sumber foto http://cdn.klimg.com/dream.co.id/resources/news/2017/04/11/54764/

Oleh: KH. Fawaid Abdullah *

Bahasa alim yang dimaksud disini adalah seorang muslim yang punya kemampuan spesialisasi ilmu tertentu, entah itu ahli ilmu fikih, ilmu hadist, insinyur, dokter. Walaupun sebenarnya, kata atau lafadz “Ulama” yang dimaksud secara umum, adalah mereka yang alim atau ahli dibidang ilmu keagamaan atau Diniyyah al Syar’iyyah.

Tetapi hakekatnya, mereka yang belajar ilmu alam pun, ilmu eksakta dan lain-lain, itu sesungguhnya sama-sama belajar ilmu yang bersumber dari ilmu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jadi, kalimat alim yang dimaksud adalah mereka-mereka yang punya kekuatan Taqwallah, takwa kepada Allah, rasa takut yang tinggi kepada Allah. Karena sejatinya hamba Allah yang benar-benar punya rasa takut kepada Allah itu adalah mereka para Ulama. Bukan dikotomi penguasaan ilmunya. Tetapi lebih kepada Yakhsyallah, rasa takut kepada Allah-nya. Innama Yakhsyallah min ‘ibaadihi al Ulama.

Orang-orang alim zaman dulu itu selalu mau belajar ilmu kepada siapapun dan dimanapun, bahkan dengan jarak tempuh yang sangat jauh sekalipun. Mereka belajar ilmu dan mengamalkannya. Karena yang mereka cari itu bukan tujuan keduniaan, tetapi murni semata-mata hanya Ibtighaaa Mardhatillah, hanya murni mencari ridla Allah, berbanding terbalik kebanyakan dengan orang zaman now, dimana tujuan utamanya mengejar dunia, harta, pangkat dan jabatan tertentu.

Menurut Malik bin Anas RA, bahwa ilmu itu tidak dilihat dan tidak diukur berapa banyak riwayatnya. Karena ilmu itu berkaitan dengan cahaya “nuur” yang Allah tancapkan kedalam hati seseorang.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Menurut Ibnu Mas’ud RA, bahwa sesungguhnya ilmu itu hakekatnya adalah rasa takut atau khasyyah yang tinggi. Seharusnya, semakin luas dan tinggi ilmu seseorang, harus berbanding lurus dengan rasa khasyyah “takut” nya kepada Allah juga semakin tinggi pula.

Para Ulama zaman dulu, zaman old itu benar-benar punya tingkat kepercayaan kepada Allah sangat kuat dan tinggi sekali dalam segala hal dan kondisi. Mereka juga merasa cukup, tidak banyak bergantung kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Para Ulama zaman old itu berjalan penuh andhap-asor, sangat tawadlu’ sekali. Termasuk ketika bertemu dengan orang-orang bodoh sekalipun mereka selalu mengucapkan salam dan menghargainya penuh rasa hormat.

Mereka juga mendidik dengan akhlak “adab” al Qur’an, mengikuti sunah Baginda Nabi-Nya sebagai sebaik-baiknya panutan. Karena Ulama itu adalah sebagai pewaris para Nabi, mereka itu sangat dicintai penduduk langit yaitu para Malaikat dan sebagainya. Menurut riwayat Ibnu Najjar dari Sahabat Anas RA, Rasulullah SAW bersabda: “Al Ulama-u Waratsatul Anbiyaa, Yuhibbihum Ahlul Al Samaa’i

Wallahu A’lam


*Santri Tebuireng 1989-1999, Ketua Umum IKAPETE Jawa Timur 2006-2009, saat ini sebagai Pengasuh Pesantren Roudlotut Tholibin Kombangan Bangkalan Madura.


Disadur dari kitab Irsyadul Mukminin, karya Allahyarham Gus Ishom Tebuireng yang Legendaris.

SebelumnyaAkhlak Mulia Salafus Shalih Terhadap Ilmu
BerikutnyaInovasi dalam KBM Sangat Dibutuhkan