Gus Kikin Ajak Hadirin Teladani Keikhlasan Gus Sholah

46
Gus Kikin memberi sambutan kepada hadirin dalam acara haul ke-6 Gus Sholah di Unhasy (foto: bakhit)

Tebuireng.online— Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin, mengajak seluruh hadirin untuk meneladani keikhlasan dan kebiasaan bermusyawarah yang senantiasa dijaga oleh KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) dalam setiap aspek kehidupan. Pesan tersebut disampaikannya dalam sambutan pada Haul ke-6 Gus Sholah yang digelar di lingkungan Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng, Ahad (1/2/2026).

Ketua PWNU Jawa Timur itu menuturkan, meski telah enam tahun berpulang, masih banyak nilai keteladanan Gus Sholah yang belum sepenuhnya dipahami dan diamalkan. Salah satunya adalah sikap beliau yang selalu mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan berbagai persoalan, termasuk dalam urusan bisnis dan sosial kemasyarakatan.

Baca Juga: Gus Ipang Sebut Gus Sholah Kompas Moral di Era Digital

“Beliau selalu memerintahkan untuk melakukan sesuatu tanpa terlebih dahulu memperhitungkan keuntungan duniawi, selama hal itu berada dalam koridor kebaikan,” ujar Gus Kikin. Menurutnya, cara pandang tersebut mencerminkan keikhlasan Gus Sholah yang patut dijadikan teladan, karena keuntungan sejati tidak hanya diukur dari capaian dunia, melainkan bernilai hingga akhirat.

Dalam sambutannya, Gus Kikin juga mengingatkan bahwa setiap jiwa pasti akan mengalami kematian dan kelak memperoleh balasan yang sempurna di hadapan Allah SWT. Ia menegaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan sementara yang kerap memperdaya manusia jika tidak disikapi dengan kebijaksanaan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Momentum haul ini menjadi pengingat penting bagi kita semua agar lebih berhati-hati dan mawas diri dalam menjalani kehidupan ke depan,” pesannya.

Baca Juga: Kenang Gus Sholah, KH. Cholil Nafis: Gus Sholah Menaikkan Derajat Saya

Lebih lanjut, Gus Kikin menyinggung masih banyaknya tulisan dan warisan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari yang belum sepenuhnya digali dan dipahami. Padahal, nilai-nilai tersebut merupakan fondasi utama dalam perjalanan dan perjuangan Nahdlatul Ulama.

Bagi Cicit Hadratussyaikh itu, haul ke-6 Gus Sholah ini tidak hanya menjadi ajang doa dan penghormatan atas jasa-jasa almarhum, tetapi juga ruang refleksi bersama untuk menghidupkan kembali nilai keikhlasan, musyawarah, dan pengabdian yang telah diajarkan Gus Sholah semasa hidupnya.



Pewarta: Helfi Livia Putri
Editor: Rara Zarary