
Tebuireng.online– Keteladanan KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) sebagai pendidik sekaligus pejuang pendidikan kembali dihadirkan melalui Haul ke-6 yang digelar Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng pada Ahad (1/2/2026). Haul ini menjadi momentum reflektif untuk mengingat visi besar Gus Sholah tentang pentingnya menjaga integritas, kesabaran, dan fokus pada tujuan dalam mengembangkan pendidikan serta kehidupan sosial yang berlandaskan nilai keislaman dan kebangsaan.
Haul ke-6 Gus Sholah dihadiri oleh Ketua Yayasan Universitas Hasyim Asy’ari Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Rektor Unhasy Prof. Dr. H. Haris Supratno beserta jajaran rektorat, dosen, sivitas akademika, serta mahasiswa. Sejumlah keluarga Gus Sholah turut hadir, di antaranya Nyai Hj. Farida Salahuddin Wahid dan Gus Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau yang akrab disapa Gus Ipang. Hadir pula Pengasuh Pesantren Tebuireng KH. Abdul Hakim Machfudz bersama Nyai Hj. Lelly Lailiyah.
Baca Juga: Gus Kikin Ajak Hadirin Teladani Keikhlasan Gus Sholah
Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Yayasan Universitas Hasyim Asy’ari, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Gus Sholah merupakan sosok pelajar sejati dengan cara berpikir konseptual, terbuka, dan rasional. Karakter intelektual tersebut, menurutnya, menjadi pondasi kuat dalam perjuangan Gus Sholah membangun dan mengembangkan Unhasy.
Prof. Imam juga mengenang keterlibatannya dalam proses pencarian rektor Unhasy di masa awal pendirian kampus. Ia menegaskan bahwa kegigihan dan konsistensi Gus Sholah dalam membangun Unhasy merupakan nilai perjuangan yang patut terus dijaga.
“Unhasy bukan sembarang universitas. Pendidikan di Unhasy jelas, spiritualitasnya jelas, dan nilai perjuangannya juga jelas,” tuturnya.
Baca Juga: Gus Ipang Sebut Gus Sholah Kompas Moral di Era Digital
Sambutan kedua disampaikan oleh Rektor Unhasy, Prof. Dr. H. Haris Supratno. Ia mengajak seluruh hadirin untuk meneladani akhlak Gus Sholah, terutama dalam hal kesabaran dan kerendahan hati. Menurutnya, meneladani Gus Sholah berarti sekaligus meneladani akhlak Rasulullah Saw.
Prof. Haris mengajak sivitas akademika Unhasy dan seluruh hadirin untuk terus melatih kesabaran diri agar mampu berkontribusi dalam menciptakan kedamaian, baik dalam kehidupan bermasyarakat, beragama, maupun bernegara.
“Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang sabar dan mampu mengalah. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang bersabar dan mau mengalah,” ujarnya.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Gus Ipang selaku perwakilan keluarga. Ia menekankan bahwa fokus pada tujuan merupakan salah satu pelajaran utama yang selalu diajarkan Gus Sholah semasa hidup.
Baca Juga: Kenang Gus Sholah, KH. Cholil Nafis: Gus Sholah Menaikkan Derajat Saya
“Haul ini adalah momen untuk menengok sejenak apa yang ada di belakang, tanpa mengabaikan apa yang sedang kita hadapi di depan,” ungkapnya.
Gus Ipang menegaskan bahwa refleksi atas perjuangan Gus Sholah bukan untuk terjebak dalam nostalgia, melainkan untuk menguatkan arah langkah ke depan agar nilai-nilai yang telah ditanamkan tetap hidup dan relevan sebagai pedoman Unhasy.
Sementara itu, KH. M. Cholil Nafis, Lc., M.A., Ph.D., Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, turut hadir dan membagikan sejumlah kenangannya bersama Gus Sholah. Rangkaian haul diisi dengan pembacaan Yasin, tahlil, dan sholawat. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Pengasuh Pondok Pesantren Walisongo Cukir, KH. Amir Jamiluddin
Pewarta: Helfi Livia Putri
Editor: Rara Zarary


















