KABAR

54
Sebuah ilustrasi perempuan yang menunggu (gambar: ai/albi)

Aku masih mengingat hari pertama bertemu Kanza bukan karena ia seseorang yang istimewa, melainkan karena ia datang ke hidupku seperti angin, membawa harapan yang kemudian berubah menjadi luka. Aku, Andini, anak dari buruh pabrik yang setiap hari berangkat sebelum subuh dan pulang ketika langit sudah gelap. Hidup kami tidak mewah, tetapi penuh kasih dan kerja keras. Mereka menyekolahkanku hingga gelar sarjana melekat di belakang namaku sesuatu yang bahkan dulu kupikir hanya mimpi.

Di kampus, aku bertemu Kanza. Anak dari keluarga pedagang emas kota seberang. Hidupnya penuh kemudahan dan keanggunan yang tak perlu diperjuangkan. Kami dekat, perlahan tapi pasti. Hingga suatu hari ia mengatakan hal yang tak pernah kubayangkan.

“Andini,” katanya dengan suara pelan, “aku menyukaimu.”

Aku tertawa saat itu, menertawakan diriku sendiri, menertawakan imajinasi yang bahkan tak pernah kubangun. Aku menatapnya dan berkata jujur.

“Aku Cuma anak buruh, Kanza. Jangan bercanda.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun ia menatapku dengan sungguh-sungguh, seolah dunia berhenti.

“Bagiku kau bukan siapa orang tuamu, tapi bagaimana kau menjadi dirimu.”

Kalimat itu indah. Terlalu indah bahkan hingga sekarang aku tahu, kalimat manis kadang lebih berbahaya daripada racun.

Lama setelah itu, hubungan kami makin dekat. Sampai akhirnya kebenaran muncul. Ibunya mengetahui keberadaan ku. Dan kalimat ibunya menancap di kepalaku seperti pisau tumpul.

“Kanza! Kamu itu anak dari keluarga terpandang! Apa kata orang kalau kamu membawa pulang… seseorang yang tak sekelas dengan kita?”

Aku berdiri di balik pintu saat kalimat itu meluncur. Tubuhku seperti membeku. Bukan karena kaget, tapi karena kalimat itu seperti menegaskan apa yang diam-diam selama ini aku takutkan: aku tidak pantas di matanya. Di mata mereka.

Kanza mencoba melawannya. Tapi pada akhirnya, keberaniannya runtuh di hadapan ketakutan pada gengsi. Ia memilih diam, dan dalam diam itu aku paham: aku kalah bukan karena aku tak cukup baik, tapi karena aku tak cukup berharga di mata keluarganya.

Beberapa bulan setelah itu, ia menghilang. Tanpa kabar. Tanpa penjelasan. Hingga suatu hari sebuah pesan muncul:

“Din… aku tunangan. Kamu datang ya? Aku ingin kamu ada.”

Aku menatap pesan itu lama. Hati ini bukan lagi sakit, tapi mati rasa. Aku tak pernah membalas. Dan tentu, aku tidak datang.

atu tahun berlalu. Aku belajar, bekerja, bertumbuh. Bukan karena ingin membuktikan apa-apa, tapi karena hidup harus berlanjut. Tiba-tiba pesan itu datang lagi.

“Andini, kamu apa kabar?”

Aku menatap layar ponselku dan jantungku berdegup tidak nyaman. Ini bukan rindu. Ini ketakutan. Ketakutan jatuh ke lubang yang sama.

Aku tidak membalas.

Pesan kedua datang.

“Kok kamu diam? Masa kita nggak bisa jadi teman lagi?”

Pesan ketiga.

“Aku Cuma ingin tahu kabarmu.”

Dan akhirnya satu pesan panjang yang seperti jeritan:

“Aku merindukanmu.”

Aku menutup HP itu seolah benda itu bisa membakar tanganku. Aku memblokir nomornya malam itu juga. Dan hidupku kembali tenang.

Tiga tahun kemudian, setelah semua masa kuliah selesai, setelah hidupku jauh lebih stabil, setelah aku mulai mencintai diriku dan masa depanku, pesan lain datang kali ini dari Facebook.

“Din… aku harap kamu baca.”

Aku mengabaikannya selama tiga hari. Lalu akhirnya membalas.

“Kanza, sudah cukup. Kamu sudah bahagia dengan hidupmu. Aku mohon, jangan ganggu lagi.”

Tidak sampai lima menit, ia membalas.

“Andini… aku sudah bercerai.”

Aku terdiam.

Pesan berikutnya datang seperti air bah.

“Aku salah karena membiarkan gengsi menguasai aku dan keluargaku. Aku salah menyerah. Aku salah membiarkanmu pergi. Aku masih ingat janji-janji yang pernah kubuat untuk kita. Aku tahu kamu mungkin tidak percaya. Tapi aku ingin satu kesempatan lagi. Satu saja.”

Aku membaca pesannya berulang kali. Ada getir, ada amarah, ada sedikit kepuasan kecil yang tak mau kuakui… dan ada luka lama yang kembali berdarah.

Aku membalas pelan, jujur, dan seperlunya.

“Kanza. Kamu bukan hanya menghina aku tapi menghina kedua orang tuaku yang bekerja keras supaya aku bisa punya masa depan. Kamu meremehkan keluarga yang hanya punya kehormatan sebagai harta. Dan kamu ingin aku kembali ke masa itu?”

Ia membalas cepat.

“Aku berubah, Din… aku mohon. Aku ingin memperbaiki semuanya.”

Aku menghela napas, panjang.

“Kamu terlambat.”

Lalu kublokir dia untuk terakhir kalinya.

Kini, bertahun-tahun kemudian, aku bisa tersenyum ketika mengingat itu semua. Kadang aku bertanya dalam hati apakah itu karma? Atau kehidupan hanya sedang memberi pelajaran bahwa cinta yang dibangun di atas selisih kasta, gengsi, dan ketidakberanian tak akan pernah bertahan?

Yang jelas, aku bersyukur.

Bukan karena dia kehilangan.

Tapi karena aku berhasil memilih diriku sendiri.



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary