Tas Merah Muda Kesayangan Ustadzah

10
Ilustrasi kisah ustadzah dan tas kesayangannya

Kehidupan di pondok pesantren memang padat. Sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat, para santri disibukkan dengan berbagai kegiatan yang mengajarkan mereka untuk pandai mengatur waktu. Mulai dari salat tahajud, salat Subuh berjamaah, membaca amalan, setoran hafalan, bersekolah, hingga berbagai kegiatan lainnya yang hampir tak pernah berhenti.

Hari Ahad itu menjadi hari yang, menurut Diah, sangat sial.

Seusai salat Zuhur berjemaah merupakan waktu istirahat bagi para santri, termasuk Diah. Baginya, daripada menghabiskan waktu siang dengan mengobrol, lebih baik digunakan untuk tidur. Sebab, setelah salat Asar masih ada kegiatan membaca amalan rutin pesantren yang dilanjutkan dengan nderesan.

Diah Ayu merupakan salah seorang ustadzah tahfidz tingkat Tsanawiyah. Selain itu, ia juga menjabat sebagai pengurus bagian Mudarrosah. Tak heran jika ia sangat disegani oleh para santri.

Ketika terbangun dari tidur siang, Ustadzah Diah teringat bahwa kerudungnya belum dicuci. Kerudung itu terkena najis kucing sehingga harus segera disucikan. Ia pun bergegas menuju kamar mandi untuk mencucinya. Setelah selesai, kerudung itu langsung dijemurnya di lantai empat, tempat khusus menjemur pakaian para santri.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sebelum tidur siang, Ia juga sempat mencuci tas ransel berwarna merah muda kesayangannya.

Letak tempat menjemur kerudung dan tas memang sedikit berjauhan. Saat hendak menjemur kerudung, Diah melihat seorang santri yang juga sedang menjemur pakaian.

Sepertinya aku mengenalnya, batinnya.

Benar saja. Santri itu adalah salah seorang murid setoran hafalannya, Ratna.

Ratna tidak menyapanya. Padahal, pandangan mereka sempat bertemu.

Mungkin dia sungkan, pikir Diah, mencoba berprasangka baik.

Selesai menjemur, Diah kembali ke kamar. Ia mengaji sejenak sambil menunggu azan Asar. Setelah azan berkumandang, ia berwudu dan melaksanakan salat Asar berjemaah.

Dalam kekhusyukannya, Diah memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya serta memohon agar seluruh hajatnya dimudahkan Allah Swt.

Usai salat, ia segera mempersiapkan kegiatan pembacaan amalan. Sebagai pengurus, tentu ia harus lebih siap dibandingkan santri lainnya.

Diah kemudian mengingatkan para santri agar segera menuju musala karena pembacaan amalan akan segera dimulai.

Setelah pembacaan amalan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan nderesan sebagai persiapan setoran ziyadah ba’da Isya.

Namun, sebelum mengikuti nderesan, Diah iseng naik ke lantai empat untuk memastikan tas merah muda kesayangannya masih tergantung di tempat semula. Saat menjemur kerudung tadi, ia lupa memeriksa apakah tas itu masih ada.

Sesampainya di lantai empat, Diah langsung menuju tempat ia menjemur tas tersebut.

Namun…

Tas itu sudah tidak ada.

Ia mencari ke sekeliling balkon lantai empat.

“Tidak mungkin terbang, kan?” gumamnya pelan.

“Astaghfirullah… siapa yang mencuri tasku?”

Panik mulai menguasai dirinya. Tas itu bukan sekadar tas biasa. Selain merupakan barang kesayangannya, harganya juga cukup mahal.

Sebenarnya, Diah enggan mencuci tas itu sendiri. Ia lebih memilih menggunakan jasa laundry. Namun, menurutnya, hasil cucian laundry terkadang kurang bersih sehingga ia memutuskan mencucinya sendiri.

Ia sudah berulang kali mengelilingi lantai empat, tetapi hasilnya tetap nihil.

Akhirnya Diah memutuskan untuk mengikuti kegiatan nderesan terlebih dahulu. Saat menuruni anak tangga, ia bertemu dengan dua santri yang merupakan murid setorannya, yaitu Sari dan Ana.

“Sari, Ana, saya mau minta tolong. Barangkali sampean melihat tas merah muda saya. Tas ransel ukuran sedang, tidak besar dan tidak juga kecil, merek Hypro,” ujar Diah sambil berusaha tetap tenang.

“Enggeh, siap, Ustadzah. Nanti kalau kami melihatnya, kami langsung mengabari panjenengan,” tutur Sari.

“Terima kasih, ya,” ucap Diah sebelum melanjutkan langkahnya.

“Sama-sama, Ustadzah.”

Namun, selama mengikuti nderesan, hati Diah dipenuhi rasa bingung, cemas, dan gelisah. Pikirannya terus tertuju pada tas kesayangannya yang hilang.

Karimah, teman sekamar Diah, memperhatikan gelagatnya yang tampak tidak seperti biasanya. Ia pun menghampiri Diah dan menanyakan apa yang terjadi. Akhirnya, Diah menceritakan seluruh kejadian yang baru saja dialaminya.

Tidak lama kemudian, Sari dan Ana kembali menghampiri Diah.

“Ustadzah, sepertinya kami menemukan pelakunya. Tadi dia baru saja membawa masuk tas dengan ciri-ciri yang Ustadzah sebutkan,” ujar Ana.

“Astaghfirullah. Kalian yakin tas itu sesuai dengan ciri-ciri yang saya sebutkan?” tanya Diah dengan nada panik.

“Iya, Ustadzah. Ustadzah pasti tidak menyangka kalau yang membawanya adalah Ratna,” ujar Sari sambil berbisik pelan.

“Ya Allah, kalian pasti salah lihat. Tidak mungkin Ratna seperti itu orangnya,” ucap Diah penuh ketidakpercayaan.

“Ayo, Ustadzah, kita ke kamarnya saja. Tasnya digantung di atas dan sepertinya masih agak basah,” ajak Sari.

“Ya sudah, ayo. Karimah, tolong temani aku, ya,” pinta Diah.

“Iya, Diah. Tenang saja,” jawab Karimah.

Mereka pun bersama-sama menuju kamar Ratna. Sepanjang perjalanan, Diah bercerita kepada Karimah bahwa saat menjemur kerudungnya, ia sempat berpapasan dengan Ratna. Meski demikian, ia masih tidak percaya bahwa muridnya itulah yang diduga mengambil tas tersebut.

Sesampainya di kamar Ratna, benar saja, tas yang tergantung di sana adalah milik Diah. Meskipun pada awalnya Ratna tetap tidak mau mengaku dan bersikeras bahwa tas itu miliknya, Diah sangat mengenali tas kesayangannya tersebut.

“Itu tas saya, Ustadzah. Saya baru mencucinya tiga hari yang lalu, tapi belum kering,” ucap Ratna sambil menundukkan kepala.

“Bohong kamu. Kalau dijemur selama tiga hari, pasti sudah kering, apalagi bahan tas ini tidak terlalu tebal. Lihat, tas ini masih basah, Ratna. Astaghfirullah, kok bisa kamu berperilaku seperti ini?” ujar Diah dengan nada kecewa dan kesal.

Akhirnya, Diah mengambil kembali tasnya. Meskipun ia merasa lega karena tas kesayangannya telah kembali, tetap saja ia tidak menyangka bahwa Ratna, murid setoran yang selama ini dikenal sebagai anak baik dan tidak pernah bermasalah, justru menjadi sumber masalah yang menimpanya hari itu.

Setelah kejadian tersebut, Diah melaporkannya kepada pihak pondok agar perbuatan yang tidak patut dicontoh itu dapat ditindaklanjuti sesuai dengan peraturan yang berlaku.