Mentadabburi Pesan KH. Hasyim Asy’ari kepada Para Guru

82

Dalam proses transfer ilmu dibutuhkan keseriusan dari tiga pihak; murid, wali murid, dan guru. Sebagaimana keterangan Imam Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’allim nya. Satu saja unsur tidak terpenuhi dari ketiganya, hasil didikan terhadap murid tidak akan ideal. Di antara ketiganya, guru memiliki andil cukup besar dalam proses belajar mengajar, serta memiliki kedudukan yang mulia. Bahkan dalam sebuah maqolah dikatakan;

Metode itu lebih penting dari materi.

Guru lebih penting dari metode.

Dan jiwa guru lebih penting dari guru itu sendiri.

Dari sini kita tahu bahwa jiwa guru di atas segalanya, tentunya tanpa mengesampingkan unsur yang lain. Allah SWT menegaskan kemuliaan orang-orang berilmu dalam firmanNya;

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

یَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمۡ وَٱلَّذِینَ أُوتُوا۟ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتࣲۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِیر

Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.’ (Q.S. Al-Mujadalah ayat 11)

Dengan janji kemuliaan tersebut, tentunya jalan menuju ke sana tidak semudah yang dibayangkan. Terlebih, di era seperti sekarang. Tantangan guru semakin beragam dan kompleks. Mulai dari sistem pendidikan, kebijakan pemerintah, sampai berhadapan dengan krisis akhlaq yang menimpa generasi muda, terutama  kepada gurunya sendiri.

Banyak beredar di media social beberapa murid mengeroyok guru, menantang guru untuk adu jotos, melaporkan guru ke polisi hanya karena dinasehati, yang padahal itu adalah tugas seorang guru. Dan masih banyak kasus-kasus miris lainnya. Nauzubillah min zalik.

Sering kali sebagai guru kita terus menerus menyalahkan satu sisi, muridnya. Kita selalu mengharapkan agar murid berlaku sopan santun. Tentu ini adalah impian semua guru.

Namun sebagai guru, tidak ada salahnya jika melakukan intropeksi; meraba diri sendiri. Apakah kemerosotan moral anak didik murni factor dari diri sang murid, media social, lingkungan, bahkan keluarga? Semua factor itu jelas berpengaruh besar. Tapi pernahkah kita berpikir, bahwa  tindak lampah sang guru juga memiliki efek yang cukup besar?

Oleh karenanya, mari sejenak kita merenungi pesan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari kepada para guru. Dalam kitab beliau yang berjudul Adab al-Alim wa al-Muta’allim, beliau menekankan bahwa tidak hanya murid saja yang mempunyai tanggung jawab untuk beradab, namun juga sang guru. Beliau juga membagi akhlak- akhlak yang harusnya dimiliki oleh seorang guru menjadi dua bagian: akhlak kepada diri sendiri (20 akhlak), akhlak ketika mengajar, dan akhlak ketika bersama muridnya (14 akhlak).

Dari semua akhlak yang beliau paparkan, kita akan mengutip sedikit saja, yakni; seorang guru harusnya sadar, bahwa ketika ia siap mengemban amanah menjadi guru, maka harus siap menjalankan akhlak sebagai seorang guru. Seorang guru dianjurkan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam keadaan apa pun. Menjaga hati dari kecenderungan kepada hal-hal ynag bersifat duniawi, dan senantiasa memiliki jiwa antusiasme yang tinggi dalam belajar serta menulis. Bahkan di masyarakat, guru tetap harus memaksa diri untuk bertindak sabaik mungkin, serta ikut berpartisipasi dalam mensyiarkan agama. Karena sadar atau tidak, ia adalah public figure dan barometer bagi murid-muridnya. Marwah sebagai guru harus ia jaga.

Selain akhlak terhadap diri sendiri, seorang guru juga memiliki tanggung jawab moral saat mengajar. Tidak hanya sekedar menunaikan kewajiban untuk masuk kelas semata. Namun lebih dari itu, ia hendakknya memperhatikan penampilan fisiknya, mengajar dalam keadaan suci, bersih, wangi dan berpakaian yang pantas. Bukan karena apa-apa, melainkan untuk mengagungkan ilmu yang ia bawa.

Seorang guru harus memiliki kepekaan yang tajam terhadap perkembangan peserta didiknya. Ia harus bisa mendeteksi, mana yang kurang dari pelajaran. Dan apa yang harus ia lakukan, yang sekiranya dibutuhkan oleh peserta didik. Selain itu, keseriusan guru dalam mengajar juga menjadi hal yang wajib ada. Ia harus berusaha sungguh-sungguh untuk memahamkan muridnya, lalu berpasrah diri kepada Allah dalam hasilnya.

Dengan para murid, guru dituntut berlaku adil, perhatian, serta bersikap lembut. Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW menasehati seorang a’roby yang kencing di masjid dengan sangat lembut. Ketika para sahabat memarahinya, justru Rasulullah SAW mencegah mereka. Membiarkan si a’roby tadi untuk menuntaskan kencingnya agar hal itu tidak menimbulkan rasa sakit bagi si a’roby. Lalu Rasulullah SAW memanggil si a’roby dan berkata, Sesungguhnya masjid itu tidak layak dikencingi ataupun dikotori. Masjid adalah tempat untuk mengingat Allah SAW dan membaca Al-Qur’an

Maka dari sini kita tahu bahwa seorang guru dengan seluruh ekspektasinya akan sang murid untuk mampu menjalankan akhlak sebagai seorang murid, harus berekspektasi pula akan dirinya sendiri. Mengusahakan keduanya agar tercapai. Karena menuntut hak tanpa menunaikan kewajiban hanya akan menciptakan disharmoni di lingkungan belajar mengajar. Padahal keharmonisan adalah kunci mencapai hasil yang maksimal. insyaAllah. Sekian.

Baca Juga: 10 Nasehat Mbah Hasyim untuk Para Guru (Bagian 1)


Penulis: Umu Salamah, Pengajar di Pesantren Raudhatul Ulum Pati

Editor: Sutan