
Setelah mengenal banyak nama tokoh perempuan Islam berilmu yang sering mengingatkan kita pada sosok Aisyah r.a, ada juga satu nama lain dari shahabiyah yang pantas kita kenal, beliau Asy-Syifa binti Abdullah. Perempuan Quraisy dari bani ‘Adi, putri Fatimah binti Wahab bin Amr bin A’id bin Imran Al-Mahkzumiyyah. Beliau cukup terkenal akan kecerdasannya yang juga mampu dalam hal tulis menulis.
Baca Juga: Kepemimpinan dan Kecerdasan Aisyah binti Abu Bakar
Perempuan cerdas dan hebat yang memiliki nasab Asy-Syifā’ binti ‘Abdillah bin ‘Abd Syams bin Khalaf bin Syaddad bin ‘Abdillah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’b bin Lu’ay al-Qurasyiyyah al-‘Adawiyyah[1] ini memiliki nama asli Laila, ibu dari Sulaiman bin Abi Hatsamah. Perempuan yang juga menjadi ibu dari salah seorang terpandang dan mulia, Abu Hakim bin Mrzuq bersama Marzuq bin Hudzaifah ini juga merupakan guru dari Hafshah.
Termasuk Muhajiroh Pertama
Seseorang yang termasuk muhajiroh pertama adalah bukti bahwasanya perempuan juga dapat berkontribusi dalam memperjuangkan agama. Selain itu menjadi seorang muhajiroh juga membuktikan bahwasanya seseorang dapat menjaga kekuatan imannya meskipun dengan mengorbankan kenyamanannya.
Maka pantaslah kita sebut Asy-Syifa sebagai perempuan hebat pada masanya, karena dalam beberapa literatur mencertikan bahwasanya beliau termasuk dalam golongan muhajiroh pertama. Hal ini dibuktikan dengan masuknya beliau ke dalam agama Islam sejak masa awal sebelum hijrah, dimana beliau juga berbai’at pada nabi dan setelah masuk Islam beliau berhijrah ke Madinah.[2]
Perempuan Cerdas, Guru Hafshah
Dikenal akan kecerdasannya berhasil menjadi bukti bahwasanya sejak zaman nabi perempuan dapat menjadi tokoh pelopor dalam dunia literasi dan bukan menjadi suatu hal yang asing dalam Islam. Dimana hal ini juga dibuktikan melalui sabda Rasulullah yang menunjukkan bahwasanya Rasulullah mengetahui kegiatan mengajar Asy-Syifa. Dimana dari sabda tersebut dapat kita ketahui bahwasanya Asy-Syifa merupakan guru sang Hafshah.
Baca Juga: Meneladani Feminime Intuition dari Sayyidah Khadijah
Sebagaimana sabdanya adalah sebagai berikut:
“علّمي حفصة رقية النملة كما علّمتها الكتابة”
Yang artinya “Ajarkanlah Hafshah ruqyah penyakit an-namlah sebagaimana engkau telah mengajarkannya menulis.”[3]
Sehingga dari sabda Rasulullah tersebut terlihat bahwasanya Asy-Syifa tidak hanya terkenal akan kecerdasannya, dalam hal tulis menulis juga dalam hal pengobatan, yakni dengan melakukan ruqyah untuk penyakit an-namlah, yang diakui oleh Rasulullah. Dengan demikian membuktikan bahwasanya Beliau tidak hanya sekadar guru tulis menulis Hafshah tetapi juga guru dalam hal medis, ruqyah untuk penyakit an-namlah.
Dalam menunjukkan penghormatan Rasulullah kepada sosok perempuan berilmu dan berakhlak mulia, Rasul tidak jarang singgah untuk beristirahat siang (qailulah) di rumah Asy-Syifa.[4] Rasul juga memberikannya rumah di daerah pengrajin, yang kemudian beliau tempati bersama putranya, Sulaiman.
Selain itu dapat kita ketahui dari sejarah yang menceritakan sosok Asy-syifa, bahwasanya beliau juga merupakan perempuan yang memiliki integritas dalam kegiatan sosial. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya Umar yang bergitu menghormati beliau hingga selain meminta pendapat, Umar juga dapat mempercayakan urusan pasar pada beliau.
Baca Juga: Fatimah al-Fihri Perempuan yang Mengubah Arah Peradaban
Selain menjadi sosok pendidik, Asy-Syifa juga berhasil menjadi sosok penasihat sekaligus tokoh publik yang berpengalaman dan dapat dipercaya dalam mengelola urusan masyarakat. Dari jejak Asy-Syifa telah membuktikan pada kita bahwasanya pendidikan perempuan tidak hanya sekadar hak belajar atasnya, tetapi juga menjadi jalan dalam kontribusi pembangunan peradaban.
Referensi:
[1] Ibn al-Atsir, Usud al-Ghabah fi Ma’rifat al-Shahabah, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.), jil. 7, hlm. 162–163.
[2] Muhammad bin Sa’d, Al-Ṭabaqāt al-Kubrā, (Beirut: Dār Ṣādir, t.t.), jil. 10, hlm. 254.
[3] Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaḥābah, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1415 H), jil. 8, hlm. 201–203.
[4] Ibn al-Atsir, Usud al-Ghabah fi Ma’rifat al-Shahabah, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.), jil. 7, hlm. 162–163.


















