Oleh: Minahul Asna*

Pelaksanaan amal sunnah sering menjadi hal yang dianggap remeh oleh masyarakat. Ada anggapan bahwa amal sunnah ialah hanya pelengkap amal wajib. Namun, apakah benar seperti itu? Amalan sunnah yang kita kerjakan adalah salah satu bentuk kepatuhan kita. Jika kita bawa logika sederhananya adalah amal sunnah saja dilakukan, apalagi yang wajib. Pengamalan amal sunnah juga membawa semangat yang lebih terhadap amal wajib, begitu juga ketika kita istikamah mengerjakan amal sunnah maka rasa enggan kita untuk meninggalkan amal wajib akan meningkat. Namun poin di sini bukanlah keutamaan amal sunnah di atas amal wajib.

Sebuah pemahaman dasar bahwa amal wajib tidak akan bisa digantikan oleh amal sunnah. Contohnya niat puasa ramadhan yang bersifat wajib tidak bisa digabung dengan niat puasa sunnah hari Senin, jadi amal sunnah tetap bukanlah amal yang bisa menghilangkan kewajiban. Dengan pemahaman ini, pelaksanaan amal sunnah harus tidak meninggalkan amal wajib. Di pesantren kami, Tebuireng, para guru sering mengingatkan bahwa belajar itu wajib karena dengan mencari ilmu kita bisa melakukan sesuatu dengan baik (jika memang puasa tirakat mengurangi kadar kesungguhan belajar kita atau mengganggu belajar maka lebih baik tidak puasa). Masih banyak tirakat atau riyadhoh yang bisa menggantikannya dan tidak mengganggu proses belajar kita.

“Tidak halal bagi seorang isteri untuk berpuasa (sunnah), sedangkan suaminya ada kecuali dengan izinnya.” (HR. Bukhori No. 5195 dan Muslim no. 1026 lafadz di atas adalah lafadz Bukhari)

”Siapa membenci sunnahku, bukan golonganku.” (HR. Bukhari No. 5063 dan Muslim No.1401])

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dari dua dalil di atas terdapat perbandingan bahwa amal sunnah tidak bisa didahulukan di atas amal wajib namun amal sunnah adalah sebagai sarana kita untuk membuktian bahwa kita pantas menjadi umat Nabi Muhammad SAW. Maka dari itu Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathul Bari’ “Siapa yang tersibukkan dengan yang wajib dari yang sunnah dialah orang yang patut diberi udzur. Sedangkan siapa yang tersibukkan dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar benar tertipu.” (Fath Al Bari, 11: 343)

Amal sunnah bukan hal yang berat bahkan sangat ringan dan sangat banyak jenisnya. Ajaran Nabi meliputi seluruh aspek kehidupan. Garis besar dalam amal sunnah ialah bukan hal sempit seperti masalah ibadah mahdhah saja, ibadah ghairu mahdhah seperti berbuat baik, menjamu tamu, menghormati makhluk Allah sesama maupun selain manusia. Penghargaan Nabi terhadap kemanusiaan pun juga termasuk sunnah beliau.

Melaksanakan sunnah Nabi bukan hal yang berat, namun juga bukan hal yang bisa kita remehkan. Memahami dengan sempit mengenai sunnah Nabi bisa membatasi kita untuk meninggalkan kewajiban kita sebagai santri kepada kiai, masyarakat kepada pemimpin,  manusia kepada manusia, bahkan manusia sebagai sosok Khalifatul Ardh.

Wallahu A’lam

*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaIbu Nyai Farida Ajak Lulusan SLTA untuk Bergabung di UNHASY
BerikutnyaMacam-macam Najis yang Dimaafkan