Oleh: Nurdiansyah*

Sebagai makhluk sosial, manusia diharuskan mempunyai ketergantungan terhadap manusia lainnya, karena mereka pasti tidak akan bisa memenuhi kebutuhan mereka secara sempurna tanpa bantuan manusia lainnya. Di antara bukti bahwa manusia merupakan makhluk sosial adalah mereka memiliki yang namanya teman atau sahabat. Teman merupakan sosok penting dalam kehidupan sehari-hari manusia, sampai-sampai Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa ukuran ketaatan seseorang bisa dilihat dari kualitas para teman yang dimilikinya:

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ

Artinya : “Dari Abu Hurairah dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, “Seseorang tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dia jadikan sebagai teman dekat.” H.R. Abu Dawud.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam kitab ta’lim muta’alim karya Syekh az-Zarnuji dijelaskan adanya etika dalam memilih teman ketika dalam masa mencari ilmu, karena masa mencari ilmu inilah pergaulan sehari-hari seorang murid sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu yang dipelajari, faktor eksternal seperti sosok teman sangat krusial posisinya dalam mendukung proses belajar.

وأما اختيار الشريك، فينبغى أن يختار المجد والوراع وصاحب الطبع المستقيم المتفهم، ويفر من الكسلان والمعطل والمكثاروالمفسد والفتان.

Artinya : Tentang memilih teman, hendaklah memilih yang tekun, waro, bertabiat jujur serta mudah memahami masalah. Menyingkiri orang pemalas, penganggur, banyak bicara, suka mengacau dan gemar memfitnah.

Dalam penjelasan selanjutnya ada sebuah syair yang berbunyi,

عن المرء لا تسأل وابصر قرينه # فإن القرين بالمقارن يقتدي

فإن كان ذاشر فجنبه سرعة # وإن كان ذا خير فقارنه تهتدي

Artinya :

Jangan bertanya siapakah dia? Cukup kau tahu oh itu temannya karena siapapun dia, mesti berwataq seperti temannya.

Bila kawanya durhaka, jauhilah dia segera, bila bagus budinya, dekatilah dia, maka kamu akan dapat petunjuk.

Kitab ta’lim mutaalim seakan-akan menyarankan bagi para pelajar agar memilih dan memilah teman di dalam proses pencarian ilmu, dan saran tadi tertuju hanya kepada teman yang memiliki kebiasaan positif agar kita juga bisa meniru dan meneladani perilaku teman kita.

Lantas apakah kita tidak boleh berteman dengan orang yang punya kebiasaan kurang baik dalam masa pencarian ilmu, misalnya berteman dengan si pemalas? Jika kita hanya melihat nasihat dari kitab ta’lim mutaalim, maka si pemalas tidak masuk dalam kategori orang yang disarankan untuk menjadi teman kita dalam proses belajar.

Tetapi alangkah baiknya jika dalam proses belajar kita berteman dengan semua orang, karena berteman dengan berbeda orang pasti punya pengalaman dan pelajaran yang berbeda-beda, tentunya kita juga diharuskan waspada jangan sampai kita yang tertular kebiasaan negatif teman kita. Kalau bisa kita yang menggandeng teman kita agar bisa belajar dan bersaing bersama dalam pencarian ilmu, semuanya harus didasarkan dengan prinsip dakwah, menebar dan menularkan kebaikan di mana pun kita berada.


*Santri Tebuireng

SebelumnyaBisakah Manusia Melihat Wujud Allah?
BerikutnyaIngin Jadi Pemimpin Sukses? Miliki 6 Karakter Umar bin Abdul Aziz