat-ayat) itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.”
Ayat ini berbicara tentang Bal’am bin Ba’ura. Ia adalah sosok yang awalnya sangat saleh dan alim. Sebagian ulama bahkan menyebutnya sebagai nabi, merujuk pada qarinah kalimat “ātaināhu āyātinā” (Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya) yang berarti ada pemberian wahyu kepada Bal’am. Namun pada akhirnya, ia membelot. Bal’am tergoda oleh kilauan uang, pangkat, dan kemewahan duniawi. Akibat godaan-godaan tersebut, status keulamaan dan spiritualitasnya tercerabut hingga Allah mencapnya sebagai bagian dari al-ghawin (orang-orang yang sesat).
Ciri lain dari ulama bermental Bani Israil ini adalah watak menjilat. Mereka berpenampilan seperti kiai, mengenakan sorban yang besar, namun berjiwa penjilat yang ambisius terhadap kedudukan dan kemewahan materi. Allah SWT memberikan perumpamaan yang sangat hina bagi mereka pada ayat berikutnya, Surah Al-A’raf ayat 176:
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya yang rendah. Maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dia menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.”
Baca Juga: Situs Langit dan Strategi Bumi: Kisah Heroik Kiai Wahab dan Kiai Nursalim Jombang
Ulama seperti itu koyo kirek (seperti anjing). Ingatlah, ini bukanlah cercaan dari khatib, melainkan firman langsung dari Allah Azza wa Jalla. Di sinilah para santri, khususnya santri Tebuireng, harus tegas memilih di antara dua jalan ini. Pesantren ini didirikan untuk mendidik kita menjadi ulama yang yakhsyallah (takut kepada Allah), bukan ulama penjilat yang haus akan dunia.
Nabi Muhammad menegaskan posisi ulama melalui sabda beliau yang sangat masyhur, “al-ulama’ warasatul-anbiya’” (Ulama adalah pewaris para nabi). Hadis ini memiliki jalur riwayat yang panjang. Meskipun secara takhrij terdapat variasi penilaian—di mana versi Imam Ad-Daraquthi, Al-Khatib Al-Baghdadi, Ibnu Al-Jauzi, dan Zainuddin Al-Iraqi sempat mempersoalkan keabsahannya—namun Imam Muslim bin Al-Hajjaj menilai hadis ini dapat dijadikan hujjah. Begitu pula dengan Ibnu Madini yang menyebut perawinya saduq (jujur), serta diperkuat oleh Yahya bin Ma’in yang mengategorikan perawinya sebagai tsiqah (terpercaya).
Kalau ulama disifati oleh Nabi sebagai pewaris para nabi. Kalau kita analogikan dengan ilmu Faraidh, namanya pewaris itu ya memiliki bagian sendiri-sendiri; ada yang mendapat setengah, seperenam, seperemat, seperdelapan, ada juga yang tidak mendapat apa-apa atau mahjub. Kita ambil contoh, semua ukhuwah (persaudaraan) dalam Faraidh itu ahli waris, akan tetapi jika seorang yang meninggal itu memiliki anak lelaki, maka persaudaraannya itu menjadi mahjub.
Maka dari itu, bagi siapa saja yang merasa dirinya ulama, mari grayangi awake dewe-dewe (introspeksi diri masing-masing). Sudahlah kita mewarisi sifat Nabi? Berapa persen warisan itu yang ada pada diri kita? Jangan-jangan kita tidak mewarisi apa pun dari beliau.
Khutbah ini pedas, khutbah ini mungkin perih, tetapi hanya badan yang terluka saja kalau perih jika disiram air garam. Sedangkan badan yang sehat justru, malah menjadi sehat. Dalam beberapa hadis disebutkan, ada tipe ulama yang menuntun umat menuju kebahagiaan abadi (li sa’adatil abad), itulah ulama akhirat. Namun, ada pula ulama yang justru menjerumuskan umat ke dalam kebinasaan (muta’arridhun bi halakil abad).
Baca Juga: Begini Sikap Nabi yang Patut Dicontoh kepada Umat Non-Muslim
Rasulullah Saw, bersabda:
إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya (ilmu tersebut), sungguh ia telah mengambil bagian keuntungan yang sangat banyak. (HR. Turmudzi)
Dalam konteks perjuangan di Indonesia, kita patut meneladani sang pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, yang menasihati para pengurusnya dengan kalimat legendaris: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari juga dikenal dengan keluhuran budinya. Ketika panen kelapa di desa Keras, beliau membagi-bagikannya kepada masyarakat, bahkan beliau mewakafkan tanahnya di desa Jombok untuk dijadikan pasar. Beliau tidak pernah mencari penghidupan di dalam Nahdlatul Ulama, melainkan menghidupi NU dengan ilmu, tenaga, dan hartanya.
Dua ulama besar ini adalah karib sekawan yang memberikan teladan nyata dalam gerakan sosial yang tulus. Berangkat dari keteladanan mereka, prinsip yang harus kita pakai adalah fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan), bukan rebutan jabatan atau kepangkatan. Sungguh tidak pantas disebut sebagai ulama jika dalam proses pemilihan atau perebutan posisi masih menggunakan pola money politic, suap, atau istilahnya bom-boman. Orang yang menggunakan uang untuk membeli jabatan sama sekali tidak layak menyandang gelar ulama.
Terakhir, mengapa fastabiq (berlomba) pada objek al-khairat? Secara umum khairat memang bermakna semua sektor kebajikan. Tetapi Al-Qur’an menyebutkan al-khair itu adalah simbol sedekah atau uang. Pertama pada ayat 180 surah Al-Baqarah:
إِن تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ
… jika ia meninggalkan harta yang banyak… (Al-Baqarah: 180)
وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ
“Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan.” (Al-‘Adiyat: 8)
Baca Juga: Fatwa Sembelih Dam di Tanah Air itu Bukan Khilaf, Melainkan Masalah yang Tak Perlu Dihiraukan
Mengapa harta disebut dengan istilah khair (kebaikan)? Karena secara tabiat, manusia memandang bahwa uang dan harta adalah hal yang baik. Maka tugas kita sekarang adalah menyalurkan harta tersebut dengan cara yang baik pula. Jangan gunakan harta untuk merusak tatanan agama, melainkan gunakanlah untuk menghidupi perjuangan agama, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para pendahulu kita, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan. Keduanya sama-sama mbandani (memodali) jalannya dakwah agama sebagai bentuk perjuangan yang hakiki.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Ditranskip oleh: Yuniar Indra Yahya


















