Oleh: Faizal Amin*

Umar bin Abdul Aziz atau sering kali disebut Umar ll, adalah khalifah yang meminpin dinasti Umayah pada tahun 717 – 720 M. Dalam masa Umar memimpin, banyak sekali hal-hal atau prestasi yang beliau capai. Mulai dari dari bidang keagamaan, Ilmu pengetahuan, ekonomi, militer dan berbagai bidang lainnya.

Contoh kecilnya, dalam bidang keagamaan. Pada masa Umar bin Abdul Aziz, berbagai hadis dikumpulkan kemudian dipetakan antara hadis yang shohil dan palsu, yang mana hal ini dikerjakan oleh Imam Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri.

Dalam bidang Ilmu pengetahuan, Umar pernah mengadakan pertemuan untuk mendalami hal tersebut, salah satunya dengan memindahkan sekolah kedokteran dari Iskandariyah (Mesir) ke Antioke dan Harran (Turki).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam bidang ekonomi, Umar mampu menjadikan pajak rakyat semakin ringan. Membuat aturan terkait dengan pelaksanaan timbangan dan takaran dan berbagai kebijakan lainnya yang berorientasi terhadap kesejahteraan rakyat.

Dalam waktu kepeminpinan beliau yang bisa dikatakan sangat singkat ini, Umar mampu membuat perubahan yang sangat signifikan. Namun, keberhasilan tersebut penulis rasa tidak terlepas dari beberapa karakter yang Umar miliki, apa saja karakter tersebut, berikut ulasannya:

Taqwa pada Allah Swt

Diceritakan bahwa, Umar ketika siang hidupnya hanya bekerja untuk kemaslahatan rakyatnya. Namun, ketika malam, beliau fokus menjadi seorang sufi yang terus beribadah kepada Allah Swt.

Waro’ (Hati-hati)

Waro’ adalah sebuah karakter atau kondisi jiwa yang hati-hati, biasanya ilustrasi kehati-hatian tersebut digambarkan terhadap orang yang menjauhi perkara yang makruh atau syubhat. Makruh itu adalah sebuah hal yang ketika diambil boleh namun, lebih baik ditinggalkan. Sedangkan syubhat adalah hal yang masih belum jelas, apakah itu halal atau haram. Nah, Umar tidak mau akan keduanya, baik barang makruh ataupun barang yang masih syubhat (tidak jelas).

Pernah suatu ketika anak Umar protes terhadap beliau, karena semua hartanya dikembalikan kepada negara. Bahkan, bukan hanya harta beliau, harta keluarga nyapun diminta untuk turut dikembalikan terhadap negara.

Bukan hanya itu, Umar juga sangat berhati-hati dalam menggunakan fasilitas negara. Contoh kecilnya, ketika Umar bekerja dalam urusan negara beliau menggunakan lampu yang dimiliki negara. Namun, ketika beliau mau mengerjakan urusan pribadinya, beliau mengganti lampu tersebut dengan miliknya, meskipun dalam ruangan yang sama.

Hidup Sederhana

Umar sebelum menjadi khalifah hidupnya mewah. Berbeda ketika sudah jadi khalifah, kemewahan yang beliau punya diserahkan terhadap negara. Pernah suatu ketika Ja’far bin Mansyur bertanya kepada anak Umar bin Abdul Aziz, berapa kekayaan ayahmu saat menjabat jadi khalifah? Anaknya menjawab 4000 dinar. Ja’far bertanya lagi, berapa kekayaan ayahmu saat meninggal? Anaknya menjawab 400 dinar. Sebuah angka yang tidak wajar dan berbanding terbalik, karena seharusnya angkat tersebut bertambah bukan malah berkurang saat jadi khalifah.

Saking sederhananya pernah suatu ketika Umar sakit dan dijenguk oleh Maslamah, terus dia melihat baju Umar kusut dan kusam seakan akan tidak ganti baju sangat lama. Kemudian Maslamah bertanya kepada istri Umar, apa tidak ada baju lain selain itu, nanti takut ada yang jenguk, masak khalifah bajunya seperti ini! Istrinya menjawab, demi Allah dia tidak punya baju selain baju yang ini, kalau pun ada semuanya sama seperti itu (sudah kusut). Cerita ini seakan akan dongeng, tapi Islam pernah punya tokoh sehebat beliau.

Egaliter (bersifat sama atau sederajat)

Di masa Umar, semua manusia beliau anggap setara baik dari kalangan Arab dan non Arab. Sebagian bukti dari keegaliteran beliau ialah, pada zaman itu ada yang namanya Mawali (orang-orang yang masuk Islam tapi bukan dari kalangan Arab). Zaman itu Mawali levelnya dianggap masih di bawah, karena orang-orang pada zaman tersebut menganggap bangsa Arab memiliki derajat yang lebih tinggi dari lainnya. Nah, di zaman Umar semua disamakan, dalam artian Mawali dan orang Arab derajatnya dianggap sama, tidak ada yang lebih tinggi. Mereka juga mempunyai hak-hak yang sama seperti kaum Arab.

Bukti keegaliteran Umar selanjutnya ialah, pernah suatu ketika Umar minta tolong pembantunya untuk mengkipasi beliau, karena waktu itu beliau kepanasan hingga tidak bisa tidur. Singkat cerita beliau dikipasi hingga tidur. Lama kelamaan pembantunya juga ikut ketiduran dan Umar terbangun kemudian beliau mengipasi sang pembantu tersebut hingga pembantunya kemudian sadar, dan meminta ampun. Anehnya ketika si pembantu meminta maaf, Umar malah berkata, “Kamu ini ‘kan manusia sama sepertiku, yang juga merasakan panas sepertiku. Aku hanya ingin membuatmu nyaman dengan kipas ini sebagaimana enak membuatku nyaman dengan ini tadi”. Beliau menganggap dirinya setara, baik dengan pembantunya ataupun dengan lainnya.

Tawadlu’ (Rendah Hati)

Umar sangat dikenal dengan sifat ketawadlu’annya. Pernah suatu ketika Umar khutbah Idul Fitri, saking bagusnya khutbah yang ia bawakan banyak orang menangis, akhirnya Umar menghentikan khutbahnya tersebut. Setelah itu di antara pejabat istana bertanya, “Amirul mu’minin, kenapa khutbahnya dihentikan, padahal masyarakat sangat menikmatinya hingga banyak yang menangis”. Umar mejawab, “Aku tidak suka disanjung dan dibangga-banggakan, nanti kalau saya pulang pasti mereka bilang, ‘Wah khalifah khutbahnya bagus’”.

Inilah yang membuat masyarakatnya suka pada Umar. Bahkan, saking cintanya masyarakat terhadap beliau, pernah suatu ketika masyarakat menawarkan terhadap Umar, ingin memakamkan beliau di dekat Rasulullah Saw, ketika nanti beliau meninggal, tapi Umar tetap bersikap rendah hati dan berkata “Tidak, demi Allah, menghadap Allah dengan seluruh dosaku selain kemusyrikan lebih aku sukai dari pada aku menganggap diriku layak mendapatkan kehormatan seperti itu”.

Telaten dan sabar

Umar sangat dikenal dengan karakter tenang dan telatennya. Pernah suatu ketika anaknya memberi masukan kepada Umar, “Ayah ‘kan sudah menjadi khalifah, jadi mari kita jihad perangi semua kemusyrikan dan kezaliman”. Umar menjawab, “Jangan, tenang dulu. Al-Quran saja sebelum mengharamkan khamr, Al-Quran tidak langsung mengharamkan, tapi masih dicela terlebih dahulu”, dalam artian ada tahap tidak semua kebenaran harus disampaikan sekarang dan gamblang, takutnya kata Umar masyarakat masih belum siap melaksanakannya, dan akhirnya terjadi pertumpahan darah, meskipun sebenarnya hal itu bisa beliau lakukan dengan mengerahkan kekuatan dan pasukan yang beliau punya.

Tidak begitu lama Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai khalifah dinasti Umayah, hanya kurang lebih dua tahun. Namun, berkat karakter yang ia miliki, cara kepeminpinan beliau bisa dikenang hingga hari ini. Beberapa karakter di atas hendaknya bisa kita tiru meskipun hanya sebagian. Wallahualam


Sumber: Umar Bin Abdul Aziz : Khalifah Pembaru Dari Bani Umayyah karya Ali Muhammad Ash-Shalabi


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaMemilih Circle Pertemanan dalam Ajaran Islam
BerikutnyaJangan Kebiasaan Membeli Barang KW, Apalagi Menjualnya