Pertemuan pihak Mahad Aly se Jawa Timur di Malang, Rabu-Kamis (18-19/11). (foto: Nun/tebuireng.online)

Tebuireng.online– Lembaga Pengembangan Pendidikan Diniyah Jawa Timur (LPPD Jatim) mengadakan acara pengembangan dan pembinaan Ma’had Aly di Harris Hotel, Malang. Acara ini diikuti seluruh Ma’had Aly yang ada di Jawa Timur dengan masing-masing 2 delegasi tiap lembaga dan berlangsung selama dua hari, Rabu – Kamis (18-19/11/).

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur‎, H. Ahmad Zayadi, menyampaikan materi tentang distingsi dan harapan untuk Ma’had Aly. Penguatan moderasi beragama dan merawat tradisi pesantren merupakan garapan utama Ma’had Aly.

Dakwah melalui media sosial merupakan suatu keharusan di zaman ini. Beliau bersyukur banyak pesantren yang sudah aktif di media sosial di bulan Ramadan kemarin. ‎

“Ketika pesantren menguasai medsos, yang lain diam,” tutur Ahmad Zayadi.

Pembangunan infrastruktur keagamaan itu sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur yang lain. Di pesantren sebelum belajar tauhid, fikih, dan yang lainnya harus diawali dengan akhlak, adab, dan etika.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Sebelum ilmu, akhlak dulu diperkuat,” paparnya.

Di Indonesia ada 3 model pendidikan, yakni pendidikan umum, pendidikan umum berciri khas Islam, dan pendidikan pesantren. Pendidikan umum itu di antaranya SD, SMP, SMA, dan Universitas umum seperti Universitas Gajah Mada. Pendidikan umum berciri khas Islam di antaranya MI, MTs, MA, dan Universitas Islam seperti UIN Sunan Ampel. Sedangkan pendidikan pesantren seperti Diniyah Formal atau Muadalah dan Ma’had Aly.

Ma’had Aly harus lahir dari pesantren dan kajian utamanya adalah kitab kuning. Masjid Al Akbar Surabaya ingin mendirikan Ma’had Aly tetapi tidak bisa karena bukan pesantren. Walaupun banyak akademisi atau profesor yang turut berkontribusi di dalamnya tetap tidak bisa. Akhirnya didirikan sekolah tinggi di sana.

Dalam kondisi pandemi ini guru pesantren sudah menghasilkan 3 ribu e-learning. Ini merupakan adaptasi pesantren terhadap kondisi terkini. Selain merawat tradisi Islam, pesantren juga harus menghadapi revolusi industri 4.0.
Pewarta: Nun

SebelumnyaPeran Generasi Muda dari Komunitas Mahasiswa Bidikmisi
BerikutnyaWaspadai 5 Godaan Penghafal Al-Quran, Ini Solusinya