
Langit senja yang indah berwarna jingga merona di ufuk barat. Angin sore berhasil membawa aroma gorengan dari dapur kecil rumah kami. Di meja makan yang sederhana, ibu menata piring-piring kecil sederhana yang berisi kurma, kolak pisang, dan segelas air untuk masing-masing dari kami.
Selalu saja, bulan Ramadhan membawa suasana yang berbeda di rumah kami. Bukan karena makanannya yang lebih mewah atau yang lebih mahal, tetapi karena ada sesuatu yang terasa hangat dan utuh setiap kami duduk bersama di meja berbuka.
Aku duduk di kursi yang pertama. Adikku yang kedua duduk berhadapan dengan aku, adik yang bungsu duduk di sebelahku. Ibu dan bapak duduk saling berhadapan di pojok-pojok meja. Memang sudah paten tatanan duduk kami seperti itu. Tapi bapak tidak pernah ikut berbuka di rumah, selalu berbuka di masjid, karena memang rumah kami sangat dekat dengan masjid.
Ibu keluar dari dapur sambil membawa es buah buatannya. Sangat menggoda sekali.
“Jangan diminum dulu ya,” katanya sambil tersenyum.
“Tidak ibu, aku cuma lihat-lihat saja bu,” jawabku walaupun sebenarnya tenggorokanku sudah tidak sabar lagi untuk disapa oleh es yang segar itu.
Entah mengapa, di bulan Ramadhan ini waktu lima menit seakan berasa lima puluh menit. Perut sudah terasa kosong, tenggorokan kering, dan aroma makanan yang sangat menggoda.
Adikku, Nisa datang sambil membawa gelas besar berisi es buah itu.
“Ini buat ayah,” katanya sinis melihat ke arahku.
Kami semua juga tahu ayah selalu duduk di pojok meja. Seperti singgasana raja. Ayah tetap ikut kami berbuka di rumah, tapi ia buka pertama di masjid dulu dan langsung sholat maghrib berjamaah. Setelah itu ayah langsung pulang ke rumah.
Adzan telah berkumandang. Saatnya berbuka, meskipun sederhana namun penuh makna kebahagiaan. Kami berdoa bersama.
“Setelah minum, makan kurma dulu ya,” ujar ibu mengingatkan kami.
Hampir serentak kami mengangguk.
“Kakak, tolong tuangkan kolak pisangnya,” ujar Rani. Maklum dia masih kecil. Baru masuk TK. Tapi dari tahun kemarin dia sudah dilatih oleh ibu untuk puasa full.
“Assalammualaikum,” suara ayah terdengar.
“Walaikumsalam,” jawab kami yang hampir bersamaan.
Ayah langsung memakan takjil yang ibu buat bersama kami di meja. Entah kenapa rasanya selalu cukup. Ayah menatap kami satu persatu, lalu berkata pelan,
“Ramadhan itu bukan tentang seberapa banyak hidangan yang tersaji di meja makan, tapi tentang cara kita mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah.”
Aku tahu ayah akan memulai bercerita. Setiap buka puasa seperti ini ayah sering menyelipkan kisah-kisah kecil di meja ini sehingga suasana tidak tegang.
“Dulu, waktu ayah masih kecil,” lanjutnya, “kakekmu itu hanya punya singkong rebus untuk berbuka puasa.”
“Serius, yah?” tanya Nisa.
Ayah mengangguk.
“Meskipun begitu kami tetap menunggu adzan dengan bahagia. Karena yang kami tunggu sebenarnya bukan makanannya, tetapi momennya,” lanjut ayah.
“Momen kebersamaan ya, yah?” aku bertanya.
“Iya, betul sekali. Momen ketika kita duduk bersama, berhenti dari kesibukan, dan mengingat bahwa kita sudah melewati satu hari puasa.”
Ibu tersenyum kecil sambil menuangkan air ke gelas ayah.
Aku memandang meja sambil memakan kolak pisang. Aku juga berpikir. Memang tidak ada yang istimewa. Tapi aku tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang tenang di dada. Mungkin benar kata ayah, yang membuat meja makan ini terasa istimewa itu bukan makanannya tetapi orang-orang yang duduk di sekitarnya.
Di luar, ada suara anak-anak bermain petasan.
Aku memandang wajah ayah, ibu, Nisa, dan Rani adik bungsuku.
Hanya makanan sederhana, tawa kecil, dan cerita ringan. Tapi di meja berbuka ini, aku merasa waktu berjalan sedikit lebih lambat. Seolah-olah dunia memberi kami jeda kecil untuk saling melihat, saling mendengar, dan saling mengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal yang besar.
Saat itu pun aku sadar bahwa suatu hari nanti aku akan benar-benar merindukan meja kecil ini. Meja yang setiap Ramadhan menyimpan cerita-cerita sederhana. Cerita yang tidak pernah tertulis di buku tetapi selalu hidup di hati kami.
Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary


















