Oleh: Almara Sukma Prasintia*

Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang seorang muslim berhadapan dengan hal yang menurut fikih dianggap sebagai perkara yang najis, yang apabila perkara tersebut mengenai suatu barang bisa menyebabkan hukum yang tidak senilai. Misalnya, baju yang terkena kotoran ikan, kemudian baju tersebut digunakan untuk shalat, maka sholatnya tidak sah karena pakaian yang digunakan tidak suci. Contoh yang lain, misalnya ada air suci kemudian terkena darah, maka air tersebut menjadi najis atau tidak suci.

Secara syara’ najis adalah sesuatu yang diharamkan untuk digunakan atau dikonsumsi. Seperti, darah, nanah, bangkai hewan (kecuali belalang dan ikan) dan masih banyak lagi. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), najis adalah segala sesuatu yang dianggap kotor yang menjadi sebab terhalangnya seseorang beribadah kepada Allah SWT.

Najis ma’fu adalah najis yang secara hukum dimaafkan karena kadar najis tersebut terlalu sedikit. Macam-macam najis ma’fu (dimaafkan) terbagi menjadi empat bagian. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam As-Suyuthi dalam kitab Al-Asybah wa al-Nadha’ir,

 ثَانٍ مَا يُعْفَى عَنْهُ مِنْ النَّجَاسَةِ أَقْسَامٌ

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

أَحَدُهَا: مَا يُعْفَى عَنْهُ فِي الْمَاءِ وَالثَّوْبِ وَهُوَ: مَا لَا يُدْرِكُهُ الطَّرْفُ وَغُبَارُ النَّجِسِ الْجَافِّ وَقَلِيلُ الدُّخَانِ وَالشَّعْرِ وَفَمُ الْهِرَّةِ وَالصِّبْيَانِ. وَمِثْلُ الْمَاءِ: الْمَائِعُ وَمِثْلُ الثَّوْبِ: الْبَدَنُ

الثَّانِي: مَا يُعْفَى عَنْهُ فِي الْمَاءِ وَالْمَائِعِ دُونَ الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَهُوَ الْمَيْتَةُ الَّتِي لَا دَمَ لَهَا سَائِلٌ وَمَنْفَذُ الطَّيْرِ وَرَوْثُ السَّمَكِ فِي الْحُبِّ وَالدُّودُ النَّاشِئُ فِي الْمَائِعِ.

الثَّالِثُ: عَكْسُهُ، وَهُوَ: الدَّمُ الْيَسِيرُ وَطِينُ الشَّارِعِ وَدُودُ الْقَزِّ إذَا مَاتَ فِيهِ: لَا يَجِبُ غَسْلُهُ صَرَّحَ بِهِ الْحَمَوِيُّ وَصَرَّحَ الْقَاضِي حُسَيْنٌ بِخِلَافِهِ

الرَّابِعُ: مَا يُعْفَى عَنْهُ فِي الْمَكَانِ فَقَطْ، وَهُوَ ذَرْقُ الطُّيُورِ فِي الْمَسَاجِدِ وَالْمَطَافِ كَمَا أَوْضَحْتُهُ فِي الْبُيُوعِ وَيُلْحَقُ بِهِ مَا فِي جَوْفِ السَّمَكِ الصِّغَارِ عَلَى الْقَوْلِ بِالْعَفْوِ عَنْهُ لِعُسْرِ تَتَبُّعِهَا وَهُوَ الرَّاجِحُ.

[السيوطي، الأشباه والنظائر للسيوطي، صفحة٣٣٢- ٤٣٣]

  1. Najis yang dima’fu di air dan baju. Yaitu; najis yang tidak terlihat pandangan mata, debu najis yang kering, sedikit asap, rambut, mulutnya kucing dan bayi. Yang semisal air adalah benda cair, dan yang semisal baju adalah badan. Contohnya: kucing minum di suatu gelas atau gentong, maka sisa air tersebut tetap dinilai suci, tidak najis.
  2. Najis yang dima’fu di air dan benda cair tapi tidak dima’fu di baju dan badan. Yaitu; bangkai hewan yang tidak mempunyai darah mengalir, lubang kotoran burung, kotoran ikan, dan cacing yang muncul dalam benda cair. Seperti: bangkai lalat atau semut.
  3. Kebalikan bagian yang kedua, dima’fu di baju dan badan tapi tidak dima’fu di air dan benda cair, yaitu; darah sedikit, tanah jalanan, ulat sutera jika mati di dalamnya maka tidak wajib membasuhnya sebagaimana penjelasan al-Hamawy, sedangkan penjelasan Qodhi Husain adalah sebaliknya. Contohnya: ada sedikit darah yang menempel di baju, maka baju tersebut tetap suci sehingga boleh dibawa shalat dan lain sebaginya. Namun jika darah yang sedikit tersebut jatuh ke dalam air, maka air tersebut menjadi najis.
  4. Najis yang dima’fu pada tempat saja, yaitu kotoran burung di masjid dan tempat thawaf, dan disamakan dengannya yaitu sesuatu yang berada dalam perut ikan yang kecil. Najis ini dima’fu jika hanya mengenai tempat tertentu. Namun jika mengenai air, cairan, badan atau baju, maka tidak dima’fu.

Masalah ini kelihatannya masalah sepele akan tetapi masalah ini bisa menjadi masalah yang besar dan berdampak besar pula apabila diabaikan, karena berhubungan dengan sah atau tidaknya suatu ibadah yang dilakukan. Hal ini perlu diketahui oleh setiap muslim mengingat perkara ini sangat sering bersinggungan dalam kehidupan sehari-hari.

Wallahu a’lam.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaApa Sebenarnya Hakikat Amalan Sunnah?
Berikutnya13 Adab Murid Terhadap Pelajarannya Menurut Kiai Hasyim Asy’ari