Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Gelar Konferensi Internasional: Angkat Isu Eko-Sunnah, Kontribusi Hadis Menjawab Krisis Global dan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

122

Tebuireng.online— Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, akan menggelar hajatan akademik internasional bergengsi, 1st Muktamār Turats Nabawi (MUTUN) 2025. Konferensi Internasional Hadis Berbasis Turats ini diselenggarakan secara maraton sejak 6 Desember 2025, dan berlanjut hingga 14 Desember 2025 di komplek Pesantren Tebuireng.

Baca Juga: Muktamar Turats Nabawi (MUTUN) Mahad Aly Hasyim Asy’ari Akan Selenggarakan Bahtsul Masail Membahas Isu Ekologi

MUTUN tahun ini secara khusus mengambil tema “Eco-Sunnah dan Krisis Ekologi Global: Formulasi Kontribusi Islam Melalui Hadis untuk Agenda Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)”. Tema ini diangkat sebagai respons akademik-keagamaan atas krisis lingkungan global yang semakin mengkhawatirkan. Ma’had Aly Tebuireng berupaya menformulasikan konsep “Eco-Sunnah” dengan menggali ajaran dan praktik Nabi Muhammad SAW dari perspektif Hadis, menjadikannya landasan kontribusi Islam dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Hadis Harus Jadi Instrumen Kontribusi Nyata Umat Islam

Dr. Ahmad ‘Ubaydi Hasbillah, M.Hum., Direktur M2 Ma’had Aly Hasyim Asy’ari dan Ketua Panitia MUTUN 2025, menegaskan bahwa konferensi ini merupakan upaya nyata untuk menjembatani kajian Turats (warisan keilmuan Islam klasik) dengan isu-isu kontemporer global.

“Dunia Islam tidak boleh hanya menjadi objek terdampak dari krisis ekologi, tetapi harus menjadi subjek pemberi solusi. Melalui MUTUN, kami ingin menunjukkan bahwa Hadis Nabi sesungguhnya telah memuat nilai-nilai fundamental terkait etika lingkungan, konservasi alam, dan keberlanjutan. Kami menyebutnya ‘Eko-Sunnah’,” ujar Dr. ‘Ubayd.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ia menjelaskan bahwa konsep Eko-Sunnah yang diangkat dalam MUTUN 2025 merujuk pada nilai-nilai ekologis yang terdapat dalam Sunnah Nabi. Banyak hadits, menurutnya, mengajarkan prinsip konservasi, kesederhanaan, pengelolaan sumber daya, hingga etika interaksi dengan alam.

Baca Juga: Dari Hilirisasi hingga Wakaf Konservasi: Daftar Masalah Krusial di Meja Bahtsul Masail Tebuireng

“Nabi mencontohkan cara hidup yang seimbang dengan alam. Beliau melarang mencemari sungai, melarang menebang pohon tanpa kebutuhan yang benar, serta mendorong umatnya menanam pohon meski dalam situasi akhir zaman. Ini nilai yang sangat relevan menjawab krisis hari ini,” lanjutnya.

‘Ubaydi menambahkan, selama ini banyak hadits ekologis belum digali secara serius dalam diskursus keilmuan maupun kebijakan publik. Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng juga sudah mengumpulkan hadits-hadits lingkungan dan segera terbit. Karena itu, ia berharap agar MUTUN 2025 dapat membuka ruang pembacaan ulang terhadap hadits-hadits tersebut dengan pendekatan yang lebih aplikatif untuk konteks modern.

Kontribusi Islam terhadap Agenda Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

MUTUN 2025 bukan sekadar ajang kajian keislaman biasa, melainkan respons aktif Ma’had Aly Hasyim Asy’ari terhadap krisis ekologi yang melanda dunia. Melalui pendekatan Eko-Sunnah, konferensi ini berupaya memformulasikan kontribusi nyata dari hadis untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) global.

Menurut ‘Ubaydi, Muktamar ini menjadi momentum penting bagi para ulama dan akademisi untuk merumuskan formulasi Hadis yang aplikatif.

“Kami berharap MUTUN tidak hanya menghasilkan kajian yang indah di atas kertas, tetapi menghasilkan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti, menjadikan Hadis sebagai instrumen kontribusi nyata umat Islam terhadap agenda global SDGs, khususnya dalam aspek lingkungan,” imbuhnya.

Dr. KH. Achmad Roziqi, Lc., M.H.I., Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, menekankan bahwa peran Ma’had Aly sebagai lembaga pendidikan tinggi berbasis pesantren dan turats Hadis sangat krusial dalam merespons tantangan zaman.

Baca Juga: Usung Tema “Eko-Sunnah”, 150 Santri Pilihan Nasional Siap Beradu Argumen di Mahad Aly Hasyim Asy’ari

“Sebagai Perguruan Tinggi studi Hadis berbasis Turats di Indonesia, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari memiliki tanggung jawab besar untuk menunjukkan relevansi keilmuan Islam klasik terhadap persoalan masa kini. MUTUN adalah upaya untuk mendobrak stigma bahwa Hadis hanya berkutat pada ritual dan sejarah semata,” terang Kiai Roziqi.

Beliau menambahkan, “justru di sinilah kita membuktikan bahwa Turats Nabawi adalah sumber ilmu pengetahuan dan etika yang abadi, mampu memberikan panduan konkret, misalnya tentang bagaimana umat Islam harus berperan aktif menjaga lingkungan dari kerusakan. Kami ingin menghasilkan ulama-ulama Hadis yang bukan hanya hafal sanad dan matan, tetapi juga peka terhadap krisis kemanusiaan dan ekologi global,” tegas Dr. Roziqi.

Rangkaian Acara Pra-Muktamar: Membangun Kesadaran dan Fiqh Lingkungan

Sebelum puncak Konferensi Internasional pada 13-14 Desember, MUTUN 2025 telah menyusun serangkaian kegiatan pra-muktamar yang mendalam. Rangkaian ini dirancang sebagai proses sistematis untuk membangun landasan keilmuan dan spiritual yang kuat, guna memastikan hasil Muktamar memiliki akar yang mendalam dalam tradisi pesantren dan Hadis.

6 Desember 2025: Literasi Keuangan Syari’ah dan Pembangunan Berkelanjutan

Sesi ini menggali bagaimana prinsip-prinsip Keuangan Syari’ah (Islamic Finance) dan menegaskan pentingnya integrasi antara keilmuan turats dan kecakapan finansial dalam kehidupan modern.

Baca Juga: Ma’had Aly Gandeng Pegadaian, Seminar Literasi Keuangan Jadi Pembuka MUTUN 2025

Dr. Roziqi menjelaskan bahwa setiap individu memiliki potensi untuk sukses secara finansial, sebagaimana diteladankan para tokoh dalam tradisi hadis. Ia mencontohkan Sayyiduna Anas bin Malik, sahabat Nabi yang dikenal sebagai salah satu perawi hadis terbanyak dan juga dikaruniai kekayaan yang melimpah.

11 Desember 2025: Bahtsul Masa’il al-Haditsiyah tentang Isu Lingkungan

Ini adalah sesi inti yang mencerminkan tradisi akademik pesantren. Bahtsul Masa’il akan secara spesifik membahas isu-isu lingkungan kontemporer. Adapun tema pembahasan pada acara kali ini yaitu Hilirisasi Sumber Daya Alam, UU Cipta Kerja Melemahkan Perlindungan Lingkungan Hidup, Green Wakaf, dan Hifdzul Bi’ah dalam Maqashid Syari’ah.

12 Desember 2025: Pengumpulan dan Khataman Hadis-Hadis Lingkungan

Aktivitas ini menggabungkan aspek spiritual dan edukasi. Para Mahasantri berpartisipasi dalam pengumpulan, penyaringan, dan pembacaan Hadis-Hadis Nabi yang secara eksplisit membahas pentingnya menjaga alam, larangan merusak lingkungan, dan etika dalam menggunakan air. Puncak acara ini adalah Khataman sebagai penegasan komitmen spiritual Ma’had Aly dan Pesantren Tebuireng terhadap pelestarian lingkungan yang diilhami langsung dari ajaran Nabi.

Rangkaian Pra-Muktamar ini merupakan persiapan intelektual dan spiritual yang krusial, memastikan bahwa hasil Konferensi Internasional pada 13-14 Desember tidak hanya didukung oleh argumentasi ilmiah modern, tetapi juga memiliki sandaran yang kokoh pada Turats Nabawi.

13-14 Desember 2025: Konferensi Internasional Eko-Sunnah

Di sinilah puncak kegiatan MUTUN 2025. Ulama dan akademisi dari berbagai negara akan memaparkan penelitian terkait hadis lingkungan, metodologi turats, ekonomi hijau berbasis syariah, dan implementasi Eko-Sunnah dalam agenda SDGs.

Narasumber dan Peserta Terkemuka

Agenda berskala internasional ini akan melibatkan para ulama, akademisi, peneliti hadits, serta mahasiswa dan santri dari berbagai pesantren dan perguruan tinggi, baik dari dalam maupun luar negeri.

Para pemateri yang hadir, selain dari Indonesia, ada juga dari Mesir, Maroko, dan Amerika. Begitu pula para penulis yang sudah mengirimkan tulisan, tak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari Malaysia, Mesir, Libya, India, dan Pakistan.

Panitia menyebut sejumlah pembicara dari Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Afrika akan hadir sebagai narasumber. Selain itu, beberapa lembaga riset internasional juga telah menyatakan minat berkolaborasi dalam proyek lanjutan selepas MUTUN. Beberapa pembicara yang akan hadir yaitu:

Prof. Dr. Mariam Ait Ahmed (Professor in Islamic Civilization at University Ibn Tufail, Maroko)
Syaikh Dr. Muhammad bin Yahya al-Ninowy (Founer Madina Intitute, USA)
Syaikh Ahmad Muhammad Mabruk al-Husayni (Ra’īs bi’that al-Azhar al-Sharīf fī Indūnīsiyā)
KH. Ulil Abshar Abdalla, M.A. (Pesantren and Environment Analyst, Indonesia)
Prof. Dr. Khamim, M.Ag. (Professor in ‘Ulum al-Hadith at Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Indonesia)
Dr. Ahmad ‘Ubaydi Hasbillah, MA.Hum. (Director of M2, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Indonesia)

Kehadiran para pakar ini diharapkan dapat menghasilkan pemikiran-pemikiran konstruktif dan solusi berbasis nilai-nilai agama untuk tantangan lingkungan hidup kontemporer.



Penulis: Fauzul Adhim
Editor: Rara Zarary