Meneladani Sikap Sang Pendidik

KH. Hasyim Asy’ari

Oleh: Luluatul Mabruroh*

Kiprah dan perjuangan HadratussyaikhKH. Hasyim Ay’ari dalam mendidik putra-putri bangsa bukan sekadar ritual transfer ilmu pengetahuan terhdap para santri-santri beliau tanpa menggunakan siasat dan strategi dalam proses belajar – mengajar.

Basit Adnan dalam bukunya menggambarkan bahwa proses belajar mengajar yang diterapkan oleh KH. Hasyim Asy’ari dilakukan dengan cara lemah lembut dan penuh keikhlasan. Sebab menurut keyakinan beliau, ilmu yang disampaikan dengan lemah lembut dan kasih sayang yang mendalam akan memberikan bekas yang mendalam.  Ini seperti pepatah lama, apa yang disampaikan oleh hati akan diterima oleh hati, yaitu pendekatan yang tidak banyak mencela akan tetapi selalu berbuat dan membela kebenaran.

Beliau tidak hanya mengritik akan tetapi juga memberi teladan yang baik dengan sikap dan tingkah laku beliau yang senantiasa membaca dan belajar banyak hal. Pola pendidikan dan pengajaran tersebut pada dasarnya sesuai dengan pola pengajaran yang diajarkan oleh Rasulullah SAW yaitu waaz dan Irsyad (memberi teladan dan mendidik) dalam artian apa yang beliau ajarkan dalam kelas beliau implementasikan dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari. Dalam kehidupan, KH. Hasyiim tidak hanya mampu berbicara tentang kbaikana akan tetapi juga mampu menjadi teladan dalam hal kebaikan.

Selain itu, kepekaan KH. Hasyim dalam menganalisa watak orang timur yang cenderung tidak menyukai celaan dan menyukai pujian menggugah beliau menggunakan siasat tersebut untuk menghadapi masyarakat dan santrinya. Karena pendekatan yang penuh cinta kasih serta penuh dengan kelemah lembutan itulah, proses pendidikan serta dakwah KH. Hasyim dapat diterima oleh masyarakat luas dengan mudah dan mengubah pola sikap rusak dan kebiasaan tidak baik terutama pada masyarakat sekitarnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
🤔  Sameena, Pejuang Suaka

Kepada para santri, KH. Hasyim memberikan perhatian penuh dan menganggap mereka sebagai keluarga sendiri, tidak sekedar hubungan antara kiai dengan murid saja. Santri yang tidak mampu, diangkatnya sebagai pembantu rumah tangga ataupun mengurus delman dan kudanya.sedangkan ada pa santri yang eliau tugaskan untuk pergi ke sawah untuk menggarap ladang dan mengisi tempat wudhu di masjid, sehingga santri tetap bisa belajar.

Salah satu konsep pendidikan yang dikembangkan oeh KH. Hasyim Asy’ari dalam proses belajar mengajar terhadap santrinya tertuang dalam karangan beliau “Adab al-Alim wa al-Muta’allim”. Kitab tersebut secara garis besar berisi tentang perilaku murid terhadap dirinya sendiri, terhadap gurunya serta perilaku murid terhadap pelajarannya. Tak hanya itu, kitab tersebut membahas tentang perilaku guru terhadap hak-hak dirinya, terhadap pelajaran dan perilaku guru terhadap muridnya. Ajaran dari kitab ini kemudian menjadi standart moral santri di pesantren tradisional (salaf) di Jawa hingga sekarang.

Tak ayal, pesantren yang beliau bangun, Pesantren Tebuireng berkembang sangat pesat dan berpengaruh serta memberikan kontribusi besar bahkan sejak masa penjajahan Belanda. Hal ini membuat Jepang tergerak untuk melakukan pendataan terhadap jumlah Kiai/Ulama yang ada di Jawa khususnya Tebuireng. Dari hasil pendataan yang dilakukan oleh Sambu Beppang (Gestapo Jepang) pada tahun 1942, terdapat dua puluh lima ribu kiai yang lahir dari Pesantren Tebuireng. Data tersebut menunjukkan betapa besar peran pengaruh KH. Hasyim Asy’ari dalam mencetak kader ulama untuk pengembangan dan pengajaran Islam di tanah Jawa pada awal abad ke-20. 

*Mahasiswa PBA Unhasy, Santri Walisongo Jombang.